Angkot Hasil Patungan Guru untuk Layanan Antar Pulang Sekolah, Aman Sampai Rumah, Bayar Seikhlasnya
muslimah July 18, 2026 06:13 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Belasan anak bergegas menuju sebuah angkot biru bergambar yang terparkir di halaman SDN Bener 01.

Dalam hitungan menit, kabin 0kendaraan itu dipenuhi gelak tawa, obrolan tentang pelajaran di kelas, hingga candaan khas anak-anak.

Bagi anak-anak, kendaraan itu bukan sekadar alat transportasi, melainkan ruang kecil yang penuh cerita sebelum mereka kembali ke rumah.

Meila Mumtaza Wahyuni, Siswi SDN Bener 01, satu diantara belasan penumpang setia yang rutin menggunakan angkot tersebut.

Ia mengaku senang karena kini tidak perlu lagi menunggu jemputan orang tua yang masih bekerja.

"Biasanya saya tidak ada yang jemput. Jadi senang diantar pulang, bareng sama teman-teman. Asyik banget naik angkot, ngobrol-ngobrol di dalam mobil," ungkap Meila, Kamis (16/7).

Angkot itu bukan sekadar kendaraan yang mengantar anak-anak pulang. Armada tersebut merupakan fasilitas antar pulang bagi para siswa.

TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI FAJLIN
SIAP MELAYANI - Gani Prasasti. guru PJOK SDN Bener 01 Kabupaten Semarang siap mengemudikan angkot untuk mengantar anak-anak pulang sekolah, Kamis (16/07/2026).
TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI FAJLIN SIAP MELAYANI - Gani Prasasti. guru PJOK SDN Bener 01 Kabupaten Semarang siap mengemudikan angkot untuk mengantar anak-anak pulang sekolah, Kamis (16/07/2026). (TRIBUN JATENG/Eka Yulianti Fajlin)

Tak ada tarif yang dipatok.

Di dalam angkot hanya tersedia sebuah kotak kecil, tempat anak-anak memasukkan uang seikhlasnya.

Ada yang membayar Rp 1.000, Rp 2.000, atau sesuai kemampuan mereka.

Menurut Meila, layanan tersebut membuatnya merasa lebih aman.

Orang tuanya sering tidak bisa menjemput karena masih bekerja membuat keberadaan angkot sekolah menjadi solusi yang sangat membantu.

"Siang, saya tidak dijemput orang tua karena sedang kerja. Jadi, naik angkot ini lebih aman karena diantar guru. Bayarnya seikhlasnya. Sepunyanya uang," ucapnya.

Di balik riuh tawa anak-anak itu, tersimpan kisah gotong royong para guru.

Angkot tersebut bukan bantuan pemerintah ataupun sponsor, melainkan hasil iuran para guru SDN Bener 01 yang rela menyisihkan penghasilannya demi menghadirkan layanan antar pulang bagi para siswa.

Kepala SDN Bener 01, Sugiyatno mengatakan, gagasan itu muncul setelah pihak sekolah melakukan survei kepada orang tua sekitar satu tahun lalu.

Hasilnya, sebagian besar wali murid mengaku kesulitan menjemput anak saat jam pulang sekolah.

Pihak sekolah berinisiatif membeli angkot bekas senilai Rp 20 juta lengkap dengan modifikasinya. 

Pengadaan angkot pun dilakukan secara gotong royong para guru dan ditambah pembiayaan koperasi sekolah. Setelah itu, para guru mencicil pinjaman koperasi tersebut secara sukarela dari penghasilan mereka.

"Mobil tersebut dibeli secara tunai, sumber uangnya dari patungan guru-guru, termasuk juga ada yang dari koperasi simpan pinjam, nanti mengangsurnya ke koperasi. Semua dilakukan secara sukarela dan ikhlas," ujarnya.

Ia menegaskan, layanan ini bukan untuk mencari keuntungan.

Semangat utamanya adalah membantu orang tua sekaligus memastikan anak-anak pulang dengan aman.

"Tujuannya untuk melayani orang tua yang tidak bisa menjemput anak sepulang sekolah. Orang tua bisanya mengantar ke sekolah, tapi pulangnya kerepotan bila harus menjemput ke sekolah. Makanya, sekolah memfasilitasi. Karena kami mengalami keterbatasan SDM, jadi kami menyepakati layanan ini hanya saat pulang saja," tuturnya.

Layanan itu diperuntukkan bagi siswa kelas 1 hingga kelas 6. Setiap hari, sekitar 15 hingga 20 siswa memanfaatkan angkot tersebut.

Bahkan, pada hari-hari tertentu, kendaraan harus beroperasi hingga dua kali perjalanan agar seluruh siswa dapat terlayani.

Rute pengantaran disesuaikan dengan domisili siswa.

 Angkot tidak mengantar hingga depan rumah, melainkan ke sejumlah titik kumpul di tiap dusun.

"Layanan angkot itu tidak sampai rumah masing-masing siswa, tapi sampai titik tertentu. Satu wilayah dusun, paling tidak ada empat titik pengantaran," ujarnya.

Senyum Bu Gani di Balik Kemudi

Bel pulang sekolah menjadi penanda dimulainya peran kedua Gani Prasasti.

Setelah memastikan seluruh siswa naik ke dalam Suzuki Carry tua yang terparkir di halaman SDN Bener 01, ia mengambil alih kemudi.

Dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) itu menjalankan peran lain sebagai pengemudi angkot sekolah, mengantar belasan murid pulang agar mereka tiba di rumah dengan aman.

Setiap hari ia mengikuti rute yang telah ditentukan, dengan jarak terjauh sekitar tiga kilometer.

Bagi Gani, mengemudikan angkot sekolah bukan sekadar tugas tambahan.

Layanan itu menjadi bagian dari komitmen sekolah untuk memastikan para siswa pulang dengan aman, terutama bagi orang tua yang tidak bisa menjemput karena masih bekerja.

"Ini bagian dari fasilitas sekolah untuk menjamin siswa pulang dengan aman dan selamat sampai rumah. Alhamdulillah, selama ini tidak pernah ada keluhan dari orang tua. Justru mereka merasa sangat terbantu," katanya.

Meski terlihat sederhana, tugas mengantar pulang belasan siswa bukan tanpa tantangan.

Gani mengaku sempat kesulitan saat harus memastikan seluruh siswa turun di titik yang benar.

Karena itu, ia kini dibantu guru kelas I dan penjaga sekolah yang sesekali ikut mendampingi selama perjalanan.

"Kami saling membantu. Guru kelas I yang sudah selesai mengajar sering ikut mendampingi, begitu juga penjaga sekolah. Jadi anak-anak bisa turun di titik masing-masing dengan aman," tuturnya. (Eka Yulianti Fajlin)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.