TRIBUNKALTIM.CO, BONTANG – Pemadaman listrik bergilir yang masih berlangsung di Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur, mulai memukul pelaku usaha.
Sejumlah pemilik kafe mengaku kehilangan omzet hingga Rp1 juta per hari karena operasional terganggu setiap kali aliran listrik terputus selama berjam-jam.
Baim, pemilik Office and Warehouse (O&W) Coffee, mengatakan dua gerai kopi yang dikelolanya mengalami penurunan pendapatan sejak pemadaman bergilir diberlakukan.
Dalam sehari, listrik bahkan bisa padam dua kali, siang dan malam, dengan durasi sekitar tiga jam atau lebih.
Baca juga: Gangguan PLTGU Belum Pulih, Warga Bontang Masih Hadapi Pemadaman Bergilir hingga Juli 2026
"Kerugian omzet sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta setiap hari. Kemarin mati, hari ini mati lagi," kata Baim kepada TribunKaltim.co, Selasa (30/6/2026).
Menurut dia, sebagian besar peralatan utama di kedai kopi bergantung pada pasokan listrik.
Ketika listrik padam, mesin penggiling kopi, blender, hingga pendingin ruangan tidak dapat digunakan sehingga pelayanan kepada pelanggan menjadi terbatas.
Pihaknya berupaya mengantisipasi dengan menyiapkan stok espresso sebelum jadwal pemadaman dimulai.
Baca juga: Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Kaltim, Wagub: tak Terkait RKAB Batu Bara, Penjelasan PLN
Namun cara tersebut hanya mampu melayani pesanan dalam waktu terbatas.
"Yang bisa dibuat hanya menu dingin. Kalau pelanggan minta kopi panas, tidak bisa karena grinder mati. Menu yang menggunakan blender juga tidak bisa disajikan," ujarnya.
Selain itu, matinya pendingin ruangan membuat suasana kafe tidak lagi nyaman.
Tidak sedikit pelanggan yang memilih membatalkan pesanan atau meninggalkan lokasi.
"Ruangan jadi panas. Pengunjung juga tidak betah," katanya.
Baca juga: Usaha Kecil di Kaltim Terpukul Mati Lampu, Pelaku UMKM Alami Kerugian Akibat Pemadaman Bergilir
Baim berharap gangguan pasokan listrik dapat segera diatasi karena pemadaman yang terjadi hampir setiap hari mulai mengganggu keberlangsungan usaha, terutama bagi sektor usaha yang seluruh operasionalnya bergantung pada listrik.
Langkah tersebut dilakukan akibat gangguan pada salah satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) yang menjadi bagian dari sistem interkoneksi Kalimantan.
"Pemadaman bergilir masih akan terus dilakukan sampai Juli nanti," kata Annisa.
Baca juga: Viral! Padatnya Tongkang Batu Bara di Teluk Balikpapan Saat Terjadi Pemadaman Listrik Disorot
Walikota Bontang Neni Moerniaeni menjelaskan kebutuhan listrik Kota Bontang sebenarnya hanya sekitar 150 megawatt dan masih mencukupi.
Namun, karena Bontang terhubung dalam sistem interkoneksi Mahakam, gangguan pada salah satu pembangkit di jaringan tersebut turut memengaruhi distribusi listrik ke kota ini.
"Kalau kebutuhan listrik Kota Bontang sekitar 150 megawatt sebenarnya cukup. Tetapi karena kita masuk sistem interkoneksi Mahakam, saat ada gangguan di pembangkit, distribusi listrik ke Bontang juga terdampak," ujar Neni. (*)