Masjid Selo Panembahan (sering juga ditulis Masjid Sela) merupakan salah satu masjid bersejarah yang ada di lingkungan Keraton Yogyakarta. Dibangun pada masa Sultan Hameng Buwono I.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Sejarah Indonesia mencatat, ada sejumlah masjid ikonik yang terletak di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Masjid Selo Panembahan adalah salah satunya.
Keraton Yogyakarta berdiri setelah ditekennya Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Perjanjian itu secara de jure membagi Mataram Islam menjadi dua kerajaan: Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.
Raja pertama Kesultanan Yogyakarta adalah Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Tak lama setelah berdirinya Keraton Yogyakarta, Sultan langsung memulai pembangunan fisik keraton di lokasi yang dikenal sebagai Hutan Pabringan. Dulunya, ia adalah tempat berburu.
Selama masa pembangunan, Sri Sultan dan keluarga tinggal di Pesanggrahan Ambarketawan, sekarang wilayah Gamping, Sleman.
Setahun kemudian, persisnya pada7 Oktober 1756, HB I beserta keluarga dan pengikutnya boyong dhampar,alias pindahan,dari kediaman sementaranya itu ke istana baru, Keraton Yogyakarta. Selanjutnya, tanggal 7 Oktober diperingati sebagai Hari Jadi Kota Yogyakarta --sekaligus penanda berfungsinya Keraton secara penuh sebagai pusat pemerintahan Kasultanan Yogyakarta.
Di balik hiruk-pikuk kawasan Keraton Yogyakarta dan celah-celah pemukiman padat Kelurahan Panembahan, tersembunyi sebuah permata sejarah yang anggun. Beralamat tak jauh dari kompleks Taman Sari, berdiri Masjid Sela atau orang-orang mengenalnya sebagai Masjid Selo Panembahan.
Bagi masyarakat setempat maupun penikmat sejarah, Masjid Selo Panembahan bukan sekadar tempat bersujud. Ia adalah "mesin waktu" yang membawa siapa pun yang melangkah ke dalamnya kembali ke era kekuasaan Awal Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Kata "Selo" atau "Sela", yang diambil dari bahasa Jawa, berarti batu. Nama ini disematkan bukan tanpa alasan.
Menurut Alex Murdoko, arsitek senior yang malang merintang mendesain sejumlah bangunan di Yogyakarta dan sekitarnya, Masjid Selo berbeda dengan masjid-masjid Jawa pada umumnya yang didominasi struktur kayu jati pada masa itu. Masjid ini dibangun menggunakan batuan padas dan dinding bata tebal yang sangat kokoh.
Masji Selo Penambahan dibangun pada masapemerintahan HB I sekitar tahun 1789. Masjid ini awalnya berfungsi sebagai tempat ibadah khusus, tempat menyepi (khalwat), serta sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta bagi keluarga kerajaan dan kerabat dekat Keraton.
Letaknya yang berada di dalam benteng Baluarti Keraton menjadikan masjid ini memiliki peran penting dalam tatanan ruang keagamaan dan pertahanan spiritual Kesultanan Yogyakarta di masa lama. Menurut Alex, Masjid Selo Panembahan ini memiliki pesona Arsitektur yang khas.
Menurutnya, ada Akulturasi Jawa-Keraton yang kokoh. Melihat arsitektur Masjid Selo Panembahan seperti membaca perpaduan teknik bangunan benteng masa lalu dan filosofi tata ruang Jawa-Islam.
Ciri paling mencolok dari Masjid Selo Panembahan adalah dindingnya yang sangat tebal yang jika diukur mencapai puluhan sentimeter. Karena itulah, kontruksinya mirip dengan arsitektur benteng atau bangunan di kompleks Taman Sari.
Efek dari dinding tebal ini tidak hanya memberikan daya tahan terhadap guncangan zaman, tetapi juga menjaga suhu di dalam masjid tetap sejuk alami meski cuaca Jogja sedang terik.
Secara garis besar, gaya arsitektur Masjid Selo menerapkan bentuk Tajug (atap berbentuk piramida bertingkat) yang merupakan simbol vertikalitas menuju Tuhan dalam tradisi bangunan sakral Jawa.
Di puncak Masjid Selo terdapat ornamen mustaka khas masjid kuno Jawa. Sedangkan pada bagian pintu dan jendela memiliki lengkungan (arch) yang tebal, memancarkan pengaruh sedikit kebarat-baratan/gothik halus yang berpadu harmonis dengan kesederhanaan struktur lokal.
Ukuran Masjid Selo terbilang kecil jika dibandingkan dengan masjid pada umumnya, sebut saja Masjid Gedhe Kauman. Namun, skala yang kecil ini justru menciptakan atmosfer ibadah yang sangat kontemplatif dan intim.
Ruang utama ibadah terasa tenang, jauh dari kebisingan jalan raya, menjadikan proses refleksi diri terasa semakin dalam.
Meskipun telah melalui berbagai peristiwa sejarah—termasuk gempa besar yang pernah melanda Yogyakarta—Masjid Selo tetap berdiri tegak. Bangunan ini kini ditetapkan sebagai warisan Cagar Budaya dan masih aktif digunakan oleh warga Panembahan untuk salat berjamaah serta kegiatan keagamaan masyarakat.
Bagi yang menyukai wisata sejarah dan arsitektur kuno, menyusuri gang-gang kecil di Panembahan hingga menemukan Masjid Selo akan memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Bangunan batu tua ini menjadi bukti bisu betapa indahnya perpaduan antara seni arsitektur, nilai keimanan, dan ketahanan sejarah yang diwariskan para leluhur Mataram Islam.