Kiai Pengasuh Ponpes Darul Ulum Rejoso Usulkan Wajah Baru Pimpin PBNU, Akhiri Konflik Internal
Alga W July 16, 2026 01:14 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Pujie Widodo

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Wacana mengenai regenerasi kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai mengemuka menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, 27-31 Agustus 2026.

Forum lima tahunan tersebut diharapkan pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang, KH Zainul Ibad As'ad atau Gus Ulib, menjadi titik balik untuk memperkuat persatuan organisasi.

Baca juga: Bantahan Kades Soal Video Viral Gerai Kopdes Malang Dibangun di Telaga Tanpa Akses Jalan

Menurut Gus Ulib, muktamar semestinya tidak dijadikan ruang melanjutkan persaingan yang berpotensi memperpanjang ketegangan di internal NU.

Sebaliknya, forum tersebut diharapkan melahirkan kepemimpinan yang mampu diterima seluruh elemen Nahdliyin.

Ia menilai, tokoh-tokoh yang selama ini berada dalam pusaran konflik sebaiknya memberikan kesempatan kepada figur lain yang lebih mampu merangkul berbagai kelompok.

Langkah itu, menurutnya, penting agar organisasi memasuki babak baru yang lebih kondusif.

"Elite PBNU yang kemarin konflik, tolong sadar diri jangan maju lagi," ucap Gus Ulib kepada TribunJatim.com, Kamis (16/7/2026).

Menurutnya, konflik berkepanjangan hanya akan menguras energi organisasi dan berpotensi menghambat upaya membangun NU yang semakin solid.

"Harapan saya, kepemimpinan mendatang diisi sosok yang tidak memiliki beban perselisihan dengan kelompok mana pun," ujarnya melanjutkan.

Gus Ulib juga mengingatkan bahwa Muktamar ke-35 memiliki makna penting karena digelar di Jombang, salah satu daerah yang memiliki sejarah kuat dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.

"Momentum ini sangat tepat untuk memperkuat rekonsiliasi dan mempererat persaudaraan di lingkungan NU," ungkapnya.

Ia menegaskan, organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu berdiri di atas semua kepentingan, membangun komunikasi lintas kelompok, serta menjaga soliditas NU dalam menghadapi berbagai tantangan pada abad kedua perjalanannya.

Selain itu, Gus Ulib mengajak seluruh warga NU untuk kembali menghidupkan semangat para pendiri organisasi dengan menjadikan nilai ketulusan, pengabdian, dan persatuan sebagai pijakan dalam menentukan arah kepemimpinan.

"Keberadaan dzurriyah atau keturunan para muassis juga memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai dasar NU yang diwariskan sejak organisasi didirikan," bebernya. 

Pada kesempatan tersebut, Gus Ulib menyebut Menteri Haji dan Umrah RI, KH Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, sebagai salah satu figur yang dinilai layak dipertimbangkan dalam bursa kepemimpinan PBNU. 

Ia menilai, Gus Irfan memiliki pengalaman organisasi, jaringan yang luas, serta dinilai mampu diterima oleh berbagai kalangan karena tidak terlibat dalam polarisasi yang berkembang selama ini.

Meski demikian, Gus Ulib menegaskan bahwa penentuan pemimpin PBNU sepenuhnya menjadi kewenangan para peserta muktamar. 

"Saya berharap seluruh proses berlangsung dengan menjunjung tinggi musyawarah, ukhuwah, dan kedewasaan berorganisasi sehingga menghasilkan kepemimpinan yang membawa persatuan serta kemajuan bagi Nahdlatul Ulama," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.