TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sektor logistik nasional mendapat tambahan investasi melalui pembangunan dua gudang logistik Grade A di Karawang dan Cikarang, Jawa Barat, dengan total nilai aset lebih dari US$80 juta.
Investasi tersebut menambah pasokan fasilitas pergudangan modern di dua kawasan industri yang selama ini menjadi pusat kegiatan manufaktur, distribusi, dan logistik nasional.
Masuknya investasi tersebut usai Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau KDM mengatakan bahwa realisasi investasi di Provinsi Jawa Barat menunjukkan capaian senilai Rp 76,8 triliun.
KDM menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Pasalnya, Karawang dan Cikarang dikenal sebagai salah satu koridor industri terbesar di Indonesia.
Kawasan tersebut menjadi lokasi berbagai perusahaan manufaktur nasional maupun multinasional serta didukung akses langsung ke jaringan Jalan Tol Jakarta–Cikampek yang menghubungkan pusat produksi dengan pelabuhan dan pasar utama.
Pengembangan dua fasilitas tersebut dilakukan oleh ESR bersama MC Urban Development Indonesia (MCUDI), anak perusahaan Mitsubishi Corporation.
Kedua perusahaan telah menandatangani perjanjian pengembangan bersama untuk membangun Karawang Logistics and Industrial Hub serta Cikarang Logistics and Industrial Hub.
Pembangunan kedua proyek telah dimulai dan ditargetkan rampung pada kuartal III 2027.
Proyek ini merupakan tahap kedua kerja sama kedua perusahaan setelah sebelumnya mengembangkan Karawang Logistics Park 1, Cikarang Logistics Park 1, dan Cikarang Logistics Park 2.
Kedua fasilitas dirancang sebagai gudang logistik Grade A yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pelaku industri manufaktur, logistik, dan distribusi yang beroperasi di kawasan Jabodetabek dan sekitarnya.
Baca juga: Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Rantai Pasok dan Daya Saing Nasional
Head of Southeast Asia ESR, Jai Mirpuri, mengatakan investasi tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas pengembangan aset logistik di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia.
"Investasi ini mencerminkan strategi asset-light ESR dan berfokus pada pasar Asia-Pasifik yang memiliki visibilitas permintaan yang jelas dan keselarasan mitra yang kuat," kata Jai dalam keterangannya, Selasa (7/7/2026).
Menurut dia, perusahaan melihat masih terdapat kebutuhan terhadap fasilitas logistik modern di kawasan industri strategis sekitar Jakarta.
"Kami senang dapat memperdalam kolaborasi dengan MCUDI untuk menghadirkan aset yang mendukung kebutuhan pelanggan di sektor logistik, manufaktur, dan rantai pasok," ujarnya.
Sementara itu, Presiden Direktur MCUDI yang akan menjabat, Hideaki Nakajima, mengatakan kerja sama tersebut merupakan kelanjutan dari kolaborasi yang telah dibangun kedua perusahaan di Indonesia.
"Kami berada di posisi yang tepat untuk menghadirkan aset berstandar institusional yang memenuhi kebutuhan pelanggan global maupun domestik yang terus berkembang di Jabodetabek," katanya.
Karawang Logistics and Industrial Hub akan dibangun di Kawasan Industri Suryacipta City of Industry di atas lahan sekitar 100.000 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 63.000 meter persegi. Lokasi tersebut memiliki akses langsung ke Jalan Tol Jakarta–Cikampek dan direncanakan terhubung dengan Jalan Tol Jakarta–Cikampek II Selatan.
Sementara itu, Cikarang Logistics and Industrial Hub akan dikembangkan di Kawasan Industri Jababeka II di atas lahan sekitar 68.000 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 48.000 meter persegi.
Fasilitas tersebut ditujukan untuk melayani kebutuhan sektor logistik, manufaktur, dan distribusi serta memiliki akses langsung ke Jalan Tol Jakarta–Cikampek.
Menurut keterangan perusahaan, kedua gudang tersebut akan dilengkapi sejumlah fitur yang mendukung aspek keselamatan bangunan dan efisiensi energi sesuai dengan standar desain yang diterapkan dalam pengembangan proyek.
Terpisah, realisasi investasi di Provinsi Jawa Barat menunjukkan capaian signifikan dengan nilai mencapai Rp 76,8 triliun. Angka tersebut menjadi indikator positif terhadap daya tarik daerah sebagai tujuan penanaman modal, baik dari dalam maupun luar negeri.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Ia menyoroti tiga faktor utama yang menjadi penopang masuknya investasi ke wilayah Jawa Barat.
“Kalau ada kendala, saya suka mendampingi para pengusaha untuk berkomunikasi dengan berbagai instansi, termasuk bertemu para menteri untuk membicarakan problem-problem yang ada,” ujar Dedi Mulyadi, Kamis (23/4/2026).
Pertama, stabilitas wilayah yang terjaga dengan baik dinilai menjadi fondasi penting dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif. Kepastian keamanan dan ketertiban menjadi pertimbangan utama bagi investor dalam menanamkan modalnya.
Kedua, kemudahan dalam proses perizinan turut menjadi faktor krusial. Pemerintah daerah terus mendorong penyederhanaan birokrasi serta optimalisasi sistem pelayanan perizinan agar lebih efisien, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan dunia usaha.
Ketiga, ketersediaan infrastruktur yang memadai juga menjadi daya tarik tersendiri.
Akses transportasi, kawasan industri, serta fasilitas pendukung lainnya dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek pengembangan usaha di Jawa Barat.
KDM menambahkan bahwa pemerintah daerah akan terus berupaya menjaga konsistensi ketiga aspek tersebut guna mempertahankan bahkan meningkatkan realisasi investasi di masa mendatang.
Dia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem investasi yang berkelanjutan.