Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengomentari perihal sayembara menangkap pelaku kejahatan termasuk begal yang diadakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, atau kerap disapa KDM.
Natalius Pigai, saat ditemui di Hotel Papandayan, Kota Bandung, Jawa Barat, setelah acara Kementerian HAM, Selasa (28/7/2026), tak ingin memperpanjang friksi terkait setuju atau tak setuju sayembara.
"Jadi, begini ya. Saya pikir pak Dedi Mulyadi ini hanya berguyon (sayembara). Jangan salah loh, ya, bisa saja soal sayembara itu guyonan. Maka, media jangan anggap serius," kata Pigai.
Baca juga: Bangkitkan Keberanian, Dedi Mulyadi Tegaskan Sayembara Tangkap Begal Bukan untuk Main Hakim Sendiri
Dia berharap KDM tak serius untuk mengadakan sayembara tangkap begal tersebut, tetapi jika guyon itu sah-sah saja.
"Saya berharap itu guyonan, tapi kalau serius diusahakan tidak boleh. Begini ya, anda membayar untuk menangkap orang. Lalu, yang menangkap itu orang yang terlatih atau tidak? Kalau sipil yang tidak terlatih, artinya bisa saja memukul dong ya dan sampai berdarah-darah. Apa diperbolehkan kita bayar orang untuk memukul orang lain di lapangan? Intinya, ini rumahnya dia di Jawa Barat, tidak etis, tapi dugaan saya pak Dedi hanya guyon dan tak serius, semoga ya. Mohon jangan lagi dibenturkan," ujar Pigai.
Sebelumnya, Dedi Mulyadi membuka sayembara bagi masyarakat yang berhasil menangkap pelaku begal maupun kejahatan jalanan lainnya, dan menyerahkannya kepada kepolisian dalam keadaan hidup.
Gubernur Jabar itu pun menyiapkah hadiah Rp 5 juta hingga Rp 50 juta.
Baca juga: Dedi Mulyadi Tegaskan Sayembara Tangkap Begal Bangun Keberanian Warga, Bukan Picu Main Hakim Sendiri
Sayembara itu diumumkan Dedi sebagai upaya memperkuat keamanan di tengah meningkatnya aksi kriminalitas di sejumlah wilayah Jawa Barat.
Dedi mengatakan, hadiah tersebut berlaku bagi warga yang mampu melumpuhkan pelaku pencurian, copet, jambret, begal, hingga perampokan sebelum diserahkan kepada aparat penegak hukum.
Dedi Mulyadi menegaskan program sayembara bagi warga yang berhasil membantu menangkap pelaku kejahatan bukan bertujuan memicu aksi main hakim sendiri.
Sebaliknya, program tersebut dirancang untuk membangun keberanian masyarakat sekaligus mendorong warga menyerahkan pelaku kepada aparat penegak hukum.