KISAH Janda Miskin di Polman Bansos Terhenti Sering Ditipu Orang Pakai Uang Palsu & Dagangan Dicuri
Ilham Mulyawan July 09, 2026 08:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN - “Barangnya orang lain yang saya jual, saya hanya ambil sedikit keuntungan,” kata janda miskin lanjut usia (lansia) bernama Patimah (60), warga di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) kepada Tribun-Sulbar, Kamis (9/7/2026).

Usianya tak lagi muda, namun dia masih harus berjuang mencari nafkah demi menyambung hidup sejak ditinggal sang suami.

Sehari-hari Patimah berjualan di Pasar Induk Wonomulyo, Kecamatan Wonomulyo. 

Baca juga: Selama 15 Tahun Warga Bulurembu Mamuju Tengah Perbaiki Jalan Tani Secara Swadaya

Baca juga: Tangkal Disinformasi Humas Pemprov Sulbar Media Visit ke Kantor Redaksi Tribun Sulbar

Lapaknya sederhana saja, berukuran sekria 2 x 2 meter.

Di Lapak tersebut, Patimah menjual hasil bumi seperti pisang, singkong, ubi jalar, gula, dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya.  

Seluruh barang dagangan tersebut bukan miliknya, melainkan titipan warga yang dia jual dengan sedikit keuntungan.

“Hanya ambil sedikit keuntungan saja,” kata Patimah kepada wartawan.

Hanya erjualan satu-satunya jalan hidup Patimah, karena dia tidak memiliki sumber penghasilan lain.

Bahkan, Patimah rela bermalam di lapak demi menghemat biaya transportasi pulang pergi ke rumahnya yang berjarak cukup jauh dengan pasar. 

Dia rela tidur di lapak tak berdinding tersebut, meski hanya beralaskan selembar papan.

Sesekali Patimah terbangun saat merasakan dinginnya malam yang seolah mampu merobek kulitnya yang keriput. 

Ataupun ketika mendengar suara kendaraan atau langkah kaki warga yang melintas di depan lapaknya.

“Bermalam di pasar siang malam, tidak pernah pulang ke rumah karena biaya pulang mahal,” ungkapnya.

Meski sepanjang hari menghabiskan waktu di pasar untuk berjualan, kerja keras Patimah belum tentu membuahkan hasil. 

Dalam sehari, keuntungan yang diperolehnya sangat sedikit, berkisar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu.

Tidak jarang dia hanya dapat mengelus dada, lantaran tak satupun barang dagangannya yang terjual.

Korban Penipuan

Ironis, di balik kerasnya perjuangan yang harus dijalani untuk mencari nafkah, Patimah beberapa kali menjadi korban tindak kejahatan saat berjualan di pasar. 

Modus pelaku beragam, mulai berbelanja menggunakan uang palsu hingga membawa kabur barang dagangan saat Patimah lengah.

“Sering tertipu, ada yang pernah beli ubi pakai uang palsu 100 ribu, kita kasih kembaliannya 90 ribu. Pernah juga waktu saya pergi mandi, gula sekitar 10 kilogram dibawa kabur pencuri. Terpaksa saya yang mengganti karena barang itu milik orang,” tuturnya.

Cobaan hidup yang harus dijalani Patimah akibat kondisi ekonomi yang serba terbatas terasa semakin bera.

Lantaran tidak lagi menerima bantuan sosial (bansos) dari pemerintah. Padahal, bantuan tersebut pernah dirasakan beberapa tahun lalu. 

Namun, tanpa mengetahui penyebabnya, bantuan itu berhenti dan hingga kini tidak pernah lagi diterimanya.

“Sudah lama tidak terima bantuan. Dulu pernah dapat bantuan uang Rp300 ribu sekitar dua atau tiga kali. Setelah itu tidak pernah lagi. Saya juga tidak tahu kenapa, tidak pernah ada yang menjelaskan,” pungkasnya.(*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.