Liputan6.com, Jakarta - PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) memproyeksikan pasar otomotif pada semester II-2026 akan menghadapi tantangan yang lebih berat. Hal ini dipicu oleh kenaikan biaya dana (cost of funds), melemahnya daya beli masyarakat, serta potensi kenaikan harga kendaraan akibat dampak suku bunga acuan terhadap industri pembiayaan.
Presiden Direktur Adira Finance, I Dewa Made Susila, mengatakan bahwa kenaikan biaya dana menuntut perseroan untuk menyesuaikan suku bunga pembiayaan kepada konsumen. Kendati demikian, Adira tetap mempertimbangkan kemampuan bayar nasabah dan dinamika persaingan industri sebelum memutuskan besaran penyesuaian tersebut.
"Biaya dana Adira sudah mulai meningkat sehingga kami harus melakukan penyesuaian kepada nasabah. Namun, kami juga mempertimbangkan daya beli konsumen karena segmen Adira didominasi masyarakat menengah ke bawah," ujar Made dalam konferensi pers daring, Kamis (30/7/2026).Penjualan Ritel Semester I Masih Tumbuh
Di sisi lain, Made mengungkapkan bahwa pasar otomotif nasional sebenarnya masih mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang semester I-2026. Penjualan sepeda motor baru secara ritel meningkat 10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sedangkan penjualan mobil baru naik 11%.
"Data yang kami miliki menunjukkan penjualan motor baru secara ritel naik 10% dibandingkan semester pertama 2025, sedangkan penjualan mobil baru meningkat 11%," ungkapnya.

Kendati demikian, perseroan memperkirakan laju pertumbuhan tersebut akan melambat pada semester II akibat tekanan suku bunga dan daya beli masyarakat.
Made menambahkan bahwa seluruh perusahaan multifinance menghadapi tekanan biaya dana yang serupa, sehingga kenaikan suku bunga pembiayaan diprediksi akan berlangsung secara bertahap. Kondisi ini berpotensi meningkatkan beban cicilan konsumen pada paruh kedua tahun ini.
"Ini penjualan ritel (retail), bukan grosir (wholesale). Nah, tentunya bagaimana? Kelihatannya angka ini akan cukup menantang (challenging) di semester dua," tutup Made.