Ancaman Mengerikan AS ke Iran, Trump: Infrastruktur Vital Bakal Dihancurkan Jika Tolak Perundingan
Eri Ariyanto July 16, 2026 05:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras kepada Iran di tengah konflik yang terus memanas antara kedua negara.

Donald Trump memperingatkan Teheran agar segera kembali ke meja perundingan jika tidak ingin menghadapi serangan besar-besaran dari militer Amerika Serikat.

Dalam wawancara dengan Fox News yang disiarkan pada Selasa (15/7/2026), Trump secara terbuka menyebut infrastruktur vital Iran akan menjadi sasaran apabila pemerintah Iran tetap menolak negosiasi.

Ia bahkan mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik, jembatan, dan berbagai fasilitas strategis yang menopang aktivitas ekonomi maupun kehidupan masyarakat Iran.

Ultimatum tersebut menjadi salah satu pernyataan paling keras yang pernah disampaikan Trump sejak konflik terbaru Washington dan Teheran kembali memanas.

Menurut Trump, tekanan militer itu merupakan bagian dari strategi untuk memaksa Iran menerima kesepakatan yang ditawarkan Amerika Serikat.

Ancaman tersebut muncul ketika kedua negara telah memasuki hari keempat saling serang, memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengingatkan bahwa serangan yang disengaja terhadap infrastruktur sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum internasional.

Peringatan itu mengacu pada Konvensi Jenewa yang melindungi fasilitas sipil seperti pembangkit listrik, jembatan, rumah sakit, dan jaringan air bersih selama konflik bersenjata.

Eskalasi ketegangan juga membuat sejumlah negara di kawasan Teluk meningkatkan status siaga, sementara Amerika Serikat kembali memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran melalui blokade laut.

Situasi tersebut langsung mengguncang pasar energi global karena muncul kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Hingga kini dunia masih menunggu apakah Iran akan menerima ajakan berunding dari Washington atau justru memilih menghadapi ancaman serangan yang disebut Trump akan jauh lebih besar pada pekan mendatang.

Baca juga: Ultimatum Mengejutkan Trump ke Iran, Ancam Hancurkan Seluruh Pembangkit Listrik Jika Tolak Berdamai

Seperti diketahui, pernyataan ancaman tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News yang ditayangkan pada Selasa malam (15/7/2026), di tengah memanasnya konflik antara Washington dan Teheran yang telah memasuki hari keempat saling serang antara kedua negara.

Trump menegaskan, Iran akan menghadapi konsekuensi yang jauh lebih besar jika tetap menolak upaya negosiasi yang ditawarkan Amerika Serikat.

"Minggu depan keadaan akan benar-benar buruk bagi mereka. Kita akan menghancurkan semua pembangkit listrik mereka. Kita akan menghancurkan semua jembatan mereka kecuali mereka mau duduk di meja perundingan dan bernegosiasi," kata Trump.

Ancaman tersebut menjadi salah satu pernyataan paling keras yang pernah dilontarkan Trump sejak konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.

Menurut Trump, ultimatum tersebut bukan sekadar ancaman militer, melainkan bagian dari strategi Washington untuk meningkatkan tekanan ekonomi dan keamanan agar Iran bersedia kembali ke jalur diplomasi.

Ia mengungkapkan, tim negosiator Amerika Serikat telah menyampaikan pesan langsung kepada pejabat Iran agar segera menerima kesepakatan yang ditawarkan Washington.

"Kalian lebih baik membuat kesepakatan, atau kalian tidak akan mendapatkan apa pun lagi," ujar Trump, mengutip pesan yang telah disampaikan kepada perwakilan Iran.

PERANG IRAN AS - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington DC, 6 April 2026.
PERANG IRAN AS - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington DC, 6 April 2026. (Dok./XINHUA/LI YUANQING)

Presiden AS tersebut juga memberi sinyal sektor energi Iran dapat menjadi sasaran operasi berikutnya apabila tidak ada perkembangan dalam proses perundingan antara kedua negara.

Menanggapi ancaman tersebut Kepala Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Volker Türk, mengingatkan serangan yang disengaja terhadap warga sipil maupun fasilitas sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

"Berdasarkan hukum internasional, menyerang warga sipil dan infrastruktur sipil secara sengaja adalah kejahatan perang," ujar Volker Türk setelah Trump pertama kali mengeluarkan ancaman serupa pada April 2026.

Konvensi Jenewa tahun 1949 juga melarang serangan terhadap fasilitas yang berperan penting bagi kehidupan masyarakat sipil selama konflik bersenjata berlangsung.

Para ahli hukum internasional menilai pembangkit listrik, jembatan, rumah sakit, serta fasilitas air bersih umumnya masuk dalam kategori objek sipil yang memperoleh perlindungan khusus.

AS Kembali Aktifkan Blokade terhadap Iran

Adapun eskalasi retorika dari Gedung Putih terjadi hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat kembali mengaktifkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari upaya menekan perekonomian Teheran.

Sebelumnya, Trump sempat mengumumkan rencana mengenakan pungutan sebesar 20 persen terhadap seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz sebagai bentuk kompensasi atas pengamanan jalur pelayaran strategis tersebut.

Namun kebijakan itu kemudian dibatalkan dan digantikan dengan rencana kerja sama perdagangan dan investasi besar-besaran antara negara-negara Teluk dan Amerika Serikat.

Dalam unggahannya di Truth Social, Trump mengatakan berbagai negara di kawasan Teluk telah menyatakan kesiapan untuk meningkatkan investasi mereka di Amerika Serikat sebagai bagian dari kemitraan ekonomi baru.

Meski demikian, Washington tetap memutuskan untuk melanjutkan blokade laut terhadap Iran guna meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Teheran agar kembali ke meja perundingan.

Negara-Negara Teluk Tingkatkan Kesiagaan

Ketegangan yang terus meningkat di kawasan Teluk membuat sejumlah negara tetangga meningkatkan status kewaspadaan militernya.

Militer Kuwait mengumumkan telah mencegat sejumlah pesawat nirawak atau drone serang Iran pada Rabu dini hari.

Sementara itu, Bahrain mengaktifkan sirene serangan udara dan meminta masyarakat segera menuju lokasi perlindungan terdekat sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan meluasnya konflik.

Kementerian Dalam Negeri Bahrain juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti instruksi dari aparat keamanan setempat.

Memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran turut memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dunia.

Akibatnya, harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan tajam pada perdagangan Rabu (15/7/2026), sekaligus memperpanjang reli yang telah berlangsung selama dua hari terakhir.

Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.20 WIB, harga minyak Brent tercatat berada di level US$85,72 per barel atau naik 1,17 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi US$84,73 per barel.

Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat menjadi US$80,12 per barel atau naik 0,98 persen dari posisi sebelumnya sebesar US$79,34 per barel.

Kenaikan tersebut memperpanjang reli tajam yang telah terjadi dalam beberapa hari terakhir. Dalam dua hari perdagangan, harga Brent tercatat melonjak sekitar 2,9 persen, sedangkan WTI menguat lebih dari 2,5 persen.

Jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada 10 Juli 2026, harga Brent telah naik hampir 13 persen, sementara WTI melonjak lebih dari 12 persen.

Para analis menilai ketidakpastian mengenai keamanan Selat Hormuz dan potensi meluasnya konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga minyak global.

Selama belum ada kesepakatan diplomatik antara Washington dan Teheran, pasar energi diperkirakan akan terus berada dalam tekanan, sementara dunia menanti apakah kedua negara akan memilih jalur perundingan atau justru memasuki fase konflik yang lebih luas.

(TribunNewsmaker.com/Tribunnews.com/Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.