WHO Peringatkan Lonjakan Kasus Kanker Global, Proyeksi 35 Juta Kasus Baru di Tahun 2050
Willem Jonata July 10, 2026 05:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan dunia akan menghadapi lonjakan besar kasus kanker apabila upaya pencegahan tidak diperkuat sejak sekarang.

Dalam Laporan Status Global Kanker 2026 yang dirilis Rabu (8/7/2026), WHO memproyeksikan jumlah kasus kanker baru di dunia akan meningkat dari sekitar 20,6 juta kasus per tahun menjadi hampir 35 juta kasus pada 2050.

Baca juga: Fakta Medis Endometriosis, Hamil Anggur, dan Kanker Rahim, Ketahui Perbedaannya

Peringatan tersebut menjadi perhatian bagi masyarakat Indonesia mengingat sebagian besar faktor risiko kanker sebenarnya dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup dan pencegahan penyakit infeksi.

WHO mencatat kanker saat ini masih menjadi penyebab kematian terbesar kedua di dunia setelah penyakit kardiovaskular. 

Setiap hari, lebih dari 26 ribu orang meninggal akibat kanker, dengan hampir 10 juta kematian setiap tahun.

Banyak Faktor Risiko Berasal dari Kebiasaan Sehari-hari

WHO menyebut hampir empat dari sepuluh kasus kanker di dunia berkaitan dengan faktor risiko yang sebenarnya bisa dicegah.

Beberapa di antaranya adalah penggunaan tembakau, konsumsi alkohol, obesitas atau indeks massa tubuh tinggi, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, hingga infeksi seperti human papillomavirus (HPV), hepatitis B dan C, serta Helicobacter pylori.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa perubahan pola hidup masyarakat membuat profil kanker juga ikut berubah.

"Meskipun kita melihat penurunan beberapa angka kejadian kanker di negara-negara yang telah menerapkan kebijakan pencegahan, kemajuannya terlalu lambat," kata Direktur Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) WHO, Dr. Elisabete Weiderpass dilansir dari website WHO, Kamis (9/7/2026). 

"Profil kanker terus berkembang, semakin didorong oleh meningkatnya angka obesitas, kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, dan polusi udara. Pencegahan kanker harus tetap menjadi prioritas politik,"lanjutnya. 

Kanker Bukan Hanya Masalah Kesehatan

WHO juga menyoroti bahwa dampak kanker tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan, tetapi juga kondisi ekonomi dan psikologis keluarga.

Survei WHO terhadap penyintas kanker menemukan sedikitnya 45 persen pasien mengalami kesulitan keuangan, lebih dari separuh menghadapi masalah kesehatan mental.

Sementara hampir seluruh anggota keluarga yang menjadi pendamping ikut mengalami tekanan karena beban perawatan dan isolasi sosial.

Menurut WHO, sebagian besar orang akan bersentuhan dengan kanker, baik sebagai pasien maupun melalui anggota keluarga dekat.

Akses Pengobatan Masih Belum Merata

Meski berbagai negara telah meningkatkan komitmen dalam pengendalian kanker, WHO menilai kesenjangan layanan masih sangat besar.

Saat ini, kurang dari sepertiga negara memasukkan layanan kanker ke dalam paket jaminan kesehatan universal.

Perbedaan peluang hidup pasien juga masih mencolok. 

WHO mencatat 87 persen perempuan dengan kanker payudara di negara berpenghasilan tinggi mampu bertahan hidup selama lima tahun setelah diagnosis, sedangkan di negara berpenghasilan rendah angkanya hanya sekitar 42 persen.

Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa perbedaan tersebut seharusnya tidak terjadi.

"Kanker adalah penyakit yang sangat pribadi yang menyentuh hampir semua dari kita. Tetapi apakah seseorang selamat dari kanker seharusnya tidak pernah bergantung pada tempat mereka dilahirkan atau berapa penghasilan mereka,"kata dr Tedros. 

Karena itu, WHO menyerukan seluruh negara memperkuat upaya pencegahan, meningkatkan akses diagnosis dan pengobatan.

Serta memastikan layanan kanker menjadi bagian dari sistem kesehatan yang adil agar lonjakan kasus pada masa mendatang dapat ditekan.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.