Dua Tahun Mengungsi, Penyintas Gunung Lewotobi Jual Seng Bekas demi Menyambung Hidup
Cristin Adal July 07, 2026 03:47 PM

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Arnold Welianto

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Sudah hampir dua tahun hidup di pengungsian akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki, Anastasia Naran bersama keluarganya berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan mengumpulkan dan meniti seng bekas untuk dijual.

Anastasia Naran bersama suami dan empat anaknya tinggal di salah satu kantor kehutanan di wilayah perbatasan Kabupaten Sikka dan Flores Timur setelah mengungsi dari Desa Padang Pasir.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka menggarap kebun milik warga di Desa Boru yang berada di wilayah perbatasan kedua kabupaten tersebut.

Namun, hasil berkebun tidak lagi mencukupi karena tanaman mereka rusak akibat tertutup abu vulkanik dari erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.

Baca juga: Level III, Gunung Lewotobi 1 Kali Erupsi, 3 Gempa Low Frequency

Kondisi itu memaksa Anastasia dan keluarganya mencari sumber penghasilan lain. Mereka mengumpulkan seng bekas dari tempat pembuangan sampah, kemudian meniti atau meratakannya sebelum dijual.

Seng bekas yang telah dititi dijual seharga Rp2.000 per kilogram. Dalam sehari, mereka hanya mampu mengumpulkan sekitar 30 kilogram seng.

"Tanaman kami terkena abu vulkanik sehingga tidak ada hasil. Terpaksa kami mencari cara lain dengan meniti seng. Harganya Rp 2.000 per kilogram. Dalam dua hari kami bisa memperoleh sekitar Rp100.000 untuk kebutuhan anak-anak sekolah dan makan," ujar Anastasia, Selasa (7/7/2026).

Anastasia mengaku pekerjaan tersebut tidak mudah. Tangan dan kakinya kerap terluka saat meratakan seng yang keras dan tajam.

Baca juga: Gunung Lewotobi 3 Kali Meletus Dini Hari Tadi, Semburkan Abu Capai 1000 Meter

Menurut dia, seng bekas yang dikumpulkan berasal dari atap rumah warga yang dibongkar karena rusak akibat hujan abu vulkanik erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.

Dalam bekerja, Anastasia dibantu dua anaknya, Maria Magdalena Tera, siswi kelas II SMP Boganatar, dan Karolus Anbi Klaru, siswa SDK Hikong. Keduanya ikut mengumpulkan dan meniti seng bekas untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Sementara itu, suaminya menggarap lahan pertanian dengan menanam ubi kayu sebagai sumber pangan sekaligus harapan memperoleh penghasilan dalam jangka panjang.

Anastasia mengatakan, keluarganya sempat menerima bantuan setelah erupsi terjadi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir mereka tidak lagi memperoleh bantuan.

Hingga kini, keluarga tersebut masih bertahan dalam berbagai keterbatasan. Atap tempat tinggal mereka bocor dan belum tersedia penerangan pada malam hari.

Anastasia berharap pemerintah kembali memberikan perhatian kepada para penyintas Gunung Lewotobi Laki-Laki yang hingga kini masih berjuang membangun kembali kehidupan mereka.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.