Regenerasi Petani Kurang, DPPP Tana Tidung Dorong Pertanian Modern dengan Pakai Drone
Junisah July 14, 2026 08:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tana Tidung mulai mengarahkan sektor pertanian menuju sistem Modern dengan memanfaatkan alat dan mesin pertanian (alsintan) berbasis teknologi, salah satunya drone pertanian.

Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai menjadi solusi atas semakin berkurangnya jumlah petani produktif serta minimnya regenerasi petani di Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Tana Tidung, Idris Hendro Wibowo, mengatakan penggunaan drone pertanian merupakan salah satu inovasi yang akan terus dikembangkan ke depan.

"Alsintan yang drone ini merupakan salah satu inovasi pertanian baru yang ke depan memang harus kita gunakan," ujar Idris Hendro Wibowo kepada TribunKaltara.com, Selasa (14/7/2026).

Baca juga: Aliansi Masyarakat Peduli Kota Tarakan Minta MBG Tetap Dilanjutkan, Petani Lokal Rasakan Dampaknya

Ia menjelaskan, mekanisasi pertanian menjadi kebutuhan mengingat mayoritas petani saat ini sudah berusia lanjut, sementara minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian masih terbatas.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat penggunaan teknologi menjadi pilihan yang tidak dapat dihindari.

"Dengan kondisi petani yang semakin tua, kemudian regenerasinya juga semakin sedikit, otomatis penggunaan teknologi harus kita utamakan," katanya.

Idris Hendro Wibowo menuturkan, ke depan sektor pertanian tidak lagi bergantung sepenuhnya pada tenaga kerja manual, melainkan lebih banyak mengandalkan operator alat pertanian modern.

"Ke depan mungkin kita sudah tidak terlalu membutuhkan banyak petani yang bekerja secara langsung, tetapi cukup beberapa operator saja, seperti operator traktor, operator drone dan sebagainya untuk mendukung mekanisasi secara penuh," jelasnya.

Ia menambahkan, penggunaan teknologi juga dapat membantu petani lanjut usia yang masih aktif mengelola sawah.

Baca juga: Bupati Nunukan Irwan Sabri Serap Aspirasi Petani, Soroti Alsintan hingga Irigasi di Tanjung Harapan

Menurutnya, setelah musim panen petani cukup menyisihkan sebagian hasil panennya untuk membayar jasa operator alsintan sehingga pengolahan lahan tetap dapat dilakukan secara efisien.

"Kalaupun masih ada petani yang usianya sudah tua, setelah panen mereka bisa menyisihkan hasilnya untuk membayar operator. Dengan begitu lahan tetap bisa diolah tanpa harus mengerjakan semuanya sendiri," ungkapnya.

Selain meningkatkan efisiensi, modernisasi pertanian juga diharapkan mampu meningkatkan indeks pertanaman dari satu hingga dua kali panen menjadi tiga kali panen dalam setahun.

Namun, Idris Hendro Wibowo mengakui target tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama serangan hama dan penyakit tanaman.

"Memang sekarang arahnya ke pertanian modern sehingga yang selama ini hanya sekali panen mudah-mudahan bisa meningkat menjadi dua bahkan tiga kali panen dalam setahun," ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu kendala utama adalah serangan burung dan hama lain yang muncul pada musim tertentu sehingga sering bertepatan dengan masa panen padi.

Karena itu, DPPP Tana Tidung saat ini tengah mengkaji kemungkinan penyesuaian kalender tanam agar masa panen tidak bersamaan dengan musim hama.

Petani di KTT 02 14072026
DORONG PERTANIAN MODERN - Salah satu lahan persawahan yang ada di Kalimantan Utara, gambar di ambil Selasa (9/9/2025). DPPP Tana Tidung dorong pertanian modern untuk atasi kurangnya regenerasi petani.

"Terkait target tiga kali panen, selama ini kendalanya adalah hama dan penyakit tanaman. Salah satunya burung yang sifatnya musiman. Ini yang sedang kami analisis, apakah kalender tanamnya bisa diubah supaya panennya tidak bertepatan dengan musim hama," jelasnya.

Menurut Idris, selama kendala tersebut belum teratasi, sebagian besar petani di Kabupaten Tana Tidung masih mampu melakukan satu hingga dua kali musim tanam setiap tahun.

Padahal, jeda pengolahan lahan yang terlalu lama justru menyebabkan pertumbuhan gulma semakin tinggi dan meningkatkan biaya produksi.

"Kalau lahan dibiarkan terlalu lama setelah panen, rumput dan tumbuhan liar akan semakin lebat sehingga biaya pengolahannya juga lebih besar. Sebaliknya, kalau tiga kali panen dan setiap selesai panen langsung diolah kembali, kebutuhan racun rumput maupun biaya pengolahan bisa jauh lebih hemat," pungkasnya.

(*)

Penulis : Rismayanti 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.