Akademisi Ungkap Penyebab Antrean Panjang Pertalite di Bangka Tengah, Ada Efek Panic Buying
Asmadi Pandapotan Siregar July 12, 2026 07:25 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Bangka Tengah menjadi perhatian berbagai pihak. Antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) hingga penutupan sementara layanan Pertalite di salah satu SPBU dinilai menjadi faktor yang memicu meningkatnya kepadatan pembelian BBM.

Akademisi Ekonomi Universitas Pertiba, Dr Juhari SE MM, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat yang tidak sepenuhnya diimbangi dengan kapasitas pelayanan SPBU yang tersedia.

Ia menjelaskan, kondisi di Bangka Tengah juga dipengaruhi oleh adanya penutupan sementara layanan Pertalite di salah satu SPBU wilayah tersebut akibat pembinaan dari Pertamina.

"Kalau di Bangka Tengah salah satunya karena ada SPBU yang ditutup sementara. Kemungkinan itu menjadi salah satu penyebab masyarakat berpindah dan mengantre di SPBU lain," kata Juhari kepada Bangkapos pada Minggu (12/07/2026).

Menurut Juhari, lonjakan permintaan juga terlihat dari peningkatan pasokan Pertalite di SPBU Berok, Koba. Jika sebelumnya pasokan berada di kisaran 16 ribu liter, kini meningkat hingga 24 ribu liter per hari.

Namun, kata dia, peningkatan pasokan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan antrean karena jumlah kendaraan yang membutuhkan BBM juga meningkat.

"Ketika permintaan meningkat, otomatis antrean juga bertambah. Karena jumlah SPBU terbatas, sementara kebutuhan masyarakat terus berjalan," jelasnya.

Juhari menyebut kondisi saat ini dapat dipengaruhi fenomena panic buying atau pembelian berlebihan akibat kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan BBM.

"Ketika masyarakat melihat antrean, kemudian merasa khawatir stok berkurang, mereka ikut membeli lebih banyak. Ini yang menyebabkan permintaan meningkat dan antrean semakin panjang," katanya.

Menurutnya, BBM subsidi memiliki peran penting dalam aktivitas masyarakat, mulai dari kendaraan pribadi, usaha kecil, hingga sektor ekonomi lainnya.

Dr. Juhari, S.E., M.M., C.ME. - Akademisi Universitas Pertiba dan Anggota ISEI Bangka Belitung
Dr. Juhari, S.E., M.M., C.ME. - Akademisi Universitas Pertiba dan Anggota ISEI Bangka Belitung (Dokumentasi Juhari)

"BBM ini berkaitan dengan mobilitas masyarakat. Ada yang digunakan untuk bekerja, berjualan, transportasi, sampai usaha-usaha retail yang membutuhkan BBM," ujarnya.

Ia menjelaskan, ketika permintaan meningkat, dampak yang paling terasa bukan pada harga resmi BBM subsidi di SPBU, melainkan waktu tunggu masyarakat dan biaya tambahan yang muncul di tingkat pengecer.

"Kalau di SPBU harga tetap, tidak seperti hukum permintaan biasa yang ketika permintaan tinggi harga ikut naik. Tetapi dampaknya terjadi pada antrean yang panjang dan harga di luar SPBU yang bisa meningkat," katanya.

Saat ini, kata Juhari, harga Pertalite eceran di sejumlah lokasi dapat mencapai sekitar Rp15 ribu per liter, sedangkan Pertamax eceran berada di kisaran Rp18 ribu per liter.

Fenomena Pengerit

Selain antrean kendaraan, fenomena pengerit atau pembelian BBM dalam jumlah tertentu untuk dijual kembali juga menjadi perhatian.

Juhari mengatakan keberadaan pengerit tidak terlepas dari faktor ekonomi masyarakat yang mencari peluang pendapatan.

"Kalau pengerit, mereka juga melihat itu sebagai peluang mata pencarian. Lapangan kerja yang terbatas membuat sebagian orang mencari alternatif untuk mendapatkan penghasilan," jelasnya.

Namun, ia menegaskan pelayanan BBM kepada pengerit tetap harus mengikuti aturan yang berlaku.

"Secara aturan seharusnya tidak boleh karena ada ketentuan dari Pertamina. Tetapi di sisi lain, fenomena ini muncul karena ada kebutuhan masyarakat dan peluang ekonomi yang mereka lihat," katanya.

Menurutnya, pemerintah dan pihak terkait perlu melihat persoalan ini secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi penyaluran BBM, tetapi juga kondisi ekonomi masyarakat yang terlibat.

"Ini persoalan yang saling berkaitan. Ada kebutuhan masyarakat, ada peluang usaha, dan ada aturan yang harus dipatuhi," tutupnya.

Event dan Aktivitas Ekonomi Tetap Berjalan

Bangka Tengah dalam beberapa waktu terakhir memang tengah gencar menggelar berbagai kegiatan, mulai dari konser, bazar UMKM, hingga pertandingan olahraga yang menarik pengunjung dari luar daerah.

Juhari menilai meningkatnya aktivitas tersebut ikut mendorong mobilitas masyarakat, meski dampaknya terhadap ekonomi daerah tidak terlalu besar.

"Kalau ada event tentu ada dampaknya, karena banyak orang datang dan aktivitas meningkat. Tetapi untuk mobilitas masyarakat sebenarnya banyak faktor yang memengaruhi," ujarnya.

Menurutnya, masyarakat masih memiliki pilihan alternatif ketika Pertalite sulit diperoleh, seperti menggunakan BBM non-subsidi.

"Ketika barang utama tidak tersedia, konsumen biasanya mencari barang pengganti atau substitusi. Bisa menggunakan Pertamax atau jenis BBM lain, yang penting kendaraan tetap bisa berjalan," katanya. (Bangkapos.com/Erlangga)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.