TRIBUNBANYUMAS.COM, LONDON — Pemerintah Inggris menyatakan kesiapannya untuk mempertahankan diri setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melayangkan ancaman penyerangan terhadap pangkalan militer di wilayah Inggris.
Teheran menuding pangkalan udara RAF Fairford di Gloucestershire telah dimanfaatkan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) untuk menggelar operasi militer ke wilayah Iran.
Kendati demikian, Kementerian Pertahanan Inggris belum memberikan tanggapan resmi terkait keterlibatan pangkalan RAF Fairford dalam gelombang serangan AS pekan ini.
Menanggapi ancaman Iran ke Inggris tersebut, juru bicara pemerintah Inggris menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata Kerajaan berada dalam posisi siap tempur untuk mengantisipasi segala bentuk potensi ancaman.
"Sistem pertahanan Inggris didukung pendekatan berlapis melalui aset Angkatan Laut Kerajaan, Angkatan Darat, dan Angkatan Udara Kerajaan (RAF), serta bekerja sama erat dengan sekutu NATO," ujar juru bicara pemerintah Inggris sebagaimana dilaporkan The Guardian.
Baca juga: Garda Revolusi Iran Klaim Hancurkan Pusat Data Amazon AS di Bahrain
PM Andy Burnham Tegaskan Pembatasan Peran dan Hukum Internasional
Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Andy Burnham, London menegaskan kembali komitmennya untuk melindungi kepentingan nasional dan sekutu sesuai hukum internasional tanpa terseret ke dalam perang terbuka. Sejak pecahnya konflik AS Iran, Inggris memberikan izin penggunaan pangkalan militer bagi pasukan AS terbatas pada operasi defensif.
Pemerintah Inggris secara tegas menolak memberikan dukungan bagi operasi militer yang bersifat ofensif. Kebijakan pembatasan ini tetap dipertahankan meskipun kesepakatan penggunaan pangkalan RAF Fairford oleh militer AS diperpanjang sejak pekan lalu.
Eskalasi Perang Memanas: Trump Pertimbangkan Serangan Masif
Saling gertak ini mengemuka di tengah serangan udara AS yang memasuki malam ke-12 secara berturut-turut di wilayah Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan perintah untuk meluncurkan serangan skala besar terhadap Teheran. Kepada Axios, Trump menyebut keputusan tersebut makin mendekati final, meski ia menilai kubu Iran masih membuka peluang negosiasi.
Dampak dari memanasnya konflik AS Iran ini turut memicu gejolak di kawasan Timur Tengah. Kelompok Houthi yang disokong Iran mengeklaim telah menggempur dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah. Imbas ketegangan geopolitik tersebut, harga minyak mentah dunia meroket hingga melampaui angka 100 dollar AS per barel. (inas/kps)