TRIBUNNEWS.COM - Fenomena kepindahan pemain naturalisasi Timnas Indonesia ke klub-klub Super League menjadi salah satu topik yang paling banyak diperbincangkan jelang musim 2026/2027.
Jika beberapa tahun lalu mayoritas pemain diaspora memilih berkarier di Eropa atau liga-liga top Asia, kini tren tersebut mulai berubah.
Tercatat sudah 11 pemain naturalisasi Timnas Indonesia yang memilih melanjutkan karier di kompetisi domestik.
Persija Jakarta menjadi salah satu klub yang paling agresif dengan mendatangkan Jordi Amat, Shayne Pattynama, Mauro Zijlstra, dan Cyrus Margono.
Sementara Persib Bandung juga tak kalah aktif setelah memiliki Thom Haye, Eliano Reijnders, Dion Markx, dan rekrutan anyar Sandy Walsh.
Di klub lain, Dewa United mengandalkan Rafael Struick dan Ivar Jenner, sedangkan Bali United sukses mengamankan penyerang muda Jens Raven.
Fenomena ini pun memunculkan perdebatan.
Apakah keputusan para pemain naturalisasi pulang ke Indonesia merupakan langkah positif bagi karier dan Timnas Indonesia, atau justru berpotensi menghambat perkembangan mereka?
Pengamat sepak bola sekaligus Founder akun media sosial @pemain.keduabelass, Kurnia Aji, menilai tren tersebut tidak bisa dipandang hanya dari sisi finansial.
Menurutnya, para pemain diaspora kini mulai melihat perkembangan kualitas kompetisi sepak bola Indonesia.
"Menurutku pemain diaspora sekarang melek. Walaupun mereka bermain di luar Indonesia, bahkan di Eropa, mereka juga mengikuti dan mengamati Liga Indonesia," ujar Kurnia Aji kepada Tribunnews.
Ia menambahkan, banyak pemain diaspora memiliki rekan yang bermain di Indonesia sehingga mengetahui secara langsung perkembangan kompetisi.
"Mungkin salah satu penyebab mereka mau bermain di Indonesia, selain memiliki gaji yang sangat tinggi, mereka juga melihat kompetisi sepak bola Indonesia sudah jauh lebih maju dibanding sebelumnya."
"Jadi itu mungkin menjadi pertimbangan mereka dan alasan utama mereka untuk bergabung dengan salah satu klub di Super League," jelasnya.
Baca juga: Persib Jadi Magnet Pemain Diaspora Timnas Indonesia, Ragnar Oratmangoen Segera Menyusul?
Menurut Kurnia Aji, kepindahan pemain naturalisasi ke Liga Indonesia juga bisa membawa dampak positif bagi Timnas Indonesia.
Salah satunya dari sisi mobilitas ketika pemain mendapat panggilan tim nasional.
"Pastinya pemain jauh lebih gampang mobilitasnya kalau dipanggil timnas," ucap Aji.
"Contoh Sandy Walsh dari Bandung ke Jakarta tinggal naik kendaraan sebentar. Sebelumnya dia dari Buriram ke Jakarta membutuhkan waktu lima sampai delapan jam karena cukup jauh," katanya.
Selain itu, ia tidak sepakat jika bermain di Super League akan membuat kualitas pemain menurun.
"Kalau semisal dikira penurunan level menurutku enggak," tegasnya.
"Karena kita tahu sendiri Super League kompetitif banget," lanjutnya.
Apalagi mulai musim depan setiap klub diperbolehkan memainkan hingga sembilan pemain asing dalam satu pertandingan.
Menurutnya, aturan tersebut justru akan meningkatkan kualitas persaingan.
"Kalau semisal kita ngomongin berkurang atau menurunnya kompetitif, menurutku enggak ya," kata Aji.
"Karena kompetitif tetap tinggi, apalagi rekrutmen pemain asing di Super League itu enggak main-main. Klub berani mengambil pemain asing top untuk dibawa ke sini," jelasnya.
Meski demikian, fenomena ini tetap memunculkan perdebatan.
Bagi pemain senior seperti Jordi Amat, Thom Haye, Sandy Walsh, maupun Shayne Pattynama, bermain di Indonesia dinilai sebagai langkah yang wajar mengingat mereka sudah memasuki fase berbeda dalam karier.
Selain mendapatkan menit bermain yang lebih terjamin, mereka juga bisa lebih dekat dengan kultur sepak bola Indonesia.
Namun, situasinya berbeda untuk pemain yang masih berusia muda.
Nama-nama seperti Eliano Reijnders, Mauro Zijlstra, Rafael Struick, Ivar Jenner, hingga Jens Raven masih berada dalam usia emas untuk berkembang di kompetisi dengan level yang lebih tinggi.
Karena itu, keputusan mereka berkarier di Indonesia akan terus menjadi perhatian.
Banyak pihak menilai perkembangan individu mereka tetap harus menjadi prioritas, mengingat para pemain tersebut merupakan aset penting Timnas Indonesia untuk jangka panjang.
Pada akhirnya, keberhasilan fenomena ini baru bisa dinilai dari dampaknya di lapangan.
Jika para pemain mampu menjaga performa, berkembang, dan tetap tampil maksimal bersama Timnas Indonesia, maka kepindahan ke Super League bisa menjadi keputusan yang tepat.
Sebaliknya, jika performa mereka menurun, perdebatan mengenai pentingnya bermain di luar negeri dipastikan akan kembali mengemuka.
(Tribunnews.com/Hafidh Rizky Pratama)