TRIBUNNEWS.COM - Teka-teki terkait keputusan mendadak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang beralih pesawat kepresidenan dari jet baru pemberian Qatar pada awal bulan Juli ini akhirnya terungkap.
Seperti yang diwartakan sebelumnya, Trump diketahui mendadak mengganti jenis pesawat yang ditumpanginya saat bertolak dari Turki menuju Inggris pada awal bulan ini tepatnya di tanggal 18 Juli 2026 lalu.
Alasan terkait perubahan jenis transportasi yang dinaiki oleh Trump secara mendadak ini kemudian diungkap oleh The New York Times pada sebuah laporan yang dirilis pada Sabtu dini hari WIB ini (25/7/2026) atau pada hari Jumat waktu setempat.
Usut punya usut, perubahan jenis pesawat yang dinaiki Trump ini terjadi lantaran sebuah ancaman yang datang dari proksi Iran yang berupaya mencelakakannya.
Meskipun The New York Times mengatakan ancaman tersebut tidak secara spesifik ditujukan pada pesawat baru itu, ketiadaan sistem pertahanan canggih pada pesawat mewah dari Qatar ini diduga kuat jadi alasan Trump mengurungkan niatannya untuk melakukan penerbangan.
Sebelumnya, surat kabar The New York Times juga menjadi media pertama yang melaporkan risiko kekhawatiran keamanan tingkat tinggi akan pesawat tersebut saat Trump menerimanya dari Qatar.
The New York Times bahkan melaporkan bahwa jet baru tersebut tampak tidak memiliki sistem pertahanan rudal yang mampu mengecoh rudal pencari panas.
Situasi tersebut sempat memicu langkah Departemen Kehakiman era Trump yang berupaya memanggil para jurnalis yang coba "menyingkap" sumber informasi terkait spesifikasi pesawat pemberian Qatar tersebut, meski upaya tersebut akhirnya dibatalkan.
Di sisi lain, Trump sendiri belakangan kerap berbicara mengenai dugaan upaya pembunuhan dirinya oleh Iran.
Trump juga memberikan peringatan keras atas konsekuensi berat yang akan diterima negara tersebut jika percobaan pembunuhan benar-benar dilakukan.
Baca juga: Trump Marah Besar setelah Tentara AS Tewas, Pengamat: Iran Sudah Kebal dengan Perang Psikologi
Trump sejatinya dijadwalkan mulai menggunakan pesawat berbadan lebar Boeing 747 tersebut pada 1 Juli setelah menerimanya sebagai hadiah dari Qatar tahun lalu
Namun, pada 8 Juli lalu, di tengah meningkatnya ketegangan dan permusuhan dengan Iran, Trump secara tak terduga meninggalkan pesawat tersebut saat melakukan penerbangan dari Turki menuju Inggris.
Ia memilih terbang menggunakan Air Force One model lama menuju London dalam sebuah langkah yang ia sebut dilakukan untuk mengenang "masa lalu", sebelum akhirnya kembali menaiki pesawat baru dari Qatar untuk perjalanan pulang ke AS.
Setelah sempat tak banyak komentar terkait kejadian tersebut, Trump akhirnya buka suara terkait apa yang terjadi sebenarnya ketika ia ditanya oleh awak media usai kembali ke Washington dari final Piala Dunia di New Jersey pada 19 Juli 2026 lalu.
Trump kala itu mengakui pesawat baru yang diberikan kepadanya dari Qatar belum memiliki kapabilitas pertahanan penuh.
Namun demikian, Trump mengatakan bahwa pesawat baru tersebut nantinya akan menjadi moda transportasi utamanya setelah sejumlah pembaruan sistem ditambahkan didalamnya.
“Pesawat itu memiliki banyak kemampuan, tetapi seperti yang saya pahami, dalam sekitar sebulan atau lebih, mereka akan mengirimnya (ke hangar Air Force One milik Angkatan Udara AS) untuk dimaksimalkan,” ujar Trump kepada para wartawan.
“Jadi mereka akan mengirimkannya, dan mereka akan membuatnya menjadi maksimal. Itu akan memakan waktu sekitar sebulan.” sambung Trump kala itu
Kendati demikian, Trump tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai bagaimana peningkatan atau maksimalisasi pesawat tersebut akan dilakukan.
Pihak Angkatan Udara AS sendiri belum memberikan tanggapan resmi ketika dimintai komentar.
Baca juga: Trump Boncos! Serangan Iran Hantam Pangkalan Militer AS di Negara Arab, Kerugian Makin Bengkak
Pesawat baru Trump ini sendiri merupakan pemberian dari keluarga kerajaan Qatar yang mendonasikan pesawat penumpang mewah tersebut pada tahun 2025 lalu.
Qatar mengaku pemberian tersebut dilakukan setelah mereka mendengar Trump kerap mengeluhkan kondisi dua pesawat tua yang telah melayani kepresidenan AS sejak tahun 1990.
Jet baru dengan corak warna merah, putih, biru tua, dan emas pilihan Trump ini kemudian dimodifikasi ulang oleh kontraktor pertahanan L3Harris Technologies.
Pesawat ini sejatinya disiapkan sebagai pengganti sementara di tengah kendala Boeing yang kesulitan mengirimkan pesawat generasi penerus Air Force One yang mengalami banyak keterlambatan.
Boeing saat ini sedang berupaya merampungkan dua unit pesawat 747-8 khusus melalui kontrak harga tetap senilai US$3,9 miliar (sekitar Rp70,2 triliun) yang ditandatangani pada tahun 2018.
Proyek tersebut kini tercatat mengalami keterlambatan empat tahun dari jadwal dan membengkak dari anggaran awal, dengan estimasi pengiriman baru diharapkan pada pertengahan tahun 2028.
Proses modifikasi kilat pada jet sumbangan Qatar ini juga sempat memicu kekhawatiran dari sejumlah pakar aviasi, terutama pada tingkat keamanan yang dinilai kurang dibandingkan dengan pesawat Air Force One lawas berwarna biru muda.
Selain itu, kritikus juga menyoroti berbagai masalah etika, konstitusional, dan keamanan sehubungan dengan penerimaan pesawat senilai ratusan juta dolar dari kekuatan asing seperti Qatar.
(Tribunnews.com/Bobby)