Terdapat sebuah bukti ilmiah bahwa orang yang sukses ketika dewasa, cenderung melakukan pekerjaan domestik (rumah tangga) saat masih kecil. Penemuan ini ditemukan melalui sebuah studi selama 80 tahun yang disebut "Studi Grant Harvard".
Pekerjaan domestik dilakukan untuk mengajarkan kontribusi terhadap kebaikan bersama.
"Pembelajaran bahwa pekerjaan harus dilakukan dan bahwa setiap kita harus berkontribusi untuk kebaikan bersama," jelas mantan dekan mahasiswa baru di Stanford dari 2002 hingga 2012 dan penulis buku, Lythcott-Haims, dikutip dari situs World Economic Forum (WEF).
Ia menyebut, rumah tangga menanamkan kepada anak-anak sebuah sikap bahwa hidup adalah tentang kerja tim dan kerja sama. Selain itu, terdapat nilai yaitu ruang hidup yang bersih dan rapi tidak terjadi begitu saja.
Riset di China: Anak yang Mengerjakan Tugas Domestik, Lebih Punya Emosi Positif
Pada sebuah riset di China ditemukan, anak yang aktif membantu pekerjaan rumah tangga akan cenderung punya emosi positif lebih tinggi, pengawasan orang tua lebih intens, dan hubungan dengan orang tuanya lebih dekat.
Keterlibatan anak dalam tugas domestik juga terbukti meningkatkan tanggung jawab, kedisiplinan, dan sikap peduli kepada orang lain.
Ada poin menarik yang ditemukan yaitu sebagian besar efek positif tersebut justru lebih menonjol pada kelompok siswa kurang beruntung atau rentan. Dampak tersebut paling terlihat pada anak laki-laki dan anak-anak yang ditinggal orang tua ().
Temuan tersebut sejalan dengan perhatian Pemerintah China terkait pendidikan kerja () yang diterapkan mulai SD sampai SMA. Program tersebut tidak cuma dilakukan di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga, sehingga siswa belajar tanggung jawab dan kerja sama dalam kehidupan sehari-hari.
Siswa diwajibkan terlibat dengan kegiatan seperti membantu orang tua yaitu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan memasak. Mereka juga turut serta dalam pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan sekolah, sehingga pembelajaran kerja tidak cuma teori, melainkan juga praktik.
Anak Harus Belajar Mengambil Risiko
Pakar parenting turut menegaskan pentingnya membiarkan anak menghadapi tantangan sendiri. Sebagai contoh, apabila anak lupa mengerjakan rumah atau meninggalkannya di rumah, orang tua disarankan tidak langsung menolong. Kesempatan tersebut jadi momen bagi anak untuk belajar bertanggung jawab, mengatur diri, dan memahami konsekuensi tindakannya.
Tidak hanya soal pekerjaan rumah, anak juga perlu didorong agar berani mengambil risiko. Kegagalan kecil maupun besar dapat membantu mereka keluar dari zona nyaman, mengenali kemampuan diri, serta membangun keberanian menghadapi tantangan hidup.
Kemandirian anak juga terkait kemampuan menemukan arah dan mengenali lingkungan sekitar. Anak yang terlalu diantar ke mana-mana akan kehilangan kesempatan belajar membaca rute, mengenali tanda jalan, juga memecahkan masalah sehari-hari sendiri.
Orang tua yang terlibat secara berlebihan akan membuat anak kurang terbiasa mengatur jadwal, memenuhi target, dan memprioritaskan tugas sendiri. Dengan membiasakan anak bertanggung jawab sejak dini, maka mereka akan lebih siap menghadapi kehidupan dewasa.
Kemandirian tersebut juga mencakup kemampuan mengatur waktu, menyesuaikan jadwal dengan orang lain, dan menghadapi berbagai tuntutan serta deadline tanpa selalu bergantung dengan orang tua.





