TRIBUNNEWS.COM - Pelatih Timnas Brasil, Carlo Ancelotti, akhirnya angkat bicara setelah timnya tersingkir dari Piala Dunia 2026.
Brasil harus mengakhiri langkahnya di babak 16 besar setelah kalah 1-2 dari Norwegia di Stadion New York New Jersey, Senin (6/7/2026) dini hari WIB.
Erling Haaland menjadi mimpi buruk Selecao lewat dua gol pada menit ke-79 dan 90. Sementara Brasil hanya mampu memperkecil ketertinggalan melalui penalti Neymar Jr pada masa injury time.
Kekalahan tersebut memperpanjang kutukan Brasil yang enam edisi Piala Dunia secara beruntun selalu disingkirkan tim asal Eropa di fase gugur.
Selain itu, untuk pertama kalinya sejak Piala Dunia 1990, Brasil harus angkat koper sejak babak 16 besar.
Keperkasaan Norwegia menyingkirkan Brasil ini membuktikan generasi emasnya di Piala Dunia 2026 ini.
"Mereka (Norwegia) benar-benar diberkahi dengan generasi emasnya di Piala Dunia 2026 kali ini, yang utama di lini serang ada Erling Haaland yang jadi bintang utama mereka," ujar seorang football enthusiast, Raka Kisdiyatama, dalam podcast Super Taktik di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Meski hasil tersebut menjadi pukulan telak, Ancelotti menegaskan dirinya tidak akan menyerah.
Pelatih asal Italia itu berjanji tetap melanjutkan pekerjaannya dan membangun siklus baru bersama Selecao.
"Yang ingin saya katakan adalah kami akan terus melakukan pekerjaan kami dan mencari ide-ide baru," ujar Ancelotti, dikutip dari ESPN.
"Ini adalah pengalaman bagi saya. Hasil ini sangat mengecewakan dan kami semua sangat sedih. Tetapi saya harus berterima kasih kepada para pemain karena mereka bekerja sangat keras."
"Saya rasa kami tidak pantas kalah, tetapi kami harus menerimanya," tegasnya.
Ancelotti mengakui kekalahan memang menyakitkan, namun ia ingin menjadikannya sebagai pelajaran untuk membangun tim yang lebih kuat.
"Itulah sepak bola. Terkadang Anda harus mengatasi kesedihan dan rasa pahit kekalahan," kaa Ancelotti.
"Kami akan menerima kekalahan ini dan menggunakannya sebagai bahan bakar untuk siklus baru."
"Semua orang sangat sedih, termasuk para penggemar. Yang harus kami lakukan sekarang adalah bereaksi dengan cara yang benar," jelasnya.
Baca juga: 6 Piala Dunia Beruntun! Brasil Selalu Tersingkir oleh Tim Eropa, Kini Giliran Norwegia
Pelatih yang baru dua bulan menandatangani kontrak baru bersama Brasil itu juga mulai menatap masa depan.
Menurut Ancelotti, salah satu fokus utamanya adalah melakukan regenerasi di sektor lini tengah.
Hal itu semakin penting setelah Neymar dikabarkan akan pensiun dari tim nasional, sementara pemain senior seperti Casemiro dan Fabinho juga diperkirakan segera mengikuti jejak tersebut.
"Kita harus memikirkan masa depan," kata eks pelatih Real Madrid tersebut.
"Di lini tengah saya pikir kami harus menggeser beberapa pemain."
"Kami membutuhkan talenta-talenta muda dan pemain berlevel tinggi yang bisa masuk ke sepak bola Brasil," sambungnya.
Meski demikian, Ancelotti tetap optimistis karena masih banyak pemain berkualitas yang dapat menjadi fondasi tim nasional.
"Tim nasional ini memiliki kelompok pemain yang sangat solid. Masih ada pemain-pemain hebat dan juga beberapa pemain baru yang siap masuk," lanjutnya.
Dalam pertandingan tersebut, Brasil sebenarnya memiliki peluang emas untuk unggul lebih dulu.
Namun Bruno Guimaraes gagal mengeksekusi penalti pada babak pertama.
Kegagalan itu kemudian dinilai menjadi salah satu titik balik yang membuat Brasil akhirnya kalah.
Meski begitu, Ancelotti membela keputusannya menunjuk gelandang Newcastle United tersebut sebagai eksekutor.
Menurutnya, keputusan itu didasarkan pada analisis statistik yang telah disiapkan tim pelatih.
"Kami melakukan analisis statistik untuk para pemain," ucap Ancelotti.
"Pilihan pertama sebenarnya adalah Raphinha, kemudian Neymar, lalu Bruno Guimaraes."
"Karena Raphinha tidak tersedia, kami merasa Bruno adalah pilihan terbaik," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Hafidh Rizky Pratama)