Kota yang Tidak Berdaulat Atas Air?
Hari Widodo July 25, 2026 08:52 AM

(Membaca Ulang 5 Abad Banjarmasin dari Perspektif Kedaulatan Air)
Oleh : Ikhsan Alhaque

BANJARMASINPOST.CO.ID- LIMA abad lalu, Banjarmasin lahir dan tumbuh karena air. Sungai bukan sekadar bentang alam, tetapi jalan raya peradaban.

Melalui sungai, manusia bergerak, berdagang, mencari penghidupan, membangun hubungan sosial, dan membentuk identitas kebudayaan Banjar.

Air adalah alasan kota ini hadir. Namun menjelang usia ke-500 tahun, muncul sebuah pertanyaan yang terasa mengganggu: apakah Banjarmasin masih berdaulat atas airnya sendiri?

Identitas Banjarmasin sebagai kota sungai tidak pernah diragukan. Sungai Martapura, Sungai Barito, kanal, handil, dan jaringan air lainnya telah menjadi bagian dari sejarah panjang kota ini.

Namun identitas geografis tidak selalu berjalan seiring dengan ketahanan ekologis.

Saat ini pelayanan air bersih di Kota Banjarmasin telah menjangkau sekitar 82,52 persen wilayah kota. Capaian tersebut menunjukkan perkembangan penting dalam pelayanan dasar masyarakat. Namun di balik capaian tersebut terdapat tantangan yang semakin kompleks: sumber air baku masih sangat bergantung pada aliran permukaan, terutama Sungai Martapura.

Ketergantungan terhadap satu sistem sumber air menjadi persoalan strategis ketika kualitas air baku terus menghadapi tekanan. Pada musim hujan, pasokan air relatif melimpah. Namun ketika musim kemarau panjang terjadi, debit sungai menurun dan ancaman intrusi air asin dari laut dapat masuk lebih jauh ke wilayah sungai.

Situasi tersebut menunjukkan adanya kerentanan sistem air kota. Sebab teknologi pengolahan secanggih apa pun akan menghadapi keterbatasan apabila sumber air bakunya sendiri mengalami tekanan.

Keberlangsungan pelayanan air bersih tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengolah air, tetapi juga oleh kemampuan menjaga sumber air yang akan diolah. Dalam konteks inilah kedaulatan air sebuah kota diuji: bukan ketika air berlimpah, tetapi ketika sumber air menghadapi tekanan dan ketidakpastian.

Di sinilah paradoks Banjarmasin terlihat. Sebuah kota yang dikelilingi air ternyata tidak otomatis menjadi kota yang berdaulat atas air. Sebab ukuran kedaulatan air bukanlah berapa banyak sungai yang dimiliki sebuah kota, melainkan seberapa kuat kemampuan kota tersebut menjaga keberlanjutan sumber air bagi generasi sekarang dan masa depan.

Dalam perjalanan sejarahnya, hubungan masyarakat Banjar dengan sungai mengalami perubahan besar. Dahulu sungai adalah ruang kehidupan. Sungai menjadi jalur transportasi, tempat perdagangan, sumber pangan, bahkan ruang sosial tempat masyarakat berinteraksi. Namun modernisasi kota perlahan mengubah hubungan tersebut.

Perubahan hubungan manusia dengan sungai membawa konsekuensi ekologis. Kualitas air sungai menghadapi tekanan akibat pertumbuhan penduduk, limbah rumah tangga, aktivitas ekonomi, perubahan tata guna lahan, serta berkurangnya kawasan resapan air. Akibatnya, proses pengolahan air baku membutuhkan perlakuan yang semakin kompleks.

PTAM Bandarmasih menghadapi kenyataan bahwa kualitas air baku saat ini berbeda jauh dibandingkan satu hingga dua dekade sebelumnya. Tingkat kekeruhan, perubahan karakter air, dan meningkatnya beban pencemar membuat proses pengolahan membutuhkan upaya lebih besar agar kualitas air tetap memenuhi standar pelayanan.

Masalah air Banjarmasin pada akhirnya bukan hanya masalah hilir. Ia juga merupakan masalah hulu. Apa yang terjadi di daerah tangkapan air dan daerah aliran sungai akan menentukan kualitas kehidupan masyarakat di kawasan hilir. Karena itu, masa depan air Banjarmasin tidak dapat dipisahkan dari bagaimana manusia menjaga keseluruhan ekosistem sungai.

Dari Waterfront City Menuju Water Governance City

Selama bertahun-tahun, pembangunan kota banyak memberi perhatian pada penataan tepian sungai. Konsep waterfront city telah memberikan wajah baru bagi Banjarmasin dan menghidupkan kembali ruang publik yang berkaitan dengan sungai.

Pendekatan tersebut penting. Namun lima abad setelah berdiri, Banjarmasin membutuhkan lompatan cara berpikir yang lebih jauh. Pertanyaan utama kota sungai hari ini bukan lagi sekadar bagaimana membuat sungai terlihat indah, tetapi bagaimana memastikan air tetap tersedia, aman, dan berkelanjutan.

Karena itu, paradigma pembangunan perlu bergerak dari sekadar waterfront city menuju water governance city. Dalam paradigma ini, air tidak dipandang sebagai persoalan yang berdiri sendiri. Sungai, rawa, drainase, air hujan, sumber air baku, kawasan resapan, hingga perubahan iklim harus dipahami sebagai satu sistem yang saling terhubung.

Water governance bukan sekadar perubahan istilah pembangunan, melainkan perubahan cara berpikir: dari kota yang hanya memanfaatkan air menjadi kota yang memahami tanggung jawabnya terhadap air.

Ketahanan air membutuhkan lebih dari pembangunan infrastruktur. Ia membutuhkan perlindungan daerah aliran sungai, diversifikasi sumber air baku, penguatan teknologi pengolahan, peremajaan jaringan distribusi, serta perencanaan jangka panjang menghadapi perubahan iklim.

PTAM Bandarmasih sendiri telah memetakan sejumlah langkah strategis, mulai dari penguatan teknologi pengolahan, pembangunan infrastruktur pendukung, hingga upaya mencari sumber air baku alternatif untuk memastikan keamanan air kota dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, persoalan air bukan sekadar urusan teknis para insinyur, perencana kota, atau perusahaan penyedia air minum. Ia adalah persoalan peradaban. Sebuah kota dapat membangun jalan yang lebih lebar, gedung yang lebih tinggi, dan pusat perdagangan yang lebih ramai. Tetapi seluruh kemajuan tersebut akan kehilangan makna apabila masyarakat menghadapi ketidakpastian terhadap kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan, yakni air.

Lima abad setelah berdiri, tantangan terbesar Banjarmasin bukan lagi bagaimana hidup berdampingan dengan air, melainkan bagaimana membangun kembali kedaulatan atas sistem air yang menopang kehidupannya.

Sejarah Banjarmasin pada dasarnya adalah sejarah adaptasi masyarakat sungai terhadap pasang surut, rawa, banjir, perdagangan, migrasi, dan perubahan zaman. Jika selama lima abad masyarakat Banjar mampu beradaptasi dengan air, maka tantangan abad berikutnya adalah memastikan bahwa air tetap menjadi sumber kehidupan, bukan sumber krisis.

Perayaan 500 tahun Banjarmasin seharusnya bukan hanya momentum untuk mengenang masa lalu, tetapi kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang lebih besar: Kota sungai seperti apa yang ingin kita wariskan seratus tahun dari sekarang?

Masa depan Banjarmasin tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak sungai yang dimilikinya, melainkan oleh sewberapa bijaksana kota ini mengelola air sebagai fondasi peradabannya.

Dan pada akhirnya, sejarah akan mencatat satu pertanyaan sederhana: “Apakah kota ini masih mampu berdaulat atas airnya sendiri ?”. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.