Tumpahan Batu Bara di Pangandaran Sebabkan Benur Mati Massal, Jeje Wiradinata: Sekarang Terbukti
Seli Andina Miranti July 09, 2026 01:11 PM

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran, Jeje Wiradinata, menegaskan bahwa kekhawatiran nelayan terhadap dampak tumpahan batu bara dari tongkang Nautica 22 di perairan Cibenda Pangandaran, Jawa Barat, kini terbukti. 

Pernyataan itu disampaikan menyusul munculnya laporan kematian massal benur (bibit lobster) dan berbagai biota laut di kawasan terdampak.

Sebelumnya, tumpahan batu bara mencemari perairan Pangandaran usai kapal tongkang karam di Perairan Batukaras, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Selasa (16/6/2026).

Menurut Jeje, kondisi tersebut sekaligus membantah keraguan yang sebelumnya disampaikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pangandaran terkait usulan HNSI agar aktivitas di kawasan perairan terdampak ditutup sementara.

Baca juga: Tumpahan Batu Bara Kian Ancam Ekosistem Pesisir Pangandaran dan Nelayan, Pemkab Masih Tunggu Bukti

"Saya kecewa benar sama Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan. Dua tiga hari yang lalu mereka meng-counter pernyataan saya, mempertanyakan apa dasarnya penutupan sementara. Saya bilang dasarnya sudah ada, material batu bara yang tumpah itu mengandung B3 seperti arsenik, merkuri, dan lainnya," ujar Jeje kepada sejumlah wartawan di Kampung Turis Pamugaran, Rabu (8/7/2026) malam.

Ia menilai, fakta di lapangan kini membuktikan tumpahan batu bara sudah menimbulkan dampak serius terhadap ekosistem laut dan mata pencaharian nelayan.

"Sekarang terbukti kan? Omongan saya itu terbukti setelah benar-benar banyak yang mati," ucapnya.

Dalam pertemuan informal yang difasilitasi Bupati Pangandaran di Kampung Turis pada Rabu (8/7/2026) malam, HNSI menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemda dan pihak perusahaan yang bertanggung jawab atas muatan tongkang.

Tuntutan pertama, penutupan sementara kawasan perairan yang terdampak guna menghentikan seluruh aktivitas sebagai langkah mitigasi awal sekaligus mencegah dampak lebih luas terhadap ekosistem laut.

Selain itu, HNSI meminta perusahaan pemilik muatan batu bara memberikan kompensasi kepada nelayan yang kehilangan mata pencaharian akibat pencemaran, sekaligus membiayai pemulihan kawasan konservasi yang terdampak.

Baca juga: Pencemaran Batu Bara di Pangandaran Terancam Meluas, DPRD Pangandaran Desak Satgas Segera Dibentuk

Jeje pun menegaskan, prioritas utama saat ini bukan pengangkatan bangkai tongkang, melainkan pembersihan material batu bara yang sudah mengendap di dasar laut.

"Bagi saya, pengangkatan kapal tongkang itu tidak penting, itu urusan nomor sepuluh. Yang paling utama adalah pengangkatan material batu bara di dasar laut karena itu yang meracuni lingkungan," kata Jeje. *

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.