Antrean Panjang BBM: Warga Curiga Penimbunan dan Alih Fungsi Subsidi
AbdiTumanggor July 14, 2026 04:27 PM

 

TRIBUN-MEDAN.com – Beberapa hari terakhir, sejak Sabtu (11/7/2026), sejumlah SPBU di Sumatera Utara mengalami kekosongan stok Bahan Bakar Minyak (BBM).

Kondisi ini terjadi di Kota Medan, Binjai, Pematangsiantar, hingga sejumlah wilayah di Kabupaten Simalungun.

Alasan kendala distribusi dari kilang Pertamina ini membuat masyarakat kesulitan mendapatkan pertalite, bio solar, bahkan pertamax.

Di sejumlah SPBU, antrean kendaraan mengular hingga ke jalan raya.

Bahkan, ada pengemudi truk dan bus yang memilih menginap di sekitar SPBU demi mendapatkan solar keesokan harinya. 

Seorang pengendara mengeluh: “Mau kerja pun susah payah minyak (BBM) gini.”

Berikut Ini Daftar SPBU yang Cepat-cepat Kehabisan Stok di Kota Pematangsiantar-Simalungun:

SPBU di Pematangsiantar

14.211.203: Jalan D.I. Panjaitan, Siantar Marihat

14.211.205: Jalan Ahmad Yani, Siantar Timur

14.211.206: Jalan Medan KM 4, Siantar Martoba

14.211.277: Jalan Sisingamangaraja, Siantar Sitalasari

SPBU di Simalungun

14.211.208: Jalan Asahan KM 17, Gunung Malela

14.211.214: Jalan Sisingamangaraja No.15, Parapat

14.211.271: Pulo Bayu, Huta Bayu Raja

14.211.275: Jalan Siantar–Tebing Tinggi KM 8, Sinaksak

14.211.300: Jalan Siantar–Parapat KM 14, Dolok Marlawan

14.221.245: Desa Balimbingan, Tanah Jawa

SPBU Kerasaan: Jalan Siantar–Perdagangan KM 31, Pematang Bandar

Baca juga: PERTAMINA Sebut Sudah Tambah 30 Mobil Tangki ke SPBU di Sumut Hingga Lonjakan Harga BBM Eceran

Ironi Usai Peluncuran Biodiesel B50

Kelangkaan BBM ini terjadi ironisnya setelah Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program Biodiesel B50 sebagai strategi ketahanan energi nasional. 

Publik mempertanyakan apakah peluncuran B50 justru mengganggu pasokan BBM konvensional.

Sejumlah warga menduga ada “racikan” dari BBM lama untuk menghasilkan B50, sehingga stok BBM biasa berkurang drastis.

“Anehnya biodiesel B50 diluncurkan, justru membuat BBM langka. Apakah ada mafia minyak bermain?” ujar seorang warga di Kota Pematangsiantar.

Warga Beralih ke Penjual Eceran

Karena sulitnya mendapatkan BBM di SPBU, banyak warga beralih ke penjual eceran.

Namun, harga melonjak tajam.

Pertalite dalam botol 1,5 liter yang biasanya Rp20 ribu kini dijual Rp25 ribu.

Bima, warga Medan Selayang, mengeluhkan kondisi ini. “Biasanya penuh pun masih harga Rp20 ribu itu wajar lah, ini sudah naik kali. Susah gini masyarakat mau kerja,”ujarnya.

Selain harga naik, ada juga pedagang yang mengurangi takaran isi botol.

Kondisi ini semakin memberatkan masyarakat, terutama pengemudi angkot, ojek online, dan becak motor.

Warga berharap pemerintah dan Pertamina segera mencari solusi.

Brian, pengendara dari Perumnas Simalingkar, menuturkan, permasalahan BBM ini karena faktor internal di dalam negeri sendiri.

“Iya berarti kan sekarang yang di dalam yang bermasalah, bukan karena ada faktor luar. Maunya segera lah dicarikan solusi, payah jadinya masyarakat kalau sulit BBM gini,”pungkasnya.

Masyarakat mendesak agar distribusi BBM segera dipulihkan, stok diperbanyak, dan mata rantai penyelewengan BBM subsidi diputus.

Kecurigaan Penimbunan dan Alih Fungsi

Juna, seorang warga Simalungun, mengungkapkan kebingungannya atas fenomena antrean panjang dan cepatnya stok BBM habis setiap hari.

Menurut Juna, logika sederhana seharusnya berlaku: jika kendaraan sudah mengisi BBM hari ini, maka pasokan tersebut cukup untuk beberapa hari ke depan. Namun, kenyataan di lapangan berbeda. 

“Kalau setiap hari SPBU cepat-cepat kehabisan stok, saya malah berasumsi, apakah kendaraan yang mengisi hari ini kembali mengisi BBM besoknya? Seharusnya kalau hari ini mengisi, bisa untuk beberapa hari ke depan. Ini kok tiap hari kehabisan stok,” ujarnya.

Juna bahkan menyampaikan dugaan adanya praktik penyelewengan. Ia menyoroti kemungkinan BBM subsidi, khususnya solar, dialihkan ke sektor industri yang seharusnya tidak berhak menggunakan subsidi.

“Malah saya berprasangka buruk, jangan-jangan BBM ini ditimbun oleh oknum, atau BBM subsidi solar ini dialihkan ke perusahaan industri, yang seharusnya tidak memakai BBM subsidi,” katanya.

Kondisi antrean panjang di SPBU, menurutnya, semakin menambah tanda tanya. “Masa setiap hari antrean panjang, seakan-akan hari ini isi BBM besok langsung habis,” keluh Juna.

Fenomena antrean panjang di SPBU bukan hanya terjadi di Kota Pematangsiantar dan Simalungun, tetapi juga di sejumlah daerah lain di Sumatera Utara.

Hal ini menimbulkan keresahan masyarakat yang bergantung pada BBM untuk aktivitas sehari hari.

Banyak warga mempertanyakan transparansi distribusi dan pengawasan terhadap penyaluran BBM subsidi.

Juna berharap pemerintah dan pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap distribusi BBM.

Ia menekankan pentingnya pengawasan ketat agar subsidi benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak.

“Kalau begini terus, masyarakat yang jadi korban. Pemerintah harus memastikan distribusi berjalan adil dan tidak ada penyelewengan,” tutupnya.

(*/Tribun-medan.com)

Baca juga: Pertalite Eceran di Medan Tembus Rp 25 Ribu per Botol imbas Sulitnya Dapatkan BBM di SPBU

Baca juga: Penarik Betor Takut Narik Penumpang karena Khawatir Kehabisan BBM, Harus Antre Berjam-jam di SPBU

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.