UGM Rampungkan Studi TPA Troketon, Ini 4 Teknologi Pengolahan Sampah yang Direkomendasikan
Delta Lidina July 05, 2026 03:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM, KLATEN – Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Klaten telah mengantongi hasil studi kelayakan pengolahan sampah dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Kajian tersebut memunculkan empat alternatif teknologi yang bisa diterapkan di TPA Troketon.

DLH menggandeng UGM sepanjang 2026 untuk menghitung kelayakan teknologi pengolahan sampah berdasarkan karakteristik sampah di TPA Troketon.

Srihadi menjelaskan kajian tersebut selesai dan akan menjadi dasar menentukan bentuk kerja sama dengan investor maupun pemerintah pusat.

"Hasil FS (feasibility study) itu ada empat hasil studinya," katanya.

Alternatif pertama yakni pengolahan sampah menjadi kompos dan RDF (Refuse-Derived Fuel).

Pilihan kedua menghasilkan bahan bakar padat dan RDF.

Alternatif ketiga menggunakan teknologi insinerator atau pembakaran, namun membutuhkan biaya investasi tinggi.

PENGELOLAAN SAMPAH KLATEN - Sejumlah alat berat lakukan metode controlled landfill yang dilakukan di TPA Troketon, Kecamatan Pedan, Klaten, Sabtu (4/7/2026).
PENGELOLAAN SAMPAH KLATEN - Sejumlah alat berat lakukan metode controlled landfill yang dilakukan di TPA Troketon, Kecamatan Pedan, Klaten, Sabtu (4/7/2026). (TribunSolo/Ibnu Dwi Tamtomo)

Sedangkan alternatif keempat menghasilkan kompos, pupuk hingga material tanah uruk.

"Tentu ini nilai dengan kajian masing-masing, baik dengan kajian teknis, kajian lingkungan, terus termasuk biaya-biaya atau perkiraan biaya kalau menggunakan alternatif 1,2,3 atau 4 tadi," jelasnya.

Baca juga: Sampah Klaten 170 Ton per hari, DLH Ungkap Solusi Besar Disiapkan: Pabrik Pengolah Jadi Listrik

Menurut Srihadi, karakteristik sampah di Klaten didominasi sampah organik sehingga arah pengolahan lebih cocok menuju produksi kompos dan RDF.

"Iya, arahnya organic kompos dan RDF," ujarnya.

Meski demikian, hasil studi tersebut tetap mendukung rencana pembangunan pabrik pengolah sampah menjadi listrik atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dari Kemendagri karena menggunakan teknologi insinerator.

"Hasil FS tentu ini kita jadikan untuk menentukan bentuk kerja sama. Tapi saat ini kita masih mengutamakan yang Kemendagri. Kalau Juli ini sudah MOU, otomatis FS-nya nanti untuk mendukung program Kemendagri ini," tutupnya. (TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.