TRIBUNNEWS.COM - Asisten pelatih Timnas Argentina, Roberto Ayala, akhirnya menyampaikan permintaan maaf sekaligus memberikan penjelasan terkait keributan yang melibatkan pemain Argentina dan Spanyol setelah final Piala Dunia 2026 pada Senin (20/7/2026) lalu.
Ayala mengaku menyesal atas insiden tersebut, tetapi menjelaskan bahwa tindakannya saat keributan terjadi dipengaruhi situasi panas serta ucapan pemain Spanyol, Dani Olmo.
"Tentu saja, saya minta maaf," kata Ayala dalam wawancara dengan radio Spanyol yang dikutip MBC.
Namun, Ayala menegaskan bahwa seorang pelatih seharusnya tidak membiarkan emosi mengendalikan tindakan, meskipun dirinya merasa terpancing oleh perkataan pihak lain.
"Sebagai pelatih, tindakan seseorang seharusnya tidak dipengaruhi oleh emosi atau perkataan dan tindakan orang lain," ujar Ayala.
Keributan tersebut turut menjadi sorotan karena terjadi setelah Argentina kalah 0-1 dari Spanyol pada partai final Piala Dunia 2026 yang berlangsung pada 20 Juli lalu.
Sejumlah pemain dan staf kepelatihan Argentina terlibat dalam bentrokan fisik dengan para pemain Spanyol setelah pertandingan berakhir.
Efeknya, suasana yang semula menjadi perayaan kemenangan berubah menjadi insiden panas.
Baca juga: Eks Presiden FIFA Kritik Piala Dunia 2026, Sepp Blatter: Turnamen Kehilangan Kredibilitas
Situasi tersebut kemudian menjadi gambaran bahwa pertandingan besar tidak hanya meninggalkan cerita tentang hasil di lapangan
Akan tetapi juga dapat memunculkan emosi yang sulit dikendalikan setelah peluit panjang berbunyi.
"Sepak bola itu bukan cuma permainan, tetapi bisa jadi panggung untuk meluapkan emosi," kata Delta Gonzales selaku konten kreator @deltabicarabola dalam Podcast Super Taktik di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Pernyataan tersebut menjadi relevan dengan insiden yang terjadi setelah final Piala Dunia 2026 karena persaingan sengit selama pertandingan masih terbawa hingga laga berakhir.
Dalam penjelasannya, Ayala membantah bahwa dirinya melakukan pemukulan terhadap salah satu pihak dalam keributan tersebut.
Mantan bek Timnas Argentina itu mengklaim dirinya hanya berusaha menghampiri kerumunan untuk memisahkan pemain-pemain Argentina yang terlibat dalam perselisihan.
"Saya hanya bereaksi terhadap apa yang dikatakan Dani Olmo dari Spanyol," ujar Ayala mengutip sumber yang sama.
"Saya berlari untuk menarik pemain kami dan itu bukan sebuah pukulan," lanjut Ayala.
Meski demikian, Ayala tetap menyampaikan permintaan maaf atas keterlibatannya dalam insiden yang mencoreng suasana setelah pertandingan final tersebut.
Ia juga menyadari bahwa statusnya sebagai pelatih membuat setiap tindakan yang dilakukan di area lapangan dapat menjadi perhatian publik.
Keributan setelah final Piala Dunia 2026 kini juga masuk dalam perhatian FIFA yang telah menunjuk penyelidik disiplin dan etika untuk memeriksa insiden tersebut.
Investigasi itu dilakukan untuk menentukan apakah terdapat pelanggaran terhadap regulasi disiplin FIFA dalam bentrokan yang melibatkan pemain serta staf kepelatihan kedua tim.
Argentina sendiri harus menerima kekalahan 0-1 dari Spanyol dalam pertandingan final yang berlangsung pada 20 Juli 2026.
Sementara itu, permintaan maaf Ayala menjadi salah satu perkembangan terbaru setelah insiden tersebut, meskipun proses investigasi FIFA masih berjalan dan belum menghasilkan keputusan akhir.
Dengan adanya penyelidikan resmi tersebut, Argentina dan Spanyol masih harus menunggu kemungkinan sanksi yang dapat dijatuhkan FIFA kepada pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam keributan.
(Tribunnews.com/Niken)