Bukan Sekadar Ritual, Tradisi Slametan Setelah Gempa dalam Primbon Jawa
Joko Widiyarso July 28, 2026 08:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM – Kalau mendengar kata slametan, apa yang pertama kali terlintas di benak Tribunners? 

Mungkin tumpeng, doa bersama, atau suasana ketika tetangga berkumpul menikmati hidangan sederhana.

Bagi masyarakat Jawa, slametan memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sejak lama. 

Tradisi ini digelar dalam berbagai momen, mulai dari kelahiran, pernikahan, panen, pindah rumah, hingga ketika seseorang memohon keselamatan.

Namun, ada satu tradisi yang mungkin belum banyak diketahui. 

Ternyata, gempa bumi juga menjadi salah satu peristiwa yang disambut dengan slametan.

Sekilas mungkin terdengar cukup aneh. Mengapa setelah bumi berguncang justru mengadakan slametan?

Jawabannya bukan karena masyarakat Jawa menganggap gempa sebagai sesuatu yang patut dirayakan. 

Sebaliknya, slametan menjadi cara untuk menenangkan hati, memanjatkan doa, sekaligus menguatkan satu sama lain setelah mengalami peristiwa yang mengagetkan.

Dilansir dari kajian ilmiah Gempa Bumi dalam Pandangan-Dunia Orang Jawa: Studi atas Dua Manuskrip Primbon Jawa Abad ke-19 M karya Islah Gusmian, tradisi tersebut telah tercatat dalam manuskrip Primbon Jawa sejak abad ke-19. 

Dalam catatan itu, gempa tidak hanya dimaknai sebagai sebuah pertanda, tetapi juga direspons melalui doa, sedekah, dan slametan sebagai bentuk ikhtiar spiritual.

Slametan, Cara Orang Jawa Menenangkan Hati Setelah Gempa

Tribunners

Dalam kehidupan masyarakat Jawa, slametan bukan sekadar acara makan bersama. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi momen untuk berkumpul, saling mendoakan, dan berbagi rezeki.

Karena itu, hampir setiap penafsiran gempa dalam manuskrip Primbon Jawa selalu diikuti anjuran mengadakan slametan atau sedekahan.

Menariknya, anjuran tersebut disesuaikan dengan waktu terjadinya gempa menurut penanggalan Jawa.

Kalau dibaca sekarang, mungkin muncul pertanyaan, mengapa harus menyiapkan makanan setelah baru saja mengalami gempa?

Jawabannya ternyata bukan pada makanannya.

Bagi masyarakat Jawa, makanan hanyalah perantara. Yang jauh lebih penting adalah kebersamaan yang tercipta. 

Saat keluarga, tetangga, dan kerabat duduk bersama dalam satu lingkaran, rasa takut perlahan berubah menjadi rasa saling menguatkan.

Lewat slametan, masyarakat diajak untuk tidak menghadapi musibah sendirian. 

Ada doa yang dipanjatkan bersama, ada sedekah yang dibagikan, dan ada harapan agar kehidupan kembali berjalan dengan tenang.

Cara pandang seperti inilah yang membuat slametan memiliki makna lebih dalam daripada sekadar tradisi turun-temurun.

Doa dan Sedekah Menjadi Inti Slametan

Selain berkumpul, slametan selalu diiringi dengan doa.

Dalam manuskrip Primbon Jawa, doa yang dipanjatkan pun tidak hanya satu. 

Ada doa keselamatan, doa qunut nazilah yang biasa dibaca ketika terjadi musibah, doa tolak balak, doa memohon umur panjang, hingga doa bumi yang berisi permohonan agar bumi tetap menjadi tempat yang baik bagi kehidupan manusia.

Meski redaksinya berbeda-beda, isi doa tersebut memiliki harapan yang sama, yakni memohon keselamatan, perlindungan, serta keteguhan hati kepada Tuhan.

Tak hanya berdoa, masyarakat Jawa juga dianjurkan untuk bersedekah.

Dalam pandangan masyarakat Jawa, sedekah bukan sekadar berbagi makanan.

 Memberi kepada orang lain dipahami sebagai ungkapan syukur sekaligus ikhtiar agar kehidupan kembali dipenuhi keberkahan dan dijauhkan dari berbagai mara bahaya.

Karena itulah, doa dan sedekah menjadi dua hal yang hampir tidak pernah dipisahkan dalam tradisi slametan setelah gempa.

Menu Slametan Setelah Gempa, Apa Saja yang Disajikan?

Selain doa, ada satu hal yang hampir selalu hadir dalam slametan, yaitu hidangan yang dibagikan kepada keluarga maupun tetangga.

Dilansir dari kajian ilmiah Islah Gusmian, manuskrip Primbon Jawa menyebut beberapa jenis makanan yang digunakan dalam slametan setelah gempa. 

Di antaranya sego gurih, sego abang atau nasi merah, bubur merah, sego galung, sego tumpeng, sego megana, sego liwet, hingga sego punar atau nasi kuning.

Jenis hidangan yang disiapkan tidak selalu sama. Semuanya menyesuaikan waktu terjadinya gempa menurut penanggalan Jawa.

Meski berbeda-beda, tujuan penyajiannya tetap sama, yaitu menjadi bagian dari sedekah dan mempererat kebersamaan setelah masyarakat mengalami musibah.

Sego Gurih

Sego gurih atau nasi gurih dimasak menggunakan santan sehingga rasanya lebih gurih dibanding nasi putih biasa. 

Dalam tradisi Jawa, hidangan ini sering hadir dalam acara syukuran sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Tuhan.

Sego Abang

Sego abang atau nasi merah menjadi salah satu sajian yang juga disebut dalam manuskrip Primbon. 

Dalam tradisi Jawa, warna merah kerap dikaitkan dengan semangat dan harapan ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Bubur Merah

Bubur merah banyak dijumpai dalam berbagai tradisi masyarakat Jawa. Sajian sederhana ini sering menjadi bagian dari acara syukuran maupun doa bersama.

Sego Tumpeng

Nasi Tumpeng
Nasi Tumpeng (Pinterest.com)

Siapa yang tidak mengenal tumpeng? Hidangan berbentuk kerucut ini sudah lama menjadi simbol syukur dalam budaya Jawa. 

Tumpeng hampir selalu hadir dalam berbagai acara penting sebagai ungkapan terima kasih atas nikmat yang diberikan Tuhan.

Sego Megana

Sego megana merupakan nasi yang disajikan bersama urap nangka muda berbumbu kelapa. Hidangan khas Jawa ini juga kerap ditemukan dalam berbagai tradisi syukuran.

Sego Liwet

Sego liwet dimasak dengan santan dan rempah sehingga memiliki aroma yang khas. 

Karena biasanya dinikmati bersama-sama, hidangan ini juga menjadi simbol kebersamaan dalam berbagai acara masyarakat Jawa.

Sego Punar

Sego punar atau nasi kuning memiliki warna cerah yang berasal dari kunyit.

Dalam tradisi Jawa, nasi kuning sering disajikan pada acara syukuran sebagai lambang rasa syukur dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Warisan Budaya yang Sarat Makna

Tribunners, kini gempa bumi dipahami sebagai fenomena alam yang dijelaskan melalui ilmu geologi. 

Saat gempa terjadi, langkah paling penting tentu tetap mengutamakan keselamatan dan mengikuti informasi resmi dari BMKG.

Namun, mengenal tradisi slametan setelah gempa memberi gambaran menarik tentang cara masyarakat Jawa memandang sebuah musibah.

Alih-alih larut dalam rasa takut, mereka memilih berkumpul. 

Alih-alih sibuk menebak-nebak apa yang akan terjadi, mereka memperbanyak doa dan berbagi rezeki kepada sesama.

Mungkin inilah pesan yang masih terasa relevan hingga sekarang. Musibah memang tidak selalu bisa dihindari, tetapi selalu ada cara untuk menghadapinya bersama-sama.

Di balik nasi yang dibagikan, doa yang dipanjatkan, dan kebersamaan yang tercipta, slametan mengajarkan bahwa harapan bisa tumbuh dari hal-hal yang paling sederhana. 

Dan bagi masyarakat Jawa, itulah makna yang membuat slametan setelah gempa bukan sekadar ritual, melainkan cara merawat ketenangan, mempererat persaudaraan, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. (MG Natasya Aulia)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.