Jelang Muktamar Jombang, Gus Ulil Sebut Munculnya Banyak Kandidat Bukti Demokratisasi NU
Eko Sutriyanto July 27, 2026 09:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ulil Abshar Abdalla atau yang akrab disapa Gus Ulil, mengungkapkan adanya dinamika demokrasi yang unik dan sehat menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang akan digelar di Jombang, Jawa Timur, akhir Agustus 2026 mendatang.

Gus Ulil menjelaskan, pelaksanaan Muktamar kali ini memperlihatkan iklim demokratisasi yang sangat cair dan dinamis di internal jamiah NU. Hal ini terlihat dari munculnya bursa kepemimpinan nasional yang diisi oleh banyak figur potensial dari kalangan pesantren maupun akademisi.

Hal itu disampaikan Gus Ulil saat melakukan wawancara khusus dengan Tribunnews di Studio Tribunnews, Palmerah, Jakarta, Senin (27/7/2026).

"Muktamar kali ini calonnya banyak. Wah, itu seru itu! Di Lampung kemarin calonnya itu kan hanya dua, Gus Yahya sama Kiai Said. Nah muktamar kali ini calonnya banyak, menandakan ada kegairahan di dalam tubuh NU, ya bagus," ujar Gus Ulil.

Gus Ulil menyoroti perbedaan mendasar antara pelaksanaan Muktamar ke-34 di Lampung beberapa tahun lalu dengan Muktamar ke-35 di Jombang mendatang.

Menurutnya, kontestasi di Lampung terasa sangat tegang layaknya pemilihan presiden (pilpres) karena hanya mempertemukan dua poros kekuatan utama, yakni KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan KH. Said Aqil Siradj.

Baca juga: Jelang Muktamar NU, Anggota DPR Ingatkan PBNU Jangan Hanya Jadi Panggung Elite

Sebaliknya, menjelang Muktamar Jombang, konstelasi kepemimpinan jauh lebih terbuka dengan munculnya sekitar tujuh hingga delapan nama kandidat yang dinilai siap maju dalam bursa pencalonan Ketua Umum PBNU.

Beberapa nama yang mulai mengemuka di antaranya adalah petahana KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Ketua PWNU Jawa Timur KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), KH. Abdul Ghofarrozin (Gus Rozin) dari Pati, KH. Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) dari Magelang, KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam) dari Denanyar, hingga Wakil Ketua Umum PBNU KH. Zulfa Mustofa.

Munculnya banyak nama tersebut dinilai sebagai indikasi positif atas berjalannya kaderisasi kepemimpinan nasional di internal NU memasuki abad kedua usianya.

Para kandidat tersebut saat ini dilaporkan aktif melakukan gerilya politik dan silaturahmi ke berbagai daerah untuk menggalang dukungan suara dari tingkat cabang dan wilayah.

"Tokoh-tokoh yang mencalonkan diri mereka melakukan penggalangan dukungan ke daerah-daerah. Penggalangan ini yang paling bawah adalah pengurus cabang di tingkat kabupaten, karena yang punya suara dalam muktamar adalah pengurus cabang di tingkat kabupaten (PCNU) dan pengurus wilayah di tingkat provinsi (PWNU). Saya tekankan itu peristiwa biasa dalam setiap muktamar," jelas Gus Ulil.
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.