Mendobrak Batas Lewat Karya: Pekan Budaya Difabel 2026 DIY Hadirkan Inovasi Mobil Terapi Keliling
Joko Widiyarso July 28, 2026 11:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL — Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membuat gebrakan inklusif dengan resmi membuka Pekan Budaya Difabel (PBD) 2026 di SLB Negeri 2 Bantul, Selasa (28/7/2026).

Tidak sekadar menjadi ajang unjuk bakat, perhelatan tahun ini memadukan ruang ekspresi seni dengan layanan kesehatan melalui inovasi Mobil Keliling Terapi (Moekti).

Mengusung tema "MURAKABI", yang bermakna merayakan keberagaman dalam ruang yang inklusif, kolaborasi ini menciptakan satu ekosistem komprehensif.

Ekosistem tersebut mencakup layanan terapi, seni, edukasi, hingga pendampingan keluarga untuk mendukung tumbuh kembang anak-anak difabel.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi menyampaikan bahwa integrasi antara PBD dan Moekti adalah langkah strategis dari pemerintah daerah. Tujuannya adalah memperluas manfaat program sekaligus memperkuat peran kebudayaan sebagai media pemberdayaan yang nyata.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya Moekti murni berfokus pada layanan terapi dan hanya melibatkan dua Sekolah Luar Biasa (SLB), pada tahun 2026 ini program tersebut melesat dengan menggandeng 10 SLB sekaligus melalui berbagai kegiatan seni, budaya, dan edukasi.

"Melalui tema MURAKABI, kami ingin menunjukkan bahwa teman-teman difabel memiliki potensi dan kesempatan yang sama untuk berprestasi, berkarya, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Keterbatasan fisik maupun mental bukanlah penghalang untuk maju, berkolaborasi, dan menghadirkan manfaat bagi sesama," ujar Dian.

Dampak dari ruang inklusif ini langsung terlihat sejak hari pertama pelaksanaan. Humanisme dan keceriaan membaur ketika Tama dan Nico, dua peserta layanan Moekti, tampak begitu antusias mengikuti sesi menggambar.

Dengan krayon di tangan, keduanya menuangkan imajinasi mereka—pepohonan, rumah, jalan, dan pemandangan alam—ke atas secarik kertas. Sesekali, mereka memamerkan hasil goresan tangan tersebut kepada guru dan pendamping dengan senyum bangga. 

Momen sederhana, namun penuh makna ini menjadi bukti konkret bahwa seni adalah media ampuh untuk menumbuhkan kepercayaan diri, memantik kreativitas, dan merangsang interaksi sosial anak-anak difabel.

Difabel juga patut diapresiasi 

Ketua Panitia PBD 2026 M. Arif Wijayanto, atau yang akrab disapa Broto Wijayanto, menegaskan bahwa Pekan Budaya Difabel dirancang bukan sekadar sebagai ruang pamer karya. Lebih dari itu, ini adalah sarana vital untuk membangun kesadaran publik bahwa penyandang disabilitas memiliki talenta dan kepemimpinan yang patut diapresiasi secara luas.

"Kami berharap ke depan Pekan Budaya Difabel semakin inklusif. Teman-teman difabel tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga dapat menjadi pelaku utama dalam penyelenggaraan kegiatan. Dengan begitu, masyarakat dapat melihat secara langsung kemampuan, kreativitas, dan kepemimpinan mereka," kata Broto.

Langkah Dinas Kebudayaan DIY ini turut mendapat apresiasi dari pemerintah desa setempat. Lurah Bangunharjo, Nur Hidayat, menyambut positif penunjukan wilayahnya sebagai tuan rumah PBD 2026. 

Menurutnya, kebudayaan adalah ruang bersama yang hakikatnya harus dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi. Ia mendorong agar ruang-ruang kreatif bagi penyandang disabilitas terus diperluas agar potensi mereka berkembang optimal.

Rangkaian Kegiatan PBD 2026

Selama tiga hari pelaksanaan, yang berlangsung hingga 30 Juli 2026, para peserta dan pendamping difasilitasi dengan berbagai kegiatan yang dirancang untuk memperkuat dukungan keluarga dan lingkungan sekitar. 

Selama tiga hari pelaksanaan, yang berlangsung hingga 30 Juli 2026, para peserta dan pendamping difasilitasi dengan berbagai kegiatan yang dirancang untuk memperkuat dukungan keluarga dan lingkungan sekitar. Rangkaian kegiatan tersebut mencakup layanan terapi terpadu melalui fasilitas inovatif Moekti, workshop bahasa isyarat untuk mendorong komunikasi inklusif, serta pelatihan pengemasan produk guna membekali peserta dengan keterampilan kewirausahaan. 

Selain itu, hadir pula sesi pengenalan dunia difabel untuk mengedukasi masyarakat luas, yang dipadu dengan pameran karya seni dan pentas budaya sebagai panggung utama ekspresi kreativitas peserta. Seluruh alur kegiatan tersebut digenapi dengan diskusi parenting yang dikhususkan bagi guru dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak difabel.

​Melalui sinergi kegiatan ini, Dinas Kebudayaan DIY menaruh harapan besar agar semakin banyak anak difabel yang mendapatkan ruang untuk berkembang, memperluas kesempatan berkarya, serta memperkokoh fondasi budaya inklusif di DIY sebagai bentuk pemajuan kebudayaan yang ramah bagi semua.  
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.