TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Menjaga eksistensi sebuah bisnis kuliner agar mampu melintasi pergantian zaman bukanlah perkara mudah.
Tantangan ini berhasil dijawab oleh Pia Zhang, kuliner bakpia legendaris asal Palembang, Sumatra Selatan, yang telah mewarnai daftar jajanan lokal sejak tahun 1939.
Di bawah pengelolaan generasi ketiga, usaha keluarga ini terbukti tetap kokoh berdiri di tengah gempuran tren kuliner modern.
Hadir dalam program podcast Women's Corner di Graha Tribun yang beralamat Jalan Letjen H. Alamsyah Ratu Prawira Negara Nomor 120, Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang, Sumatera Selatan, Erlina Zhang selaku pemilik generasi ketiga sekaligus Ketua UMKM Kreatif Sumsel, membagikan kisah perjalanan panjang lini bisnis peninggalan sang kakek.
Usaha yang berawal dari kesederhanaan rumah tangga tersebut kini bertransformasi menjadi salah satu ikon oleh-oleh yang diperhitungkan di Sumatra Selatan.
Ketua UMKM Kreatif Sumsel ini mengisahkan bahwa identitas brand "Pia Zhang" diambil dari marga sang kakek, seorang perantau asal Tiongkok yang tiba di Palembang pada tahun 1918 dan mulai merintis usaha bakpia pada era 1930-an.
Sempat diteruskan oleh sang ayah yang berprofesi sebagai guru, estafet bisnis tersebut kini berada di tangan Erlina.
Menurut Erlina, salah satu kunci utama yang membuat produknya tidak tergerus waktu adalah kekuatan cerita dan nilai historis (value of story) yang tertanam di dalamnya, selain komitmen menjaga kualitas rasa.
"Kekuatan dari produk kita adalah karena kita sudah dikenal dari generasi ke generasi. Nah, itu yang harus dipertahankan. Itu yang menjadi nilai paling besar ya menurut saya dari sebuah produk," ungkap Erlina Zhang dalam tayangan Podcast Women's Corner Tribun Sumsel yang tayang pada Rabu (8/7/2026).
Baca juga: ASITA Sumsel Sebut Kunjungan Turis Malaysia ke Palembang Melonjak di Tengah Rupiah Melemah
Bagi Erlina, menjalankan Pia Zhang bukan sekadar aktivitas komersial mencari keuntungan materi, melainkan ada tanggung jawab besar untuk menjaga warisan kehormatan keluarga yang telah dibangun puluhan tahun silam.
"Dikenal dari generasi ke generasi dan juga bukan hanya dikenal produknya tapi juga dikenal dari sebuah nama baik. Kakek saya, saya percaya banyak orang yang kenal beliau di masa waktu beliau masih hidup. Beliau adalah orang yang sangat baik, dikenal dan juga menjadi panutan pada masa hidupnya, semasa hidupnya. Dan nama baik ini untuk mempertahankannya ya itu adalah salah satu passion saya," tambahnya dalam podcast tersebut.
Meskipun saat ini jangkauan pasarnya sudah semakin luas dan berhasil masuk ke berbagai jaringan toko oleh-oleh modern terkemuka di Palembang termasuk Diamond Supermarket dan seluruh outlet Pempek Beringin, Pia Zhang secara konsisten tetap mempertahankan sistem produksi berskala rumahan demi menjaga keaslian cita rasanya.
Erlina meyakini bahwa keterikatan emosional dan rasa bangga terhadap produk yang dibuat menjadi energi tersendiri yang membuat kuliner ini selalu dicari pelanggan setianya.
"Dari rumah kita bisa produksi. Sampai hari ini kami masih produksi di rumah, masih sesederhana itu. Tapi ini adalah sebuah usaha keluarga yang turun-temurun. Kemudian tetap cita rasanya dipertahankan. Kemudian juga kekuatannya ya itu dari keluarga," jelas Erlina.
"Kalau produk itu dibuat diproduksi dengan satu cinta ya, ada satu kebanggaan, kecintaan pasti laku karena ada cinta di situ. Sehingga pada saat kita mencintai produk itu orang lain juga rasa itu akan nyampai sampai ke setiap orang. Nah, itu yang value yang saya pertahankan," tambahnya.
Berkaca dari kesuksesan Pia Zhang yang mampu bertahan hampir satu abad, Erlina memberikan motivasi mendalam bagi para perempuan dan ibu rumah tangga yang ingin merintis usaha sendiri.
Ia menyarankan agar tidak sekadar ikut-ikutan tren pasar, melainkan jeli melihat potensi kuliner tersembunyi yang ada di dalam rumah masing-masing.
"Jangan terlalu mudah untuk melihat oh orang itu sukses bikin ini gitu. Wah, kita semua ikut bikin gitu ya. Tapi kita lihat apa yang ada pada diri kita," saran Erlina.
Ia menekankan bahwa resep masakan sehari-hari yang disukai oleh keluarga merupakan modal awal yang paling potensial jika dikembangkan dengan serius.
"Jadi buat perempuan-perempuan yang ada di luar sana, lihatlah keluarganya. Lihat apa kekuatan yang ada di keluargamu masing-masing. Apa masakan favorit mamanya apa gitu. Karena kalau enak di keluarga kita, enak di lidah kita, itu pasti enak di lidah orang lain," pungkasnya.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com