TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Universitas Terbuka (UT) Serang mengambil langkah strategis dalam memperkuat perannya sebagai agen pembangunan wilayah dengan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Hasil Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dalam kerangka skema Equity – World Class University (WCU) 2026, pada Kamis, 25 Juni 2026 di Hotel Wisata Baru, Kota Serang, Provinsi Banten.
Kegiatan yang berlangsung selama lima jam penuh, dari pukul 09.00 hingga 14.00 WIB, ini menjadi salah satu forum lintas pemangku kepentingan paling komprehensif yang pernah diselenggarakan oleh perguruan tinggi di wilayah Banten.
Bertema besar "Penguatan Potensi Lokal Kota dan Kabupaten Serang", kegiatan ini didanai sepenuhnya oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui skema Equity–WCU 2026, sebagai bukti nyata bahwa agenda pemberdayaan ekonomi lokal berbasis riset perguruan tinggi kini mendapat perhatian serius di tingkat nasional.
Forum ini berhasil mempertemukan Pemerintah Provinsi Banten, pemerintah kota dan kabupaten, asosiasi profesi, akademisi lintas perguruan tinggi, pelaku UMKM, hingga aparat kewilayahan dalam satu meja diskusi yang terstruktur.
Sebuah pendekatan bottom-up yang jarang terwujud namun sangat dibutuhkan dalam perencanaan program pengabdian masyarakat yang relevan dan berdampak.
Kegiatan ini secara khusus menyasar lima sektor yang menjadi tulang punggung pembangunan Banten: pertanian dan ketahanan pangan, perikanan, pendidikan, pariwisata dan perhotelan, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Hasil FGD ini dirancang untuk menjadi acuan utama perumusan proposal PkM dosen UT kedepannya, sekaligus memperkuat sinergi antara UT Serang, LPPM UT Pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat Banten.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pemangku kepentingan strategis dari berbagai instansi pemerintah, akademisi, serta pelaku usaha di Provinsi Banten. Hadir memberikan kontribusi pemikiran para pimpinan dan perwakilan dari instansi teknis, di antaranya Bapak Dr. Nasir, S.P., M.B.A., M.P., selaku Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten merangkap Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten; Ibu Andriyani, S.P., M.Si., selaku Kepala Bidang Pertanian dan Penyuluhan DKP3 Kota Serang yang mewakili Kepala DPK3 Kota Serang; serta Ibu Noor Amalia, S.Pi., MM., selaku Analis Akuakultur Ahli Muda DKP3 Kabupaten Serang yang mewakili Kepala DKP3 Kabupaten Serang.
Baca juga: Universitas Terbuka Hadirkan Era Baru Literasi di Pandeglang : Resmikan Taman Bacaan Masyarakat
Sektor pendidikan turut diwakili oleh kehadiran Bapak Doddy Irawan, S.T., M.Si., selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak; Bapak Dr. H. Edi Junaedi, M.Pd., selaku Kepala Seksi Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Serang yang mewakili Kepala Dinas; serta Bapak Dr. Cecep Nikmatullah, M.Pd.I., selaku Penelaah Kebijakan Dinas Pendidikan Kota Serang yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kota Serang. Selain itu, hadir pula Bapak Dr. H. Sutoto, S.Pd., M.Si., selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang.
Dalam kapasitas sebagai penyelenggara, kegiatan ini dipimpin oleh Direktur Universitas Terbuka Serang, Bapak Dr. Ajat Sudrajat, M.Pd., dengan menghadirkan narasumber serta pakar dari perguruan tinggi terkemuka, yakni Bapak Dr. Ujang Jamaludin, S.Pd., M.Si., M.Pd., dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) dan Bapak Dr. Encep Supriatna, M.Pd., dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Selain itu, forum ini juga diperkuat dengan keterlibatan unsur pemerintah daerah setempat melalui kehadiran Bapak H. Basuni, S.Sos., M.Si., selaku Camat Serang serta Bapak/Ibu Lurah di wilayah Kota dan Kabupaten Serang.
Sektor industri dan kewirausahaan turut memberikan perspektif nyata dengan hadirnya Bapak Ashok Kumar selaku Ketua Asosiasi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Banten, didampingi oleh perwakilan pelaku UMKM dari wilayah Kota dan Kabupaten Serang.
Kehadiran seluruh peserta FGD dan tamu undangan yang berbahagia ini menjadi elemen krusial dalam membangun sinergi komprehensif bagi pembangunan Banten yang lebih baik di masa depan.
Sebagai motor penggerak kegiatan ini, Dr. Ajat Sudrajat, M.Pd. menegaskan visi besar yang melatarbelakangi penyelenggaraan FGD dan Diseminasi Hasil PkM ini.
Menurutnya, Provinsi Banten menyimpan kekayaan potensi lokal yang luar biasa, mulai dari kuliner khas hingga kerajinan tangan, namun potensi-potensi tersebut masih jauh dari kata optimal dalam hal pengemasan, strategi pemasaran, dan penetrasi pasar.
Dr. Ajat menekankan bahwa tugas perguruan tinggi bukan hanya menghasilkan ilmu di atas kertas, melainkan menerjemahkan kepakaran akademik menjadi solusi konkret bagi masyarakat.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan dunia usaha dinilainya sebagai kunci utama agar produk-produk lokal Banten tidak sekadar bertahan sebagai komoditas lokal, tetapi mampu menembus pasar nasional dan internasional.
"Masih banyak potensi lokal kita yang belum tergarap secara maksimal. Produk seperti gipang, rengginang, sate bandeng, dendeng, hingga kerajinan golok khas Banten memiliki nilai luar biasa jika dikemas dengan strategi yang tepat," ujarnya.
Kehadiran langsung Prof. Dra. Dewi Artati Padmo Putri, M.A., Ph.D. selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Terbuka di forum ini menjadi sinyal kuat komitmen institusional UT Pusat dalam mendukung program pengabdian berbasis kebutuhan daerah.
Guru besar UT ini memberikan apresiasi tinggi kepada tim pelaksana yang dipimpin Dr. Ajat Sudrajat atas keberhasilan mengorkestrasi forum multi-pemangku kepentingan yang kompleks ini.
Ia secara khusus menggarisbawahi pentingnya tindak lanjut terstruktur atas seluruh rekomendasi yang lahir dari FGD, agar tidak berhenti pada wacana semata tetapi benar-benar menjadi peta jalan yang implementatif bagi program PkM dosen UT periode mendatang.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada LPDP atas dukungan pendanaan melalui skema Equity–WCU 2026 yang memungkinkan kegiatan ini terwujud.
"Mudah-mudahan apa yang tadi dibahas dalam kegiatan FGD dan Diseminasi Hasil PkM skema Equity–WCU 2026 dapat dibuat daftarnya secara konkret, sehingga ke depan bisa menjadi acuan dasar bagi program-program pengabdian kepada masyarakat pada waktu-waktu yang akan datang," ungkapnya.
Kehadiran Dr. Nasir yang mewakili pemerintahan provinsi menjadi bukti kuat bahwa pemerintah provinsi menaruh perhatian serius terhadap agenda ketahanan pangan dan modernisasi pertanian ini.
Dalam paparannya, Nasir mengidentifikasi lima persoalan mendesak di sektor pertanian Banten yang membutuhkan intervensi akademik: tingginya laju konversi lahan pertanian produktif menjadi kawasan perumahan dan industri yang mengancam ketersediaan pangan, rendahnya minat generasi muda terjun ke sektor pertanian modern, kesenjangan kompetensi penyuluh pertanian di lapangan, ancaman organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan perubahan iklim terhadap siklus panen, serta rendahnya nilai tukar petani akibat manajemen usaha yang belum mandiri.
Meski mengakui ketersediaan pangan di Banten saat ini masih dalam kondisi cukup, Nasir menegaskan bahwa akselerasi efisiensi dan transformasi sektor pertanian melalui teknologi dan peningkatan SDM tidak bisa lagi ditunda.
Ia membuka peluang kemitraan lebih erat antara Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian Provinsi Banten, dan UT Serang dalam program pengabdian berbasis riset yang dapat diimplementasikan langsung di lapangan.
"Sektor pertanian merupakan salah satu prioritas pembangunan di Provinsi Banten dengan potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Namun, kita masih memerlukan upaya ekstra untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitasnya, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi, inovasi, serta peningkatan kualitas SDM," tuturnya.
Mewakili Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Serang, Noor Amalia, S.Pi., M.M. memaparkan potret sektor perikanan yang masih membutuhkan transformasi mendasar.
Sistem budidaya perikanan di wilayah ini masih banyak yang menggunakan metode tradisional dengan produktivitas rendah dan rentan terhadap serangan penyakit udang maupun ikan.
Di sisi lain, kelemahan dalam hilirisasi produk perikanan menyebabkan banyak hasil tangkapan nelayan yang hanya dijual mentah tanpa nilai tambah yang memadai.
Noor Amalia mendorong UT Serang untuk menginisiasi model Desa Binaan di mana dosen dan mahasiswa dapat melakukan pendampingan intensif mengenai teknologi budidaya modern, manajemen biosekuriti, dan tata kelola kolam yang baik.
Ia juga mengusulkan pelatihan bagi Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) untuk mendorong diversifikasi produk olahan perikanan, seperti frozen food dan produk ikan olahan kreatif, serta peningkatan standar keamanan pangan sebagai prasyarat memasuki pasar yang lebih luas.
"Sektor perikanan budidaya kami masih didominasi metode tradisional. Kami sangat membutuhkan pendampingan teknologi dari perguruan tinggi untuk mendorong modernisasi dan hilirisasi produk perikanan sehingga nelayan dan pembudidaya bisa mendapat nilai tambah yang lebih besar," jelasnya.
Mewakili sektor pertanian di wilayah perkotaan, Andriyani, S.P., M.Si. selaku Kepala Bidang Pertanian dan Penyuluhan pada Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Serang menyoroti persoalan yang spesifik dan mendesak: laju alih fungsi lahan sawah di kawasan perkotaan yang semakin masif, yang secara langsung mengancam kedaulatan pangan lokal di wilayah Kota Serang.
Fenomena ini diperparah dengan keterbatasan lahan produktif yang tersisa di tengah tekanan urbanisasi yang terus meningkat.
Andriyani mendorong UT Serang untuk menginisiasi riset pengembangan konsep "Pertanian Perkotaan" atau Urban Farming sebagai solusi adaptif, sekaligus memberikan rekomendasi kebijakan perlindungan lahan berbasis data GIS kepada pemerintah daerah.
Keterlibatan dosen dan mahasiswa UT dalam program penyuluhan pertanian perkotaan dinilainya akan sangat membantu masyarakat dalam memanfaatkan lahan terbatas secara produktif dan berkelanjutan.
"Alih fungsi lahan sawah di Kota Serang berlangsung sangat cepat. Kami memerlukan kajian ilmiah tentang urban farming dan rekomendasi kebijakan berbasis data untuk menjaga kedaulatan pangan di tingkat kota, dan UT Serang adalah mitra yang tepat untuk itu," terangnya.
Dari sektor pendidikan di tingkat kota, Cecep Nikmatullah, M.Pd.I selaku Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang menyuarakan dua tantangan paling kritis yang dihadapi sistem pendidikan di wilayahnya.
Pertama, kekurangan tenaga pengajar yang signifikan, baik di jenjang sekolah dasar maupun menengah, yang berdampak langsung pada kualitas dan pemerataan layanan pendidikan.
Kedua, masih tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di berbagai wilayah kota akibat kendala ekonomi dan keterbatasan akses.
Cecep mengajukan dua usulan konkret kepada UT Serang: program percepatan kualifikasi akademik guru melalui jalur Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), serta penelitian pemetaan ATS berbasis data spasial untuk mengidentifikasi akar permasalahan per wilayah dan merumuskan model intervensi pendidikan non-formal yang paling relevan.
UT Serang, dengan keunggulan kompetitif dalam sistem pendidikan jarak jauh, dinilai sebagai mitra yang paling ideal untuk menjawab kedua tantangan tersebut.
"Kekurangan guru dan tingginya angka anak tidak sekolah adalah dua masalah yang saling berkaitan. Kami percaya UT Serang, dengan sistem PJJ-nya yang matang, dapat menjadi solusi percepatan kualifikasi guru sekaligus membantu kami memetakan dan menangani masalah ATS secara lebih terstruktur," tegasnya.
Dr. H. Edi Junaedi, M.Pd. selaku Kepala Seksi Guru dan Tenaga Kependidikan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Serang memperkuat narasi tentang tantangan SDM pendidikan dari perspektif kabupaten.
Ia menekankan bahwa peningkatan kualitas dan distribusi guru secara merata di seluruh wilayah Kabupaten Serang, termasuk kawasan pedesaan dan terpencil, membutuhkan solusi sistemik yang tidak bisa hanya mengandalkan mekanisme konvensional.
Program PJJ UT Serang dilihatnya sebagai jawaban paling aplikatif untuk mempercepat peningkatan kualifikasi akademik guru yang saat ini belum memenuhi standar, sekaligus mendukung pengembangan komunitas belajar guru yang inklusif dan berkelanjutan.
Edi juga menyoroti kebutuhan pelatihan kompetensi pedagogik berbasis daring yang fleksibel, mengingat sebagian besar guru di wilayah kabupaten tidak dapat meninggalkan tugas mengajar untuk mengikuti pelatihan tatap muka dalam waktu panjang.
"Peningkatan kompetensi dan kualifikasi guru di Kabupaten Serang adalah investasi jangka panjang yang hasilnya akan dirasakan oleh ribuan peserta didik. Kolaborasi dengan UT Serang melalui jalur PJJ dan pelatihan daring adalah solusi paling realistis dan efisien untuk kondisi kami," tekannya.
Dari ujung selatan Provinsi Banten, Doddy Irawan, S.T., M.Si. selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak membawa perspektif unik yang memperkaya dimensi FGD ini.
Kabupaten Lebak memiliki kompleksitas tersendiri karena merupakan rumah bagi masyarakat adat Baduy, komunitas yang memegang teguh tradisi dan adat istiadat yang menjadi identitas kulturalnya.
Akses dan layanan pendidikan bagi komunitas ini membutuhkan pendekatan yang sangat hati-hati agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai adat setempat.
Doddy mendorong UT Serang untuk mengembangkan modul pendidikan kontekstual yang mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam kurikulum formal, didukung oleh metode PJJ yang menghormati privasi dan aturan adat komunitas Baduy.
Ia juga mengangkat isu disparitas kualitas sumber daya manusia di wilayahnya yang membutuhkan solusi komprehensif, mulai dari digitalisasi administrasi sekolah hingga pengembangan literasi-numerasi yang adaptif terhadap konteks lokal.
"Pendidikan di Lebak tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Kami memiliki tanggung jawab untuk melayani masyarakat adat Baduy dengan pendekatan yang menghormati kearifan lokal mereka, dan kami membutuhkan dukungan akademik UT Serang untuk mengembangkan model pendidikan yang kontekstual dan inklusif," harapnya.
Dr. H. Sutoto, S.Pd., M.Si. selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang membawa perspektif tentang tantangan keselarasan antara kualitas lulusan pendidikan dan kebutuhan dunia kerja di wilayahnya.
Disparitas kualitas sumber daya manusia dan kesiapan lulusan yang belum sepenuhnya selaras dengan peluang kerja di sektor industri daerah menjadi persoalan utama yang ia sorot. Sutoto mendorong UT Serang untuk berkontribusi dalam membangun kurikulum vokasional yang selaras dengan kebutuhan industri lokal Pandeglang melalui kolaborasi link and match yang terstruktur.
Di samping itu, ia menekankan kebutuhan mendesak akan pelatihan literasi digital bagi siswa dan tenaga pengajar untuk meningkatkan daya saing lulusan di pasar kerja yang semakin digitalisasi. Program pengabdian UT di bidang pendidikan vokasional dan penguatan kompetensi digital dinilainya sebagai intervensi yang paling dibutuhkan saat ini oleh Kabupaten Pandeglang.
"Kami ingin lulusan Pandeglang tidak hanya siap kerja secara teknis, tetapi juga kompeten secara digital. Kolaborasi link and match antara sekolah-sekolah kami dengan UT Serang dalam pengembangan kurikulum vokasional adalah langkah yang kami nantikan," tuturnya.
Kehadiran Ashok Kumar selaku Ketua Asosiasi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Banten membuka dimensi baru dalam forum ini: perspektif industri yang selama ini jarang duduk semeja dengan akademisi dan pemerintah daerah dalam satu forum perencanaan PkM.
Industri perhotelan dan restoran di Banten merupakan pasar yang nyata dan besar, dan jika produk-produk UMKM lokal berhasil memenuhi standar kualitas, kemasan, dan kontinuitas produksi yang dibutuhkan industri, dampak ekonomi yang akan dirasakan oleh masyarakat di tingkat akar rumput bisa sangat signifikan.
Ashok Kumar mendorong agar program pemberdayaan UMKM yang dirancang oleh UT Serang benar-benar memperhatikan standar kebutuhan industri perhotelan, termasuk aspek keamanan pangan, konsistensi produk, dan kapasitas produksi.
Keterlibatan PHRI dalam ekosistem PkM ini dinilainya sebagai jembatan strategis yang dapat memperpendek jarak antara produksi UMKM lokal dan akses ke rantai pasok hotel dan restoran berbintang di Banten.
"Kami di PHRI sangat terbuka untuk menjadi pasar bagi produk-produk UMKM lokal Banten yang berkualitas. Jika UT Serang dapat membantu meningkatkan standar produk dan kapasitas produksi UMKM melalui program pengabdiannya, kami siap menjadi jembatan distribusinya ke industri perhotelan dan restoran," paparnya.
Menyambung perspektif tersebut, perwakilan pelaku UMKM dari Kota dan Kabupaten Serang turut memberikan kesaksian mengenai realitas tantangan yang mereka hadapi di lapangan. Mereka menegaskan bahwa kendala utama yang menghambat skala usaha saat ini bukan sekadar modal, melainkan aksesibilitas terhadap jejaring pasar yang lebih luas.
Para pelaku usaha kecil ini secara spesifik mendambakan pendampingan komprehensif dalam tiga aspek krusial: penetrasi pasar agar produk dapat masuk ke ritel modern, digitalisasi pemasaran guna memperluas jangkauan konsumen, serta standardisasi pengemasan dan branding untuk meningkatkan nilai jual serta daya saing produk di mata konsumen kelas menengah.
Menurut mereka, intervensi akademik dari UT Serang sangat dinantikan sebagai katalisator yang dapat mengubah pola bisnis tradisional menjadi lebih profesional dan berorientasi pasar.
"Kami memiliki semangat untuk berkembang, namun sering terbentur pada teknis pemasaran. Kami berharap UT Serang dapat membimbing kami agar produk lokal ini tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi mampu bersaing secara digital dan masuk ke jaringan pasar yang lebih besar." — Ungkap salah satu perwakilan UMKM.
Keterlibatan Dr. Ujang Jamaludin, S.Pd., M.Si., M.Pd. dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) dalam forum ini mencerminkan semangat kolaborasi antar perguruan tinggi yang menjadi salah satu pilar penting keberhasilan program pengabdian masyarakat yang berdampak luas.
Sebagai akademisi dari perguruan tinggi negeri terkemuka di Banten dengan akar historis yang kuat di bidang pendidikan dan pengembangan masyarakat, Dr. Ujang memberikan perspektif riset dan keilmuan yang memperkaya diskusi, sekaligus membuka peluang kolaborasi akademik antar institusi.
Kehadirannya memperkuat komitmen komunitas akademik Banten untuk bersama-sama berkontribusi nyata dalam pembangunan daerah, serta mengidentifikasi titik-titik sinergis di mana Untirta dan UT Serang dapat saling melengkapi dalam program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang lebih komprehensif dan berdampak.
"Kolaborasi antar perguruan tinggi dalam program pengabdian masyarakat adalah kunci untuk menghasilkan dampak yang jauh lebih besar. Untirta dan UT Serang memiliki keunggulan yang saling melengkapi, dan forum ini adalah awal yang baik untuk membangun sinergi akademik yang lebih kuat demi kemajuan Banten," ungkapnya
Dr. Encep Supriatna, M.Pd. dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Serang melengkapi representasi akademisi dalam forum ini dengan perspektif dari lembaga pendidikan tinggi yang secara spesifik berfokus pada pengembangan ilmu pendidikan dan inovasi pembelajaran.
Kehadirannya memperkuat ekosistem kolaborasi multi-perguruan tinggi yang menjadi landasan penting bagi keberlanjutan dan skalabilitas program PkM UT Serang.
Dr. Encep berperan sebagai kontributor aktif dalam memberikan perspektif akademik tentang hasil-hasil program pengabdian yang telah dilaksanakan, memfasilitasi pertukaran pengalaman antarinstitusi, serta mengidentifikasi peluang implementasi dan pengembangan model pengabdian pada berbagai konteks pendidikan.
Keterlibatan UPI Kampus Serang diharapkan dapat memperluas pemanfaatan hasil-hasil PkM di tingkat regional dan nasional, sekaligus mendorong penguatan jejaring kolaborasi akademik yang lebih inklusif dan berdampak bagi masyarakat Banten.
"Forum ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak boleh bekerja sendiri-sendiri. Sinergi antara UT Serang, UPI, dan Untirta dalam mendiseminasikan hasil pengabdian masyarakat adalah model kolaborasi yang perlu terus dikembangkan sebagai kontribusi nyata dunia akademik bagi pembangunan Provinsi Banten," ujarnya.
Berdasarkan paparan seluruh narasumber dan proses diskusi yang berlangsung intensif, FGD berhasil mengidentifikasi lima tema besar kebutuhan PkM yang mendesak dan harus menjadi prioritas program pengabdian dosen UT periode berikutnya:
Pertama, modernisasi dan hilirisasi pertanian/perikanan: menghadapi persoalan alih fungsi lahan, nilai tukar petani yang rendah, lemahnya rantai nilai pascapanen, serta perlunya penerapan smart farming dan diversifikasi produk bernilai tambah tinggi.
Kedua, regenerasi SDM pertanian dan perikanan: para petani muda, pembudidaya ikan, dan pelaku usaha perikanan membutuhkan pelatihan kapasitas berbasis teknologi melalui program inkubasi "Petani Milenial" dan program serupa.
Ketiga, pemerataan akses dan kualitas pendidikan: mencakup isu literasi-numerasi, digitalisasi administrasi sekolah, peningkatan kualifikasi guru melalui PJJ, penanganan anak tidak sekolah, serta pendekatan inklusif bagi kawasan adat Baduy di Kabupaten Lebak.
Keempat, pengembangan UMKM dan digitalisasi pemasaran: Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar), UMKM kuliner, dan produk lokal membutuhkan pendampingan digital marketing, penguatan branding, dan akses ke pasar modern termasuk jaringan PHRI.
Kelima, penguatan kearifan lokal dalam pembangunan: setiap intervensi di wilayah Lebak dan Pandeglang harus peka terhadap nilai-nilai adat dan budaya setempat, khususnya dalam program yang bersentuhan dengan komunitas masyarakat adat Baduy.
FGD dan Diseminasi Hasil PkM Skema Equity–WCU 2026 ini hadir di momentum yang sangat strategis, ketika pemerintah pusat tengah memperkuat agenda ketahanan pangan nasional dan akselerasi digitalisasi UMKM sebagai pilar utama pemulihan ekonomi pasca-pandemi.
Dengan berhasil mempertemukan lebih dari sepuluh institusi dari pemerintah provinsi, kota dan kabupaten, perguruan tinggi, asosiasi profesi, hingga pelaku UMKM dalam satu forum yang terstruktur dan produktif, UT Serang membuktikan diri bukan sekadar institusi pendidikan yang beroperasi dari balik tembok kampus.
UT Serang adalah agen perubahan yang turun langsung ke akar rumput, dengan keyakinan mendalam bahwa emas Banten yang sesungguhnya bukan ada di bawah tanah, melainkan di tangan para pengrajin golok, penjual sate bandeng, perajin rengginang, petani milenial, dan guru-guru berdedikasi yang selama ini belum mendapat panggung yang layak.
Program PkM yang akan lahir dari peta kebutuhan hasil FGD ini diharapkan dapat menjadi fondasi bagi kemitraan formal yang berkelanjutan, yang mampu menciptakan dampak pembangunan yang lebih adil, merata, dan berwawasan kearifan lokal bagi seluruh masyarakat Provinsi Banten.