Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli
TRIBUNPALU.COM, PALU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya 1.600 gempa susulan terjadi setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Kabupaten Sigi pada 16 Juni 2026.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro, mengatakan rangkaian gempa susulan tersebut masih tergolong normal sebagai bagian dari proses pelepasan energi setelah gempa utama.
Menurutnya, aktivitas kegempaan di Sulawesi Tengah memang mengalami peningkatan signifikan sepanjang Juni 2026.
Baca juga: BMKG Ungkap Penyebab Gempa M 4,0 di Sigi, Berasal dari Sesar Palolo
"Kalau kita melihat aktivitas sesar di Sulawesi Tengah, berdasarkan tren Januari sampai Mei 2026, seismisitas sudah berada di angka sekitar 1.900 kejadian. Memang pada Juni terjadi peningkatan yang sangat aktif sejak gempa 16 Juni lalu hingga hari ini sudah tercatat sekitar 1.600 kali aktivitas gempa susulan," ujarnya saat ditemui di Kantornya, Kelurahan Balaora, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu.
Djati menjelaskan, gempa susulan merupakan fenomena yang lazim terjadi setelah gempa berkekuatan besar.
Karena itu, masyarakat diminta tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG.
Ia juga menjelaskan, gempa berkekuatan magnitudo 4,0 yang mengguncang Kabupaten Sigi pada Rabu (1/7/2026) dini hari merupakan bagian dari rangkaian aktivitas gempa susulan tersebut.
Berdasarkan hasil analisis BMKG, gempa itu dipicu aktivitas Sesar Palolo yang berinteraksi dengan Sesar Sausu, sumber gempa utama pada 16 Juni lalu.
"Setiap sesar itu saling berinteraksi. Karena itu aktivitas gempa yang terjadi sekarang merupakan bagian dari dinamika tektonik yang masih berlangsung setelah gempa utama," jelasnya.
Baca juga: Sosok Stefan Jevtoski, Gelandang Asing Bakal Perkuat PSM Makassar
BMKG juga memastikan gempa yang terjadi tidak berpotensi tsunami dan hingga kini tidak menimbulkan dampak kerusakan.
Sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, BMKG bersama Pemerintah Kabupaten Sigi akan menggelar program Sekolah Lapang Gempa Bumi Non-Tsunami pada akhir Juli 2026.
Selain itu, BMKG juga akan melaksanakan program BMKG Goes to School untuk memberikan edukasi mitigasi gempa kepada pelajar dan masyarakat.
Djati berharap masyarakat semakin memahami langkah-langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa sehingga risiko korban jiwa dapat diminimalkan apabila bencana serupa kembali terjadi.(*)