TRIBUNNEWSMAKER.COM - Musim kemarau membuat para petani di Kabupaten Klaten harus memutar otak agar hasil pertanian tetap terjaga.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengganti jenis tanaman atau melakukan rotasi tanam.
Jika pada musim tanam (MT) pertama dan kedua mereka menanam padi, maka memasuki musim tanam ketiga para petani memilih beralih ke tanaman palawija yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
Jagung dan tembakau menjadi pilihan utama karena membutuhkan air jauh lebih sedikit dibandingkan padi.
Kondisi tersebut juga dilakukan oleh para petani di Desa Tijayan, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten.
Berkurangnya ketersediaan air saat musim kemarau membuat mereka memilih tanaman yang lebih hemat air agar tetap bisa berproduksi.
Petani sekaligus Kepala Desa Tijayan, Joko Lasono, mengatakan sungai di wilayahnya kini sudah mengering sehingga petani tidak memungkinkan menanam padi seperti pada musim sebelumnya.
"Sungai di desa kami sudah kering, makanya kami tanam jagung atau tembakau yang irit air," ujar petani sekaligus Kepala Desa Tijayan, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten, Joko Lasono saat dihubungi Tribunjateng, Selasa (14/7/2026).
Menurut Joko, kondisi tersebut bukan hal baru. Letak Desa Tijayan yang berada sekitar 17 kilometer dari Gunung Merapi membuat wilayah itu hampir setiap tahun mengalami kekeringan ketika musim kemarau tiba.
Karena itu, para petani telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi agar lahan pertanian tetap bisa ditanami.
Salah satunya dengan membuat sumur dangkal di setiap satu patok sawah atau untuk lahan seluas sekitar 1 hingga 2 hektare.
Padahal, total luas lahan pertanian di Desa Tijayan mencapai sekitar 150 hektare sehingga kebutuhan air tetap menjadi tantangan besar bagi para petani.
Meski sumur dangkal menjadi solusi sementara, petani tetap harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengoperasikan genset penyedot air.
"Cuma ya itu tetap mengeluarkan biaya genset untuk sedot air, per jam sampai Rp150 ribuan. Sementara untuk mengairi lahan yang ditanami palawija ya butuh sejam dua jam," ungkapnya.
Baca juga: Gestur Dody Hanggodo Tolak Salaman Bawahan Disorot, Netizen Bandingkan dengan Eks Menteri Basuki
Biaya tersebut dinilai masih lebih ringan dibandingkan jika petani tetap memaksakan menanam padi di tengah musim kemarau.
Menurut Joko, tanaman padi membutuhkan pasokan air yang jauh lebih sering sehingga biaya operasional menjadi jauh lebih besar.
Kondisi itulah yang membuat sebagian besar petani di wilayahnya memilih beralih ke jagung maupun tembakau selama musim kemarau berlangsung.
"Waduh, kalau tanam padi, kami butuh mengairi seminggu 2-3 kali, bisa dihitung biaya itu, berbeda tanam jagung atau tembakau, irit air, paling seminggu cukup 1 kali," terangnya.
Dengan strategi rotasi tanaman tersebut, para petani berharap tetap dapat mempertahankan produktivitas lahan sekaligus menekan biaya produksi di tengah keterbatasan pasokan air selama musim kemarau.
Kondisi serupa diungkapkan Kades Bawak, Kecamatan Cawas, Klaten, Ponidi.
Ia menyebut, ada sekitar 40 hektare lahan sawah di desanya beralih ke tanaman palawija.
Meskipun demikian, 40 hektare sisanya masih berupa tanaman padi.
"Kami mengandalkan sumur dalam, adapula ambil air dari sungai Dengkeng dan Rowo Jombor," katanya
Distanak Sediakan Asuransi Gagal Panen Seluas 10.400 Hektare
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak), Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, telah mendapatkan sejumlah laporan dari beberapa daerah di antaranya Rembang, Wonogiri, dan Blora, sawahnya telah alami kekeringan.
Meskipun telah mendapatkan laporan itu, ia belum bisa mendapatkan data detail luasan lahan sawah yang terdampak.
Namun, sebagai langkah antisipasi gagal panen saat kekeringan di lahan pertanian Jateng, pihaknya telah menyediakan asuransi gagal panes bagi lahan pertanian seluas 10.400 hektare.
Layanan asuransi ini tersedia di 30 Kabupaten/kota di Pemprov Jateng.
Bagi petani yang gagal panen akibat Kekeringan, tinggal lapor ke petugas penyuluh pertanian terdekat.
"Ya kami sediakan asuransi tersebut dengan syarat 75 persen dari luasan sawah akan diganti, tetapi sampai sekarang belum ada yang akses petani gagal panen karena kekeringan," jelasnya yang akrab disapa Frans kepada Tribunjateng, Selasa (14/7/2026).
Frans menilai, belum ada laporan luasan gagal panen akibat kekeringan karena petani Jateng sudah mengantisipasi hal itu dengan mengubah jenis tanaman.
Sejauh pantauannya, para petani mengubah lahan sawah menjadi tanaman palawija atau tembakau yang irit air .
"Kemudian lahan yang mengandalkan irigasi di Jateng sebesar 74 persen, sisanya 26 persen memang tadah hujan," terangnya.
Walaupun para petani telah mandiri, pihaknya tetap melakukan sejumlah bantuan kepada para petani untuk hadapi musim kekeringan.
Pertama, kata Frans, pihaknya memastikan stok air di lima waduk besar di Indonesia mencukupi untuk pertanian.
Kedua, memberikan sosialisasi kepada para petani soal PM-AAS (Pertanian Modern - Advanced Agricultural System), sistem budidaya padi modern yang mengintegrasikan mekanisasi penuh, teknologi presisi, dan manajemen pengelolaan air yang terukur.
Berikutnya, pengenalan metode pertanian intermiten, atau irigasi berselang (intermittent irrigation), teknik budidaya padi yang mengatur kondisi lahan antara fase tergenang dan kering secara bergantian.
Sejumlah teknik pertanian tersebut diharapkan mampu untuk menghemat air.
"Kami juga tata irigasinya agar air bisa sampai lahan terutama lahan sawah yang membutuhkan, bisa juga nanti lewat pipanisasi dan pompa," terangnya. (Iwn)
(Tribunnewsmaker.com/TribunJateng.com/Iwan Arifianto)