Digitalisasi Layanan Keluarga, Dharmasraya Luncurkan HaloPUSPAGA
Rezi Azwar July 18, 2026 06:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, DHARMASRAYA - Pemerintah Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, resmi mengonversi sistem pelayanan domestik mereka ke ranah digital melalui peluncuran inovasi "Halo PUSPAGA". 

Langkah ini diambil sebagai strategi taktis untuk memangkas sekat geografis dan psikologis yang selama ini kerap menghalangi masyarakat dalam mengakses layanan konseling serta edukasi pengasuhan anak.

Transformasi digital yang dimotori oleh Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DINSOSP3APPKB) Kabupaten Dharmasraya ini, menjadi jawaban atas problem klasik pelayanan publik di daerah, yakni keterbatasan akses fisik. 

Melalui platform baru tersebut, masyarakat kini dapat terhubung langsung dengan tenaga ahli tanpa harus mendatangi kantor dinas.

Baca juga: Pemkab Dharmasraya Gandeng 6 Perusahaan Bangun Jalan, Dana CSR Rp6,6 Miliar Siap Dikerahkan

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DINSOSP3APPKB Dharmasraya, Welni Suwandi, mengungkapkan bahwa kehadiran inovasi ini didasari oleh hasil evaluasi mendalam terhadap perilaku masyarakat dalam mencari bantuan psikologis. 

Banyak warga yang sebenarnya membutuhkan intervensi, namun urung melangkah karena terbentang jarak atau terbentur alokasi waktu sehari-hari.

"Selama ini masih banyak masyarakat yang terkendala jarak, waktu, maupun merasa kurang nyaman berkonsultasi secara langsung," ujar Welni dilansir resmi, Sabtu (18/7/2026).

Faktor psikologis seperti stigma sosial di tengah masyarakat juga diakui menjadi salah satu dinding tebal yang membatasi efektivitas layanan tatap muka selama ini. 

Tidak sedikit warga yang merasa malu atau tabu apabila kedapatan mendatangi Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) untuk menceritakan prahara domestik mereka kepada psikolog.

Baca juga: KDM di Muswil KAHMI Sumbar: Mana Daerah yang Sukses karena Pertambangan? Saya Tidak Menemukan Itu!

Oleh karena itu, aspek privasi menjadi fondasi utama yang ditawarkan oleh layanan digital ini. Dengan memanfaatkan teknologi bimbingan jarak jauh, platform tersebut menjamin kerahasiaan identitas para penggunanya secara ketat, sehingga memberikan rasa aman yang lebih tinggi bagi warga yang ingin mengadukan persoalannya.

Meski berbasis digital, Welni menegaskan bahwa kehadiran platform daring ini tidak didesain untuk menghapus keberadaan layanan konvensional yang sudah ada. 

Keberadaannya justru diposisikan sebagai instrumen pelengkap (complementary) guna memperluas jangkauan wilayah operasional pelayanan yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Sistem kerja platform ini dimulai dari tahap penapisan awal secara mandiri oleh pengguna melalui fitur pendaftaran daring. 

Proses asesmen digital ini memungkinkan para petugas di balik layar untuk memetakan jenis kebutuhan spesifik ataupun mengukur tingkat kedaruratan (urgency) dari kasus yang dilaporkan secara cepat.

Selain itu, fitur unggulan yang menjadi tulang punggung inovasi ini adalah fasilitas tele-counseling. 

Melalui ruang obrolan berbasis pesan teks tersebut, warga bisa bertukar pesan secara interaktif dengan konselor keluarga atau psikolog klinis yang bersertifikasi tanpa perlu bertatap muka langsung.

Tidak hanya fokus pada penanganan masalah atau kuratif, inovasi ini juga memuat misi preventif yang kuat. 

Di dalam platform tersebut, pihak dinas menyediakan kompilasi materi psikoedukasi gratis, mulai dari infografis interaktif hingga video edukatif yang mengupas tuntas formula pengasuhan positif (positive parenting).

Materi edukasi yang disajikan secara berkala itu turut mencakup tema-tema krusial lain, seperti strategi membangun ketahanan keluarga, mitigasi kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga pemenuhan hak-hak dasar anak yang sering kali terabaikan dalam lingkaran pengasuhan harian.

Secara segmentasi, layanan mutakhir ini membidik kelompok sasaran yang luas di ekosistem domestik, mulai dari pasangan yang baru menikah, orang tua, pengasuh anak alternatif, hingga anak-anak itu sendiri yang membutuhkan ruang aman untuk sekadar didengarkan atau didampingi.

Baca juga: Tekan Angka Stunting, Pemkab Dharmasraya Salurkan 12,5 Ton Benih Padi Biofortifikasi

Secara makro, pemerintah daerah memproyeksikan bahwa kehadiran inovasi berbasis teknologi informasi ini akan mendongkrak angka partisipasi publik secara signifikan. 

Semakin mudah akses diraih, maka deteksi dini terhadap potensi konflik rumah tangga maupun kasus kekerasan domestik di Dharmasraya dapat diantisipasi lebih awal.

Ikhtiar digitalisasi ini sebenarnya bukan proyek instan, melainkan buah dari proses perencanaan yang panjang. 

Cetak biru inovasi ini telah dirancang sejak akhir tahun 2024 lewat pemetaan masalah, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), hingga serangkaian simulasi dan bimbingan teknis ke tingkat pemerintahan nagari (desa).

Bagi Pemerintah Kabupaten Dharmasraya, langkah adaptif ini tidak hanya sekadar modernisasi birokrasi, tetapi juga menjadi instrumen strategis untuk mendongkrak indikator Kabupaten Layak Anak (KLA). 

Ke depan, platform ini direncanakan terus bermutasi menjadi aplikasi seluler yang komprehensif guna menjangkau kantong-kantong permukiman di wilayah terpencil.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.