Oleh: Melki Deni, S. Fil.
Sedang Studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol.
POS-KUPANG.COM - Kami akhirnya tiba di Cova Sant Ignasi Manresa, Barcelona, Spanyol sore itu, setelah berdiskusi panjang mengenai tempat reret yang akan dilangsungkan, karena dalam email yang kami terima sebelumnya terdapat beberapa tempat retret milik Serikat Yesus di Barcelona.
Jovan, kawan saya langsung menghubungi Joshua Hinchie, SJ, teman sekelas di kampus yang akan menjadi salah satu pembimbing retret.
Joshua langsung mengarahkan kami agar turun di stasiun terakhir di Manresa, bukan di Plaça de Catalunya, sebagaimana alamat yang kami terima lewat email.
Satu jam lebih kami harus menunggu Renfe 4 di stasiun Barcelona Sants. Sebelum kebosanan menunggu menyerang pikiran, tangan langsung saja mencari ponsel di saku tas.
Baca juga: Opini: Melengkapi Mai Fali E Menjadi Ekosistem Kemajuan Rote Ndao
Layar menyala, meminta kata sandi, dan jari mulai meluncur hampir dengan inersia.
Sebetulnya tidak ada pesan masuk yang menuntut segera dibalas atau sesuatu yang harus saya cari di ponsel.
Saya cenderung membuka ponsel karena sudah terbiasa melakukannya. Seolah-olah dunia langsung begitu sepi, miskin, redup, kosong, datar, hampa, dan hambar tanpa membuka ponsel dan mengusap layar setiap momen kosong.
Kita kini terjebak dalam syahwat global yang memuja layar: kecanduan ponsel dan obsesi selfi yang menuntut tiap jengkal hidup dipamerkan demi algoritma Facebook Pro, TikTok, YouTube, dll. Kita memasuki era perang viralitas.
Perang berebut viralitas ini tidak hanya melelahkan, tetapi juga mengubah manusia menjadi komoditas yang haus akan pengakuan instan dalam ruang komunikasi yang bising.
Kita tidak lagi sekadar menggunakan alat, dan aplikasi, melainkan secara sukarela diperbudak oleh “objek pemujaan” digital yang menghancurkan ruang privat dan misteri batin.
Tidak sedikit orang berlomba-lomba memamerkan ketelanjangan, sensualitas, keanehan, irasionalitas, kamar mandi dan toilet, kamar tidur, isi lemari, isi dapur, dan semua yang berkaitan dengan privasi.
Cukup jarang kita mendengar orang tua mengisahkan pengalamnya, atau kala pun orang tua mengisahkannya, anak-anak cenderung tidak mendengarnya karena dianggap sebagai produk masa lalu. Yang baru adalah ponsel, data, konten, game, judi online, pinjaman online, dll.
Di tengah hiruk-pikuk unggahan yang tidak henti karena perintah algoritma ini, waktu seolah menguap begitu saja tanpa menginggalkan jejak yang berarti bagi jiwa.
Tulisan ini hendak menegaskan bahwa di balik kegilaan digital ini, kita sedang mengalami kematian pengalaman sejati akibat penyembahan berhala terhadap data, informasi, dan viral.
Pengalaman sejati bukanlah sekadar rentetan peristiwa yang lewat di depan mata layaknya iklan yang kita geser di layar ponsel.
Byung-Chul Han mengingatkan bahwa pengalaman (Erfahrung) menuntut keterbukaan terhadap “Yang Lain” yang sering kali mengusik dan menyakitkan (Byung-Chul Han, La explusión de lo distinto, Barcelona: Herder Editorial, 2017).
Ia berbeda dari sekadar sensasi dangkal (Erlebnis) yang hanya memanjakan ego tanpa memberikan dampak batin yang mengubah hidup.
Tanpa adanya keberanian untuk mempertanyakan diri sendiri, menguji kebenaran pengalaman sebagai pengalaman dari pemikiran tentang pengalaman sebagai refleksi atau pesan atau kesan atas pengalaman, sebuah peristiwa hanyalah sampah informasi yang tidak layak disebut pengalaman.
Hakikat dari menjadi manusia adalah membiarkan realitas luar “melukai” batin agar manusia bisa tumbuh melampaui narsisme digital.
Ada kriteria yang sangat ketat untuk membedakan antara kedalaman hidup dengan sekadar konsumsi informasi yang membabi buta.
Syarat utamanya adalah durasi atau apa yang Byung-Chul Han sebut sebagai “aroma waktu”, yang memungkinkan batin untuk berdiam, merenung, dan tidak terburu-buru (Byung-Chul Han, El aroma del tiempo, Barcelona: Herder Editoria, 2015).
Pengalaman membutuhkan hampatan atau resistensi, selain refleksi dan disern, agar tercipta narasi kehidupan yang kokoh, bukan sekadar klik foto yang instan, atau menggulir layar.
Kehadiran “Yang Lain” yang misterius dan tidak bisa dikendalikan oleh ego menjadi kunci agar hidup tidak menjadi datar dan membosankan.
Manusia membutuhkan ketegangan demi ketegangan, diombang-ambingkan, dan diaduk-aduk agar seperti kopi dan gula, mempunyai cita rasa; cita rasanya khas, dan berguna bagi diri sendiri, “Yang Lain”, dan dunia.
Pada akhirnya, pengalaman yang diuji selalu meninggalkan jejak yang membuat kita tidak lagi menjadi orang yang sama setelah momen itu berlalu.
Makna terdalam dari sebuah pengalaman adalah keberanian untuk membebaskan diri dari penjara narasi diri yang terlalu mencintai diri sendiri atau jeruji prasangka picik yang suka memuji diri sendiri berlebihan.
Tujuan “mempunyai” pengalaman bukan sekadar menambah koleksi memori atau mengikuti perintah algoritma media sosial dengan rutin mengunggah foto atau video tiap saat, melainkan mencapai pemahaman yang lebih luas tentang diri, “Yang Lain”, dan dunia.
Baca juga: Tonny Djogo Orasi Ilmiah Mengenai Paradoks di Balik Cita Rasa Kopi Bajawa
Melalui pengalaman, kita belajar untuk kembali mendengarkan “suara keberadaan” kita yang sering kali tenggelam dalam kebisingan notifikasi ponsel.
Melalui pengalaman, kita belajar asal-usul kita, orang tua, nenek moyang, cerita tentang kampung, kota, negara, agama, budaya, dll., yang mengandung nilai-nilai moral, historis, dan norma-norma yang mengatur dan mengendalikan kebebasan kita yang tidak suka aturan.
Pengalaman membimbing kita menuju kebajikan hidup yang menyatukan pengetahuan teori dengan praktik nyata di lapangan, mengeratkan relasi antara kelisanan peristiwa dan tulisan yang transformatif, dan mengharmonikan antara mitos, legenda, teori konspirasi, dialog kritis dan gerakan pembebasan yang emansipatoris.
Pengalaman membantu kita melihat lebih jauh dari yang kita alami saat ini, atau yang telah kita lewati pada masa lalu, dan mungkin akan kita temukan pada masa depan.
Pengalaman tidak selalu menghibur, mengedukasi, dan membimbing, tetapi juga menyembuhkan, memulihkan, dan membebaskan.
Pengalaman bukan sekadar kumpulan kenangan yang dapat disimbolkan, yang dilambangkan atau yang diumpamakan.
Pengalaman itu tampak estetis dan etis, justru karena didapatkan, dihidupkan, dan ditemukan dalam peristiwa askesis, empati, dan filantropis.
Pengalaman adalah ikhtiar bagi jiwa untuk membangun arsitektur batin yang stabil di tengah dunia yang terus berubah dengan sangat cepat.
Di sini kita harus membedakan antara pengalaman dan kenangan. Meskipun sering dianggap sama, pengalaman dan kenangan sesungguhnya adalah dua hal yang bekerja dalam dimensi waktu yang berbeda.
Kenangan adalah upaya menghadirkan kembali masa lalu sebagai gambaran atau ikon yang menetap dalam jiwa.
Paul Ricoeur melihat kenangan sebagai cara kita menjaga kesetiaan pada apa yang telah hilang namun tetap memberi makna (Paul Ricoeur, La memoria, la historia, el olvido, Madrid: Editorial Trotta, 2003, 15).
Sementara itu, pengalaman adalah proses hidup yang sedang berdenyut dan melibatkan seluruh indra, pemikiran, perasaan, imajinasi serta raga kita secara langsung.
Singkatnya, dapat dikatakan bahwa pengalaman merupakan proses pembentukan diri yang dinamis dalam pencarian makna dan tujuan hidup, sedangkan kenangan adalah jejak suci, pahit-manis, hitam-putih dari proses yang telah tuntas tersebut.
Semua orang bisa mengenang, tetapi tidak semua orang bisa “mempunyai” pengalaman dari kenangan itu, sebaliknya, semua orang dapat “mempunyai” pengalaman, tetapi tidak semua orang bisa mengenang dari “mempunyai” pengalaman.
Lalu, apakah rutinitas menunggah foto dan video di media sosial dapat membentuk jejak kenangan dan membangun arsitek pengalaman?
Dalam pandangan Byung-Chul Han, foto analog memiliki nilai “pemujaan” yang mampu menghidupkan kembali nyawa atau “aura” dari masa lalu (Byung-Chul Han, No cosas: Quiebras del mundo de hoy, Madrid: Taurus, 2021).
Namun, selfi, video dan siaran langsung telanjang atau memamerkan barang-barang privasi yang diproduksi secara massal di media sosial saat ini untuk merebut viral dan daya tarik algoritma justru menghancurkan esensi kenangan dan pengalaman karena hanya berfungsi sebagai pameran sesaat (Byung-Chul Han, En el ejambre, Barcelona: Herder Editorial, 2014, 51).
Foto digital tidak lagi menjadi pengalaman batin, melainkan komoditas untuk mencari pujian dalam ruang komunikasi yang hampa.
Foto di mana-mana memiskinkan pengalaman di mana-mana karena kamera hanya menangkap objek kecil dari keseluruhan, meskipun sedikit membantu ingatan,
memantik kenangan.
Foto bisa menjadi kenangan jika ia menyimpan rahasia, dan mempertahankan misteri manusia, peristiwa, dan pengalaman di dalamnya, namun akan menjadi hampa jika tujuannya hanya untuk memburu viralitas semata.
Foto juga bisa menjadi sejarah, kalau ia merajut mengalaman individual ke dalam sebuah ingatan kolektif yang memberikan identitas.
Tanpa adanya waktu yang mengalir secara berkelanjutan, sejarah seperti foto akan menjadi tumpukan data yang tidak memilik makna.
Pengalaman adalah bahan baku sejarah, di mana setiap peristiwa diinterpretasikan ulang untuk menerangi jalan menuju masa depan.
Tantangan terbesar kita masa kini ialah kecerdasan buatan. Apakah kecerdasan buatan bisa “mempunyai” pengalaman seperti kita? Tentu saja tidak.
Kecerdasan buatan mustahil mencari, menciptakan, dan menghidupkan pengalaman sejati karena ia tidak mampu merasakan sakit, tubuh, darah, tulang atau memiliki dimensi afektif.
Kecerdasan buatan hanyalah mesin kalkulasi yang mengelolah data tanpa roh, sehingga ia tidak bisa menafsir atau berinterpretasi dalam arti filosofis yang melibatkan keberanian mengambil risiko. Pengalaman selalu berkaitan dengan aktivitas berpikir kreatif.
Berpikir kreatif adalah proses analog yang menuntut subjek untuk “tergerak”, merasa kagum, heran, atau “tersentuh” oleh dunia sebelum menangkapnya dalam konsep. Kecerdasan buatan tidak bisa merasakan fenomena fisik seperti “merinding”, atau “berdecak kagum”.
Pengalaman sejati menuntut keterbukaan terhadap “Yang Lain” yang sering kali menyakitkan, sedangkan kecerdasan buatan hanyalah mesin kalkulasi yang hampa roh dan hanya memproses informasi yang tersedia tanpa benar-benar “bertemu” dan “hidup” dengan realitas luar.
Kecerdasan buatan hanya bisa bekerja atau mengalkukasi, tetapi tidak bisa berpikir dalam arti yang menghidupkan roh.
Dalam penafsiran, kecerdasan buatan terbatas pada kemampuan untuk memilih di antara opsi yang sudah ada, sehingga ia tidak mampu menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru atau berbeda secara radikal.
Menafsirkan membutuhkan kemampuan naratif dan keputusan primer yang menentukan apa yang berharga dan apa yang tidak, sedangkan kecerdasan buatan terjebak dalam korelasi data yang merupakan bentuk pengetahuan paling primitif.
Kecerdasan buatan bersifat “tuli”, karena ia tidak bisa mendengar “suara keberadaan” atau lendapan makna yang ada di balik informasi.
Karena kecerdasan buatan tidak memiliki “Eros” atau hasrat yang memberikan sayap pada pemikiran, ia tidak akan pernah bisa melakukan lompatan filosofis yang berani atau menciptakan kosakata bahasa baru.
Hasil kalkulasi kecerdasan buatan hanyalah tumpukan data aditif, bukan sebuah pemahan yang mampu merajut fragmen-fragmen kehidupan menjadi narasi yang bermakna.
Itulah sebabnya kecerdasan buatan dan Big Data memiliki rasa “lapar yang tidak terkendalikan” untuk melahap setiap sejak digital guna memprediksi dan memanipulasi perilaku manusia.
Fenomena Dataisme ini mengubah manusia menjadi objek yang dapat dikalkulasi, mensubordinasikan subjek yang berpikir menjadi sekadar objek yang terus-menerus dioptimalkan.
Melalui psikopolitik digital, setiap klik dan jejak digital kita direkam untuk membangun profil psikologis kolektif maupun individual, yang bahkan mampu mengakses keinginan bawah sadar kita.
Kerakusan ini menghancurkan ruang privat dan misteri, memperlakukan manusia sebagai “paket data” yang siap dieksploitasi secara ekonomi dan dikendalikan secara politik tanpa kita sadari.
Pada akhirnya, efisiensi total dari pengumpulan dara ini menyebabkan “atrofi pemikiran”, di mana teori dan akal budi dianggap tidak lagi diperlakukan karena angka dianggap sudah mewakili kebenaran.
Pengalaman berjalan di luar jaring perangkap kecerdasan buatan. Pengalaman manusia tidak bisa ditafsirkan, diinterpretasikan, dimaknai, dan dihidupkan oleh kecerdasan buatan.
Pengalaman menciptakan jarak dengan misteri, karena misteri adalah salah satu gurunya yang paling luhur.
Kecerdasan buatan berusaha membongkar misteri, tetapi ia sendiri ditelanjangkan oleh misteri: apa yang “tersembunyi” (misteri) dari kecerdasan buatan?
Pengalaman selalu berbicara lebih banyak yang jujur dan benar daripada ribuan kalimat kecerdasan buatan.
Tetapi pengalaman sejati tidak ditemukan di atas meja belajar atau saat siaran langsung dari kamar tidur, kamar toilet, dapur. Pengalaman harus dicari, dihidupi, dan dimaknai.
Itu dapat ditemukan dalam ruang privasi, bebas spekulasi, jauh dari prediksi, dan penuh misteri.
Pengalaman mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, dan mengisahkan lebih teliti daripada tulisan! (*)