TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Sejumlah massa mendatangi kediaman Anggota TAGUPP (Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan) Kaltim, Sudarno di Jalan Perjuangan, Kota Samarinda, Senin (29/6/2026), memantik reaksi.
Tokoh Pemuda Dayak yang juga menjabat sebagai Anggota TAGUPP Kaltim, Decky Samuel, angkat bicara mengenai insiden tersebut.
Ia sangat menyayangkan adanya upaya sekelompok massa yang mendatangi kediaman pribadi Sudarno dalam jumlah besar.
Menurutnya, meski aksi tersebut berjalan tanpa adanya kekerasan fisik, tindakan mendatangi rumah seseorang tanpa undangan secara etika dinilai kurang tepat dan dapat mengganggu psikologis keluarga yang bersangkutan.
"Kita bersyukur teman-teman yang datang tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi datang ke rumah orang dengan jumlah yang besar tanpa diundang, secara etika itu kurang tepat. Bisa mempengaruhi psikologis keluarga, ada anak dan istri di sana," ungkapnya saat memberikan keterangan kepada Tribunkaltim.co, Selasa (30/6/2026).
Baca juga: Rumahnya Digeruduk Sekitar 30 Orang, Anggota TAGUPP Kaltim Sudarno Merasa Dipersekusi
Decky menilai, aksi tersebut terkesan sebagai bentuk dugaan persekusi akibat adanya perbedaan pandangan politik.
Selama ini, Sudarno dikenal vokal dan kerap menyampaikan data yang dinilai "membela" kebijakan Gubernur Kaltim.
Pandangan inilah yang diduga berseberangan dengan tuntutan kelompok aliansi perjuangan masyarakat Kaltim.
"Berbeda pendapat itu hal yang biasa dalam demokrasi. Selama ini Mas Sudarno menyampaikan data dan fakta sesuai versinya. Kalau ada perbedaan, harusnya didiskusikan, bukan dipaksa seolah pendapat kita yang paling benar. Jangan otoriter," tegasnya.
Ia juga mencontohkan bagaimana sikap Gubernur Kaltim dalam menghadapi gelombang aksi demonstrasi dan kritik selama ini.
Menurutnya, kepala daerah selalu menyikapi perbedaan dengan tenang tanpa keluar dari koridor aturan hukum yang berlaku.
"Kita belajar dari Pak Gubernur, beliau tidak melakukan hal di luar aturan karena menganggap perbedaan itu biasa dalam demokrasi," lanjutnya.
Lebih lanjut, Decky juga memberi pendapat adanya kecenderungan beberapa pihak yang mulai membawa isu kedaerahan (sentimen asal daerah) ketika terjadi perbedaan pendapat di ruang publik.
Ia menegaskan, siapapun yang memiliki niat tulus membangun Kaltim, semestinya harus dihargai, tanpa melihat latar belakang sukunya.
"Saya kenal betul Mas Sudarno. Ketika ada isu SDM luar yang coba mengabaikan kepentingan daerah, dia juga garda terdepan membela Kaltim. Jadi jangan kembangkan perbedaan suku atau asal daerah. Semboyan kita jelas, Ruhui Rahayu (rukun, damai, tenteram, dan harmonis)," imbuh Tokoh Pemuda Dayak ini.
Baca juga: Anggota TGUPP Kaltim Tanggapi Rencana Demo 21 April 2026, Sudarno: Kritik itu Vitamin
Di akhir penyampaiannya, Decky mengajak seluruh elemen pemuda dan masyarakat Bumi Etam untuk kembali mengedepankan adab dan adat ketimuran dalam menyampaikan aspirasi, terutama jika hal tersebut ditujukan kepada orang yang lebih tua atau seorang pemimpin.
"Mengingatkan pemimpin itu boleh, tapi ada adabnya. Kita punya adat. Cara marah kita kepada yang lebih tua atau pemimpin itu harus sesuai dengan adab kita. Mari kita rukun bersama. Pelangi itu indah justru karena berwarna-warni," pungkasnya. (*)