Saksi Kata: Pedagang Tempe di Pasar Bersehati Manado Rugi Rp 400 Ribu Akibat Uang Palsu
Isvara Savitri July 26, 2026 05:22 PM

 

TRIBUNMANADO.COM, MANADO - Peredaran uang palsu di Pasar Bersehati, Kota Manado, menimbulkan keresahan di kalangan pedagang.

Salah satu korban yang merupakan pedagang tempe di sana, Satrio Saputro, mengaku mengalami kerugian hingga Rp400 ribu setelah menerima beberapa lembar uang palsu pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu saat bertransaksi.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar dua pekan lalu dan berlangsung lebih dari satu kali.

Transaksi pertama diduga terjadi pada Senin atau Selasa dini hari, kemudian kembali terulang beberapa hari setelahnya.

"Kalau tidak salah sekitar dua minggu lalu. Kejadiannya sekitar pukul 03.00 Wita saat aktivitas jual beli sedang sangat padat," ujar Satrio dalam program Saksi Kata Tribun Manado beberapa waktu lalu.

Sebagai pedagang grosir tempe, Satrio mulai berjualan sejak pukul 03.00 Wita hingga sekitar pukul 07.00 Wita.

Pada jam-jam tersebut, banyak pembeli datang secara bersamaan, terutama pedagang yang akan menjual kembali barang dagangannya.

UANG - Foto uang diduga palsu pecahan Rp 100 ribu. Satrio Saputro, seorang warga yang juga pedagang Tempe di Pasar Bersehati Manado melaporkan, dirinya menjadi korban uang palsu.
UANG - Foto uang diduga palsu pecahan Rp 100 ribu. Satrio Saputro, seorang warga yang juga pedagang Tempe di Pasar Bersehati Manado melaporkan, dirinya menjadi korban uang palsu. (Dokumentasi Satrio Saputro)

Kondisi pasar yang ramai dan penerangan yang terbatas diduga dimanfaatkan pelaku untuk menyelipkan uang palsu saat melakukan pembayaran.

"Saat itu hampir 5-6 orang belanja bersamaan. Kami hanya menerima uang, memasukkannya ke tas, lalu langsung menyerahkan barang. Tidak sempat memeriksa satu per satu," katanya.

Satrio mengaku baru mengetahui adanya uang palsu setelah pulang ke rumah dan menghitung hasil penjualan bersama istrinya.

Saat memisahkan uang berdasarkan pecahan, ia merasakan tekstur salah satu lembar uang berbeda dari biasanya.

"Begitu saya pegang, saya langsung merasa kertasnya berbeda. Hologramnya seperti fotokopi. Setelah diterawang, tidak ada tanda air. Saat itu saya yakin itu uang palsu," ungkapnya.

Tak hanya satu lembar, pada hari berikutnya ia kembali menemukan uang palsu pecahan Rp 100 ribu.

Seminggu kemudian, kasus serupa kembali terjadi sehingga total kerugiannya mencapai sekitar Rp 400 ribu.

Baca juga: Peringatan Dini Cuaca 3 Harian Sulawesi Utara, Sejumlah Wilayah Berpotensi Angin Kencang

Baca juga: Gubernur YSK Hadiri Pengucapan Syukur di Minahasa, Disambut Kawasaran Hingga Nikmati Saguer dan Nike

Meski mengalami kerugian, Satrio memilih menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran.

Ia mengaku lengah saat melayani pembeli di tengah padatnya aktivitas pasar menjadi celah yang dimanfaatkan pelaku.

"Kami menganggap ini keteledoran kami juga. Sekarang saya sudah mengedukasi istri dan teman-teman yang membantu berjualan agar setiap menerima uang Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu langsung diperiksa di bawah cahaya lampu," katanya.

Ia berharap para pedagang lain lebih berhati-hati, terutama saat bertransaksi pada dini hari ketika kondisi pasar masih minim penerangan dan arus pembeli sangat padat.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.