Striker Timnas Mitchell Baker Tingginya 196 Cm, Apa yang Bikin Anak Tumbuh Menjulang?
GH News July 28, 2026 08:09 PM
Jakarta -

Penyerang baru Tim Nasional (Timnas) sepak bola Indonesia, Mitchell Baker, tengah menjadi sorotan usai mencetak 3 gol ke gawang Kamboja pada ajang Piala AFF 2026. Media turut menyoroti penampilan debut Baker sekaligus postur yang menjulang mencapai 196 cm.

Mitchell Baker baru resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) pada 13 Juli lalu. Baker memiliki darah Indonesia dari sang ibu, Maureen Lee Baker yang berasal dari Yogyakarta dan Semarang.

Ia resmi menjalani debutnya bersama Timnas Indonesia pada usia yang belum genap 20 tahun. Pemain yang lahir pada 11 Desember 2006 tersebut, sebelumnya bermain di tim kampus di Amerika Serikat, yakni Georgetown University.

Lantas, bagaimana anak seperti Baker tumbuh menjulang hampir 2 meter meski usia masih 19 tahun?

Apa yang Membuat Anak Bisa Tumbuh Sangat Tinggi?

1. DNA

Rata-rata tinggi pria di Indonesia adalah sekitar 166 cm. Mengutip Medical News Today, tinggi badan anak saat dewasa sangat dipengaruhi oleh DNA mereka.

Sederhananya, seseorang yang memiliki tubuh tinggi berarti mewarisi DNA orang tua atau leluhurnya. Hal ini pernah diteliti oleh para ilmuwan yang mengidentifikasi 12.111 lokus gen berbeda yang menentukan tinggi badan. Lokus adalah lokasi gen pada kromosom.

Hal yang sama juga dikatakan oleh ahli endokrinologi anak asal AS, Dr Andrea Mucci, MD. Menurutnya, jika kedua orang tua berpostur tinggi, maka kemungkinan besar anak juga akan tumbuh tinggi.

"Tetapi jika salah satu dari Anda memiliki ibu atau nenek yang bertubuh pendek, atau seseorang dalam keluarga besar, maka tidak akan terlalu mengejutkan jika anak Anda bertubuh pendek," ujar Dr Mucci.

Dalam hal ini, Mitchell Baker memiliki seorang ayah yang berasal dari Australia. Secara umum, berdasarkan data dari Australian Bureau of Statistics, rata-rata tinggi badan pria sekitar 175-177 cm.

2. Nutrisi

Faktor selanjutnya adalah nutrisi. Dimulai sejak masa kehamilan, asupan nutrisi untuk pertumbuhan tulang dan perkembangan janin sangat penting. Mulai dari zat besi, asam folat, protein, vitamin D, hingga kalsium.

Selama pertumbuhan, anak-anak bisa tumbuh lebih maksimal dengan nutrisi yang cukup. Sebaliknya, jika kekurangan nutrisi, maka pertumbuhan anak bisa terhambat.

"Kami biasanya mencurigai masalah nutrisi atau pencernaan jika berat badan turun lebih banyak daripada tinggi badan. Anak Anda mungkin tidak mendapatkan cukup energi untuk pertumbuhan yang optimal," ungkap Dr Mucci.

3. Disiplin dengan Pola Tidur yang Cukup

Dalam artikel di National Heart, Lung, and Blood Institute, tidur dilaporkan bisa mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak-anak hingga remaja. Saat anak tidur nyenyak, tubuh akan melepaskan hormon penting yang dibutuhkan tubuh.

Apabila anak mengalami kekurangan tidur dalam waktu yang lama, maka akan terganggu pertumbuhannya. Bahkan kurang tidur bisa menyebabkan masalah lain bagi anak, termasuk kesulitan fokus dan belajar.

4. Disiplin Berolahraga

Banyak anak terbiasa bermain dengan mengandalkan fisik. Bermain atau berolahraga disebut bisa membuat tulang lebih padat dan kuat. Saat perkembangan fisik optimal, pertumbuhan tulang dan otot juga maksimal.

Secara umum, tinggi badan setiap anak akan berhenti setelah melewati masa pubertas. Ini karena lempeng pertumbuhan telah menghasilkan tulang baru dan sudah menyatu.

Rata-rata anak laki-laki mencapai akhir pubertas sekitar usia 17 atau 18 tahun. Sementara perempuan rata-rata berusia 15 tahun.

Fahri Zulfikar
Jurnalis detikcom. Bergabung dengan detikcom sejak 2019. Aktif meliput isu-isu pendidikan, iklim, riset & analisis, konten seputar Gen Z serta menyukai dunia sepak bola. Kini jadi penulis buku.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.