TRIBUNMANADO.CO.ID - Upaya pemulihan sektor peternakan pascawabah terus digenjot Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Sebanyak 546 ekor bibit babi asal Denmark dilaporkan telah tiba di Bumi Nyiur Melambai.
Langkah impor ini diambil guna memperkuat kembali populasi ternak babi lokal yang sempat merosot dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah berharap kehadiran bibit unggul ini mampu menggenjot angka produksi ternak di Sulut.
Dalam jangka panjang, program ini ditargetkan dapat memenuhi tingginya kebutuhan konsumsi daging babi masyarakat sekaligus menstabilkan fluktuasi harga di pasaran.
Kendati demikian, angin segar dari kebijakan impor ini tampaknya belum akan dirasakan dalam waktu dekat oleh para pedagang di pasar tradisional Kota Manado.
Mengingat komoditas yang didatangkan masih berupa bibit, para pedagang memprediksi harga daging babi yang saat ini melonjak masih akan bertahan di level tinggi.
Kondisi ini berkaca pada pengalaman sebelumnya, di mana kedatangan ratusan ekor babi pasokan pemerintah ternyata belum mampu menekan harga di tingkat eceran.
Nio, salah seorang pedagang daging babi di Pasar Bersehati Manado, mengungkapkan bahwa harga daging babi saat ini masih tertahan di kisaran Rp85 ribu hingga Rp95 ribu per kilogram. Bahkan, untuk bagian-bagian tertentu, harganya bisa jauh lebih mahal.
“Belum ada pengaruhnya karena yang datang itu masih bibit. Belum bisa langsung dipotong untuk dijual. Jadi harga daging masih tetap seperti sekarang,” ujarnya, Rabu (9/7/2026).
Bibit-bibit babi tersebut masih membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk tumbuh hingga mencapai bobot siap potong dan layak dipasarkan.
Faktor inilah yang membuat pasokan daging di pasar belum akan bertambah dalam waktu singkat.
Selain faktor pertumbuhan ternak, Nio membeberkan bahwa distribusi pasokan impor sebelumnya cenderung belum menyentuh pedagang kecil secara langsung.
“Dan selama ini kedatangan ratusan ekor babi belum memberikan dampak bagi kami di Pasar karena diberikan langsung ke pengusaha,” tuturnya.
Meski begitu, para pedagang tetap menaruh harapan besar pada dampak jangka panjang dari program ini.
Mereka berharap populasi babi di Sulut bisa kembali melimpah agar rantai pasok kembali normal.
“Kalau populasinya bertambah tentu harapannya harga bisa turun. Tapi itu mungkin nanti, bukan sekarang,” katanya.
Saat ini, tantangan terbesar yang dihadapi para pedagang lokal adalah tingginya biaya operasional akibat kelangkaan stok di sekitar Manado.
Mereka terpaksa mencari pasokan babi hidup hingga ke luar kota, yang berimbas pada membengkaknya biaya transportasi.
“Kita ambil babi dari berbagai daerah karena dekat-dekat sudah sangat sulit jadi kita harus putar otak dan itu pasti harganya mahal. Sehingga kami berharap banyak dari program ini karena memang harga daging saat ini sulit dijangkau,” ungkapnya.
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini