oleh: Karunia Purna Kusciati
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Grup Riset Cultural Studies & Media Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS), menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa Pelatihan Kampanye Media Sosial Digital Detox bagi siswa SMP Negeri 1 Jaten, Kabupaten Karanganyar, pada 12 dan 17 Juni 2026.
Melalui pelatihan ini, tim Grup Riset Cultural Studies & Media mengajak para siswa untuk memahami pentingnya menerapkan digital detox, yaitu upaya mengurangi penggunaan gawai dengan beristirahat sejenak dari layar agar terhindar dari dampak negatif penggunaan gawai secara berlebihan, baik terhadap kesehatan fisik maupun mental.
Siswa SMP yang berada pada fase remaja termasuk kelompok yang rentan mengalami ketergantungan terhadap gawai.
Sebagai generasi digital native yang telah akrab dengan teknologi sejak usia dini, mereka cenderung sulit melepaskan diri dari penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal, paparan gawai dalam durasi yang terlalu lama berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan fisik maupun psikologis.
Oleh karena itu, digital detox menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk membangun kebiasaan penggunaan gawai yang lebih sehat.
Tidak hanya memperkenalkan konsep dan praktik digital detox, pelatihan ini juga membekali siswa dengan kemampuan berkampanye melalui media sosial untuk mengajak masyarakat menerapkan gaya hidup digital yang lebih sehat.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya peningkatan literasi digital yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) poin 4 tentang pendidikan berkualitas.
Melalui pelatihan ini, siswa diharapkan mampu mengelola waktu penggunaan gawai secara lebih bijaksana sehingga dapat meningkatkan konsentrasi dan efektivitas belajar, baik di sekolah maupun di rumah.
Pelatihan dilaksanakan dalam empat sesi yang terbagi ke dalam dua kali pertemuan.
Setiap pertemuan terdiri atas dua sesi yang dirancang secara interaktif dan menyenangkan.
Kegiatan diawali dengan ice breaker, dilanjutkan dengan penyampaian materi dan praktik oleh anggota Grup Riset Cultural Studies & Media, kemudian diakhiri dengan sesi penutup.
Pada pertemuan pertama, 12 Juni 2026, sesi pertama diisi dengan materi mengenai pengenalan digital detox dan kampanye media sosial.
Para siswa diajak memahami konsep, manfaat, serta pentingnya menerapkan digital detox dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, mereka juga diperkenalkan pada konsep kampanye media sosial sebagai sarana menyebarluaskan pesan positif mengenai pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap gawai.
Pada akhir sesi, siswa yang telah dibagi ke dalam beberapa kelompok diminta membuat akun Instagram yang akan digunakan sebagai media kampanye digital detox.
Sesi kedua berfokus pada praktik pembuatan konten kampanye.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pembuatan unggahan bertema ajakan melakukan digital detox dengan memanfaatkan aplikasi Padlet.
Para siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam membuat konten dan mengunggahnya melalui akun Instagram kelompok masing-masing.
Sebagai penutup, tim memberikan tantangan One Day Without Gadget, yaitu mengurangi penggunaan gawai selama satu hari di rumah dan mendokumentasikan pengalaman tersebut sebagai bahan kampanye di media sosial.
Pertemuan kedua yang diselenggarakan pada 17 Juni 2026 diawali dengan ice breaker berupa permainan tebak gambar bertema aktivitas tanpa gawai. Seluruh kelompok mengikuti permainan dengan penuh semangat.
Selanjutnya, tim Grup Riset menyediakan berbagai permainan papan (board games) dan permainan tradisional, seperti Scrabble, Monopoli, Ular Tangga, Jenga, bekel, dan dakon.
Kegiatan ini bertujuan menunjukkan bahwa terdapat banyak aktivitas menyenangkan yang dapat dilakukan tanpa bergantung pada gawai.
Antusiasme siswa selama mengikuti permainan menunjukkan bahwa melepaskan diri dari gawai bukan berarti kehilangan kesempatan untuk menikmati aktivitas yang menghibur.
Sebagai bagian dari kampanye digital detox, setiap kelompok kemudian membuat konten media sosial yang mendokumentasikan pengalaman bermain tersebut sebagai contoh aktivitas positif tanpa gawai.
Sesi terakhir diisi dengan kegiatan refleksi yang diawali dengan berbagi pengalaman selama menjalankan tantangan One Day Without Gadget.
Selanjutnya, para siswa merefleksikan seluruh rangkaian pelatihan dengan mendiskusikan pengetahuan yang telah diperoleh, rencana yang akan mereka lakukan untuk menerapkan digital detox, serta langkah-langkah yang akan ditempuh agar rencana tersebut dapat diwujudkan. Hasil refleksi dituangkan dalam bentuk poster yang kemudian dipresentasikan di depan kelas.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama serta penyerahan suvenir kepada pihak sekolah.
Melalui kegiatan ini, Grup Riset Cultural Studies & Media berharap para siswa SMP Negeri 1 Jaten semakin menyadari pentingnya menerapkan digital detox dan mampu menjadi agen kampanye literasi digital di lingkungan sekitarnya.
Dengan demikian, mereka diharapkan dapat membangun kebiasaan penggunaan gawai yang lebih sehat sehingga terhindar dari ketergantungan yang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik maupun mental.
(*)