Kapal LNG Qatar Ludes Terbakar Saat Lintasi Selat Hormuz, Iran Dituding Jadi Biang Kerok
Nuryanti July 07, 2026 10:23 PM

TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah dua kapal tanker diserang di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.

Salah satu kapal tanker gas alam cair atau LNG bahkan terbakar hebat setelah terkena proyektil saat melintas di perairan dekat Oman, Selasa (7/7/2026).

Serangan terbaru ini memicu kekhawatiran global karena Selat Hormuz merupakan jalur penting yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia pada masa damai.

Militer Inggris melalui United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menyebut kapal tanker tersebut terkena serangan di sisi kiri kapal ketika sedang berlayar keluar dari Selat Hormuz menuju Teluk Oman.

Meski tidak ada tumpahan minyak maupun pencemaran lingkungan yang dilaporkan, insiden tersebut langsung memicu penyelidikan internasional.

Mengutip dari Middle East Monitor, salah satu kapal yang diserang diketahui merupakan kapal tanker LNG milik Qatar bernama Al Rekayyat. Kapal itu dilaporkan mengalami kebakaran di ruang mesin setelah dihantam drone pada malam hari.

Dalam rekaman komunikasi darurat yang dikutip Reuters, kapten kapal terdengar meminta bantuan sambil melaporkan kondisi kapal yang dipenuhi asap tebal.

“Mayday, mayday. Ini kapal LNG Al Rekayyat. Kami diserang drone di sisi kiri di atas ruang mesin,” ujar sang kapten dalam rekaman radio tersebut.

Seluruh awak kapal dilaporkan selamat dan sedang dievakuasi. Namun sumber keamanan maritim menyebut kebakaran pada kapal LNG sangat berbahaya karena berisiko memicu ledakan besar.

Selain Al Rekayyat, sebuah kapal tanker minyak mentah berbendera Arab Saudi juga dilaporkan mengalami kerusakan di wilayah yang sama.

Baca juga: Pakar Militer: Prancis-Inggris Tak akan Mampu Bersihkan Ranjau Selat Hormuz Tanpa Izin Iran

Pemerintah Qatar langsung menuding Iran bertanggung jawab atas serangan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menyebut serangan itu sebagai ancaman serius terhadap keamanan pelayaran internasional dan pasokan energi global.

Qatar juga menilai tindakan tersebut melanggar hukum internasional dan meminta Iran menghentikan aktivitas yang mengganggu stabilitas kawasan.

Iran Belum Klaim Serangan Secara Resmi

Hingga kini belum ada klaim resmi dari pemerintah Iran terkait serangan tersebut. Namun media pemerintah Iran menyebut kapal tanker yang diserang diduga mengabaikan jalur pelayaran yang telah ditetapkan Teheran di Selat Hormuz.

Sebelumnya, militer Iran memang memperingatkan seluruh kapal tanker agar hanya menggunakan rute pelayaran yang telah disetujui pemerintah Iran.

Teheran juga memperingatkan bahwa campur tangan militer Amerika Serikat di kawasan itu akan mendapat “reaksi cepat dan tegas.”

Pemerintah Iran selama ini menegaskan bahwa mereka memiliki hak mengontrol jalur pelayaran di Selat Hormuz, termasuk kemungkinan mengenakan biaya bagi kapal yang melintas.

Amerika Serikat dan negara-negara Teluk Arab menolak keras gagasan tersebut karena dianggap mengancam kebebasan navigasi internasional.

Serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz kembali menegaskan betapa rapuhnya stabilitas kawasan Teluk Persia.

Selama bertahun-tahun, jalur laut tersebut menjadi titik panas konflik geopolitik dunia karena perannya yang sangat penting dalam distribusi energi global.

Setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi mengguncang harga minyak dunia dan memicu ketegangan militer lebih luas di Timur Tengah.

Para analis menilai situasi saat ini sangat berbahaya karena terjadi di tengah hubungan yang masih memanas antara Iran, Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Teluk Arab.

Pemakaman Khamenei Picu Gelombang Anti-Amerika

Di tengah memanasnya ketegangan di Selat Hormuz, Iran juga tengah menghadapi suasana berkabung nasional setelah wafatnya mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Ratusan ribu warga terus memadati kota suci Qom untuk mengikuti rangkaian prosesi pemakaman yang berlangsung selama beberapa hari terakhir.

Televisi pemerintah Iran menayangkan lautan manusia berjalan menuju Masjid Jamkaran sambil membawa foto Ali Khamenei serta putranya, Mojtaba Khamenei, yang kini disebut-sebut sebagai penerus pengaruh politik dan keagamaan keluarganya di Iran.

Suasana duka dalam prosesi tersebut juga diwarnai gelombang sentimen anti-Amerika. Dalam beberapa iring-iringan pemakaman, terdengar teriakan dan slogan keras yang mengecam Amerika Serikat serta Presiden Donald Trump. 

Sebagian pelayat bahkan menyerukan ancaman terhadap Washington di tengah meningkatnya ketegangan hubungan Iran dengan AS dan Israel.

Pemerintah Iran memperketat pengamanan selama masa berkabung nasional dengan menutup sejumlah jalan utama, membatasi aktivitas publik, hingga menutup wilayah udara tertentu demi mengamankan jalannya prosesi pemakaman.

Pemakaman Ali Khamenei dijadwalkan berlangsung hingga Kamis mendatang sebelum jenazah dimakamkan secara resmi di kompleks makam Imam Reza di Mashhad, kota kelahirannya sekaligus salah satu lokasi paling suci bagi umat Syiah di dunia.

Bagi Iran, prosesi pemakaman ini bukan sekadar penghormatan terakhir bagi seorang pemimpin tertinggi, tetapi juga menjadi simbol persatuan politik dan keagamaan di tengah situasi kawasan yang semakin tidak stabil akibat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

(Tribunnews.com / Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.