TRIBUNSTYLE.COM - Aksi seorang siswa yang terekam membuang nasi dan lauk dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendadak menyedot perhatian publik. Menanggapi video yang ramai di media sosial tersebut, Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Satuan Tugas (Satgas) MBG langsung turun tangan melakukan penelusuran mendalam demi menjaga mutu pelaksanaan program.
Langkah awal di lapangan dilakukan dengan mengumpulkan informasi secara komprehensif. Satgas menggali keterangan dari berbagai elemen, mulai dari pihak sekolah, tokoh masyarakat, hingga jajaran yang mengurus langsung operasional program MBG. Hasil dari penelusuran ini nantinya menjadi pijakan evaluasi menyeluruh agar insiden serupa tak lagi berulang di masa mendatang.
Tak sekadar melacak kronologi kejadian, Satgas MBG juga membuka pintu perbaikan apabila ditemukan kendala teknis terkait kualitas makanan maupun pelayanan kepada para siswa. Pemkab Bondowoso menegaskan, benang merah evaluasi ini tidak hanya menyasar aspek gizi sajian, tetapi juga memperkuat pola komunikasi antara tim penyelenggara dengan pihak sekolah.
Saat ini, sejumlah berkas klarifikasi dari sekolah terkait sudah dikantongi dan sedang dikaji secara intensif sebelum Satgas menentukan langkah lanjutan.
Wakil Bupati Bondowoso sekaligus Ketua Satgas MBG, As'ad Yahya Syafi'i, menegaskan respons cepat pihaknya dalam menyikapi dinamika ini dengan menjaring fakta dari pelbagai pihak di lapangan.
"Kalau memang dari kualitas akan kami evaluasi untuk diperbaiki," ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (22/7/2026).
As'ad menambahkan, pasca-penelusuran awal dan penerimaan video klarifikasi dari sekolah, Satgas akan segera berkoordinasi dengan Koordinator Wilayah (Korwil) untuk membedah akar masalahnya.
"Ya kami akan koordinasi dengan Korwil untuk segera dievaluasi untuk mengetahui detailnya. Serta segera melakukan peningkatan kualitas dan pelayanan," katanya.
Di sisi lain, Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bondowoso, Milla Afriana Agustina, mengungkapkan bahwa timnya bergerak cepat menganalisis temuan ini usai menerima penjelasan dari pihak madrasah.
"Kami kemarin sudah analisa persoalannya," ujarnya.
Bagi Milla, peristiwa ini menjadi cermin evaluasi penting bagi seluruh jajaran SPPG, terutama dalam membangun jembatan komunikasi yang lebih solid dengan pihak sekolah.
"Kami menekankan saja kepada pihak SPPG untuk dijadikan evaluasi, agar membangun komunikasi lebih baik lagi dengan pihak sekolah maupun pihak luar," pungkasnya.
Baca juga: Bukan Makanan Utuh, Ini Alasan Dibalik Rekaman Siswa MTsN 4 Bondowoso Buang MBG yang Viral
Dalam rekaman video yang beredar luas, tampak sejumlah siswa secara bergantian memindahkan nasi dari wadah ompreng ke dalam gerobak angkut pasir. Terdengar pula suara seorang pria yang menyebutkan bahwa makanan itu merupakan sajian MBG.
"MBG, MBG, ini MBG-nya," ujar suara seorang pria dalam rekaman video tersebut.
Meluruskan simpang siur informasi, Kepala MTs Negeri 4 Bondowoso, Qurniyatul Fatiya, akhirnya memberi penjelasan resmi melalui sebuah video klarifikasi. Ia meluruskan bahwa hidangan yang dituang siswa tersebut bukanlah paket MBG yang masih utuh, melainkan sisa makanan yang tidak habis dilahap.
Keterlambatan distribusi MBG pada hari itu dipicu oleh penutupan akses jalan utama akibat agenda kunjungan Wakil Menteri, sehingga armada pengangkut makanan terpaksa berputar melewati jalur alternatif.
"Akibatnya, anak-anak sudah telanjur membeli makanan di kantin. Makanan yang ada di video itu adalah sisa dari yang dimakan, bukan makanan utuh yang sengaja dibuang," ujarnya.
Qurniyatul menjelaskan lebih rinci bahwa sisa makanan tersebut sebenarnya dikumpulkan oleh dewan guru untuk dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak itik, sehingga tidak terbuang sia-sia. Pihak madrasah pun menegaskan tidak pernah membuat atau menyebarkan video yang memicu kegaduhan tersebut.
Mengingat area madrasah saat itu tengah difungsikan sebagai kantong parkir tamu VIP kunjungan Wamen, pihak sekolah menduga perekam video adalah oknum dari luar lingkungan sekolah. Bahkan, seorang guru sempat berupaya mencegah aksi perekaman tersebut.
"Jadi, dimungkinkan mereka (pihak luar) yang membuat video tersebut. Salah seorang guru sebenarnya sudah menegur agar tidak memvideokan, tetapi tidak dihiraukan," pungkasnya.