Sabrina Chairunnisa Mundur dari S3 Ilmu Komunikasi UI, Ungkap Alasan Pindah ke New York
Maudy Asri Gita Utami July 10, 2026 03:30 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID-  Model sekaligus influencer Sabrina Chairunnisa mengumumkan keputusan mengejutkan dengan mengundurkan diri dari Program Doktor (S3) Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI). 

Keputusan tersebut disampaikan langsung melalui akun Instagram pribadinya dan langsung menarik perhatian publik, terutama karena Sabrina juga mengungkap sejumlah pandangannya mengenai sistem perkuliahan doktoral di Indonesia, khususnya terkait aturan kehadiran atau absensi yang menurutnya masih sangat ketat.

Dalam unggahan di media sosial, Sabrina mengaku keputusan meninggalkan bangku kuliah doktor bukanlah hal yang mudah.

Ia mengaku memiliki banyak kenangan dan harapan saat memulai studi di Universitas Indonesia. 

Namun, perubahan prioritas dalam hidup membuatnya harus memilih jalan yang berbeda demi rencana masa depan yang kini tengah dipersiapkannya.

"Sulit rasanya melepaskan sesuatu yang dulu sangat berarti, tapi terkadang melangkah maju berarti memiliki keberanian untuk memilih jalan yang berbeda. 

• KIP Kuliah 2026 Jalur Mandiri PTN dan PTS Dibuka, Simak Cara Daftar serta Jadwal Lengkap

Segala sesuatu berubah. Rencana berubah. Orang berubah. Tapi satu hal tetap sama, kita harus terus bergerak maju. Sampai jumpa, UI," tulis Sabrina dalam unggahannya.

Selain mengumumkan pengunduran dirinya, Sabrina juga menyoroti kebijakan absensi yang masih menjadi salah satu syarat penting dalam mengikuti ujian akhir maupun kelulusan di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. 

Menurutnya, sistem tersebut seharusnya dapat lebih fleksibel, terutama bagi mahasiswa program doktor yang juga memiliki tanggung jawab pekerjaan maupun aktivitas profesional.

Ia berharap perguruan tinggi di Indonesia dapat mengadopsi pendekatan yang diterapkan sejumlah universitas luar negeri, di mana penilaian lebih menitikberatkan pada kualitas riset, proyek akademik, dan hasil akhir dibandingkan tingkat kehadiran di kelas.

"Semoga ke depan universitas-universitas di Indonesia tidak lagi menjadikan absensi sebagai bobot utama atau syarat mengikuti ujian akhir seperti yang diterapkan di banyak negara lain," ungkapnya.

Dalam kolom komentar unggahannya, Sabrina turut menanggapi pendapat warganet yang membandingkan sistem pendidikan Indonesia dengan luar negeri.

Ia mengaku sepakat bahwa banyak universitas internasional lebih mengutamakan hasil penelitian dan capaian akademik daripada kehadiran mahasiswa di ruang kuliah.

Sebagai contoh, Sabrina menyebut sistem pendidikan di Singapura yang menurutnya memiliki standar akademik sangat tinggi, tetapi tidak menjadikan absensi sebagai fokus utama dalam proses penilaian mahasiswa.

Ia juga mengungkapkan bahwa Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia hanya menyediakan jalur reguler yang mengharuskan mahasiswa mengikuti perkuliahan tatap muka sekaligus menjalankan penelitian. 

Menurutnya, jadwal perkuliahan yang hanya berlangsung satu mata kuliah dalam satu hari dinilai kurang efisien bagi mahasiswa yang tetap aktif bekerja.

"UI masih sangat mempertimbangkan absensi. Jadwal kuliahnya satu mata kuliah per hari sehingga cukup menyita waktu. Padahal tidak semua mahasiswa S3 memiliki keleluasaan untuk berhenti bekerja atau mengambil cuti selama masa studi," jelasnya.

Sabrina menambahkan bahwa keputusannya meninggalkan program doktor bukan semata-mata karena aturan absensi, melainkan karena dirinya akan memulai kehidupan baru di New York, Amerika Serikat.

Dengan rencana kepindahan tersebut, menurutnya sudah tidak memungkinkan lagi mengikuti perkuliahan tatap muka di Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa saat pertama kali mendaftar kuliah doktor, kondisi hidupnya berbeda dengan saat ini. Namun seiring berjalannya waktu, berbagai rencana berubah sehingga ia harus menentukan prioritas baru.

"Program Doktor Ilmu Komunikasi UI tidak memiliki jalur research only. Semua mahasiswa tetap harus menjalani perkuliahan reguler dan penelitian. Saat ini saya memang sedang mempersiapkan kehidupan baru di New York sehingga sudah tidak memungkinkan lagi tinggal di Indonesia hanya untuk memenuhi kewajiban tatap muka," katanya.

• Sambut Kapolda Kalbar Irjen Pol Alberd Teddy, Sujiwo Harap Sinergi Polri dan Pemda Diperkuat

Dalam kesempatan lain, Sabrina juga mengungkapkan bahwa karier dan aktivitas sosial kini menjadi fokus utamanya. 

Ia mengatakan memiliki tanggung jawab terhadap sekitar 100 penerima Beasiswa Sabrina Chairunnisa, sehingga harus memberikan perhatian penuh terhadap program tersebut.

Berdasarkan data pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, status akademik Sabrina saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa cuti.

 Ia diketahui mulai menempuh pendidikan doktor di Universitas Indonesia pada Februari 2025, sementara perubahan status menjadi mengundurkan diri belum tercantum dalam sistem.

Saat ini Sabrina berada di Korea Selatan untuk mengikuti program summer school. Setelah kegiatan tersebut selesai, ia berencana kembali ke Indonesia dalam waktu singkat sebelum melanjutkan kepindahannya ke New York.

Menurut Sabrina, keputusan tersebut merupakan bagian dari perjalanan hidup dan penyesuaian terhadap prioritas baru yang kini dijalaninya. 

Sementara itu, harapannya mengenai sistem absensi di perguruan tinggi Indonesia disampaikan sebagai masukan agar pendidikan tinggi ke depan semakin adaptif terhadap kebutuhan mahasiswa yang memiliki beragam latar belakang dan aktivitas profesional. 

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.