TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN – Inilah kesaksian lengkap Winardi, pemilik kafe di Nunukan Kaltara yang dihantam angin puting beliung.
Puting beliung yang menerjang kawasan Jalan Lingkar, Kelurahan Selisun, Kecamatan Nunukan Selatan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, pada Kamis (25/6/2026) sekitar pukul 11.43 Wita lalu tak hanya merusak bangunan.
Bencana yang datang dalam hitungan menit itu, juga mengancam roda usaha Cafe dan Resto Nabastala, yang baru beroperasi kurang dari dua bulan.
Pemilik Cafe dan Resto Nabastala, Winardi, mengaku masih menghitung total kerugian akibat kerusakan pada bangunan.
Namun, menurutnya, kehilangan potensi pendapatan menjadi dampak yang paling dirasakan apabila proses perbaikan memakan waktu lama.
"Kalau akhir pekan biasanya pendapatan bisa sampai Rp10 juta per hari.
Hari biasa sekitar Rp3 juta sampai Rp5 juta.
Jadi kalau tutup lama tentu sangat terasa," ujar Winardi dalam program SaksiKata kepada TribunKaltara.com belum lama ini.
Baca juga: Puting Beliung Terjang Kelurahan Selisun di Nunukan dan Rusak Enam Bangunan
Winardi menuturkan, saat puting beliung terjadi kondisi kafe sedang buka.
Beruntung tidak ada pelanggan yang sedang menikmati hidangan, karena cuaca sudah lebih dulu berubah menjadi gerimis.
"Kebetulan tidak ada pengunjung.
Yang ada hanya karyawan, dan mereka langsung masuk ke dapur saat angin datang," katanya.
Ia mengisahkan perubahan cuaca berlangsung sangat cepat.
Awalnya hanya gerimis, kemudian langit mendadak gelap disertai embusan angin yang semakin kencang sebelum akhirnya menghantam bangunan.
"Awalnya normal saja.
Tiba-tiba mendung, angin kencang lalu hujan deras.
Kejadiannya cepat sekali," ucapnya.
Terjangan angin menyebabkan puluhan genteng beterbangan dari atap bangunan.
Menurut Winardi, setiap keping genteng memiliki berat sekitar satu kilogram, namun tetap terangkat oleh pusaran angin.
"Melihat genteng beterbangan seperti layangan itu benar-benar membuat kami kaget.
Padahal berat satu kepingnya sekitar satu kilogram," tuturnya.
Selain merusak genteng, angin juga menghancurkan plafon, serta atap berbahan daun nipah, di beberapa bagian bangunan.
Kerusakan tersebut membuat pihaknya harus segera melakukan perbaikan, agar operasional usaha tidak berhenti terlalu lama.
Namun, proses perbaikan terkendala ketersediaan material.
Genteng yang digunakan di bangunan tersebut tidak tersedia di Nunukan, sehingga harus didatangkan dari Surabaya.
"Sudah kami pesan, tapi tentu butuh waktu pengiriman.
Sementara kami cari solusi supaya bangunan tetap bisa digunakan," katanya.
Baca juga: Puting Beliung Terjang Bangunan di Tana Lia, Wakil Bupati KTT Hendrik Imbau Warga Waspada Bencana
Selama menunggu material datang, Winardi bersama para karyawan dan dibantu keluarga serta teman-temannya membersihkan puing-puing bangunan yang berserakan di sekitar lokasi.
Menurutnya, dukungan dari berbagai pihak menjadi penyemangat agar usahanya bisa kembali beroperasi secepat mungkin.
"Alhamdulillah banyak yang datang membantu.
Kami anggap ini sebagai ujian.
Mudah-mudahan ada rezeki untuk memperbaiki semuanya dan usaha ini bisa kembali berjalan normal," pungkasnya.
(*)
Penulis: Fatimah Majid