TRIBUNJATIM.COM - Seorang remaja perempuan berinisial LR (16) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, membuat heboh setelah merekayasa kasus penculikan yang kemudian diketahui tidak benar.
Aksi tersebut diduga dilakukan karena tekanan dalam lingkungan keluarga serta keinginan untuk meninggalkan rumah.
Peristiwa ini sempat membuat pihak keluarga panik setelah menerima pesan berisi permintaan uang tebusan sebesar Rp 5 juta yang diklaim sebagai syarat pembebasan korban.
Kapolsek Manggala Kompol Samuel To'longan mengatakan, rekayasa tersebut dilakukan LR agar bisa melarikan diri.
Baca juga: Nasib Pria Babak Belur Dihajar Massa setelah Culik Murid SD, Bawa Korban Naik Kendaraan Umum 64 Km
Remaja itu juga mengaku ingin bertemu saudara kandungnya yang terpisah pengasuhan sejak kedua orangtuanya meninggal dunia.
"Pengakuannya dia sering dimarahi di rumah dan ingin bersama saudara kandungnya," ujar Samuel dilansir dari Kompas.com, Selasa (20/6/2026).
"Anak ini yatim piatu sehingga diasuh oleh keluarga dari pihak ibu dan ayahnya secara terpisah," tambahnya.
Menurut polisi, peristiwa bermula ketika LR meninggalkan rumah tantenya di Kecamatan Manggala, Kota Makassar, pada Minggu (28/6/2026) malam.
Beberapa jam setelah kepergian itu, keluarga mulai kehilangan kontak dan melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian karena khawatir dengan kondisi korban.
Tak lama kemudian, keluarga menerima pesan singkat dari pihak yang mengaku sebagai pelaku penculikan disertai voice note berisi tangisan.
"Ada masuk chat bahwa anak itu dia diculik ditambah lagi adanya pesan suara voice note itu dia menangis-nangis. Si penculik ini minta tebusan uang Rp 5 Juta," ungkap Samuel.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Polsek Manggala bersama Polda Sulawesi Selatan melakukan penyelidikan dan pelacakan keberadaan korban.
Hasil penelusuran mengarah ke sebuah kamar wisma di Kecamatan Panakkukang, Makassar, tempat LR akhirnya ditemukan pada Senin (29/6/2026) dini hari.
"Setelah menerima laporan melalui 110, anggota melakukan penyelidikan dan korban berhasil ditemukan," bebernya.
Dalam pemeriksaan, LR akhirnya mengakui bahwa tidak ada penculikan yang terjadi.
Ia menyusun skenario tersebut secara sengaja agar keluarganya percaya dirinya menjadi korban.
"Dari hasil interogasi, dia mengaku berbohong. Jadi dia tidak diculik, tetapi merekayasa seolah-olah dirinya menjadi korban penculikan," jelas Samuel.
Baca juga: Pria Pura-pura ODGJ usai Kepergok Culik Balita Pakai Modus Cokelat, Orangtua Panik Mengejar
Polisi juga mengungkap bahwa permintaan uang tebusan sebesar Rp 5 juta itu direncanakan untuk mendukung upaya pelarian diri LR.
"Rencananya uang itu akan dipakai untuk melarikan diri karena dia masih di bawah umur dan belum memiliki pekerjaan," terang Samuel.
Setelah proses pemeriksaan selesai, LR kemudian diserahkan ke Direktorat PPA dan PPO Polda Sulawesi Selatan untuk penanganan lebih lanjut.