Miris, 3 SD di Bengkulu Tengah Tak Dapat Murid Baru dan 31 Sekolah Terima Kurang dari 10 Siswa
Hendrik Budiman July 14, 2026 02:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Sebanyak tiga sekolah dasar (SD) di Kabupaten Bengkulu Tengah tidak mendapatkan satu pun murid baru pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027.

Tak hanya itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bengkulu Tengah juga mencatat sebanyak 31 SD lainnya hanya menerima kurang dari 10 siswa baru, sehingga menjadi perhatian dalam pemerataan layanan pendidikan di daerah tersebut.

Dari total 94 sekolah dasar yang membuka penerimaan siswa baru, terdapat tiga sekolah yang sama sekali tidak mendapatkan murid baru. 

Selain itu, 31 SD hanya menerima kurang dari 10 siswa, bahkan sembilan sekolah hanya memperoleh dua siswa.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Bengkulu Tengah, tiga sekolah yang tidak mendapatkan siswa baru yakni SD IT Ihyaul Qur'an, SDN 82 Bengkulu Tengah, dan SDN 85 Bengkulu Tengah.

Secara keseluruhan, kuota penerimaan siswa baru jenjang SD di Bengkulu Tengah mencapai 6.171 orang.

Namun, hingga SPMB ditutup hanya 1.599 siswa yang mendaftar dan diterima atau sekitar 26 persen dari total kuota. 

Baca juga: Gubernur Bengkulu Helmi Hasan Titip Pesan kepada Guru, Sambut Peserta Didik Baru dengan Kasih Sayang

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Bengkulu Tengah Erriyanto mengatakan, seluruh proses SPMB tahun 2026 baik jenjang SD maupun SMP telah berjalan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pemerintah.

"Alhamdulillah SPMB yang sudah kita lakukan di tahun 2026 ini, baik jenjang SMP maupun SD, sudah berakhir dan saat ini sekolah-sekolah sudah melaksanakan MPLS ramah anak. Kemudian SPMB di SMP dan SD juga sudah sesuai dengan aturan-aturan dari kementerian," kata Erriyanto saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Selasa (14/7/2026).

Meski demikian, ia mengakui hasil penerimaan siswa baru tahun ini cukup memprihatinkan karena masih ada sekolah yang tidak mendapatkan peserta didik sama sekali.

"Di Bengkulu Tengah sangat memprihatinkan, ada beberapa sekolah yang penerimaan siswa barunya kosong," ujarnya.

Menurut Erriyanto, sedikitnya jumlah siswa baru dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya karena jumlah anak usia sekolah di sejumlah desa memang terus berkurang.

Selain itu, keberadaan sekolah berbasis madrasah juga menjadi pilihan masyarakat sehingga jumlah calon siswa tersebar ke berbagai lembaga pendidikan.

"Pertama memang ketiadaan siswa di lingkungan sekolah atau di desa tersebut. Yang kedua, ada sekolah-sekolah lain seperti Madrasah Ibtidaiyah ataupun MTs yang juga membutuhkan murid, sehingga ada beberapa sekolah negeri yang kosong siswa barunya," jelasnya.

Tak hanya tiga sekolah tanpa murid, data Dikbud juga menunjukkan sembilan sekolah hanya menerima dua siswa baru, yakni SDN 14, SDN 19, SDN 28, SDN 44, SDN 50, SDN 55, SDN 59, SDN 86, dan SDN 91 Bengkulu Tengah.

Sementara itu, secara keseluruhan terdapat 31 SD yang hanya memperoleh kurang dari 10 siswa baru pada tahun ajaran ini.

Menyikapi kondisi tersebut, Erriyanto meminta seluruh sekolah yang mengalami kekurangan murid untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan agar kembali diminati masyarakat.

"Kami mengharapkan sekolah-sekolah yang tidak mendapatkan murid pada tahun ini untuk selalu giat, berpacu memperbaiki sekolahnya sehingga memiliki daya jual di mata masyarakat. Mudah-mudahan sekolah itu mendapatkan murid baru pada tahun depan sehingga keberlangsungan sekolah tetap terjaga," katanya.

Selain meningkatkan kualitas pembelajaran, sekolah juga didorong untuk terus melengkapi sarana dan prasarana pendidikan agar lebih menarik bagi masyarakat.

Menanggapi keterbatasan anggaran akibat minimnya jumlah siswa, Erriyanto menjelaskan bahwa Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) hanya dapat digunakan untuk operasional sekolah dan rehabilitasi ringan.

Sementara untuk pembangunan maupun peningkatan sarana dan prasarana, pihaknya berharap adanya dukungan anggaran dari pemerintah melalui program bantuan ataupun revitalisasi sekolah.

"Kalau dana BOS itu untuk operasional. Untuk sarana dan prasarana, kami mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah, baik dalam bentuk bantuan maupun revitalisasi. Dana BOS tidak bisa digunakan untuk membangun gedung, hanya untuk rehabilitasi ringan," tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.