Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo HR Muhammad Syafi'i menekankan pentingnya pelibatan anak dalam berbagai kegiatan literasi, karena akan berdampak luas pada keikutsertaan orang tua dan keluarga.
“Kalau anak-anak kita libatkan, orang tuanya akan ikut,” ujar Romo Syafi’i saat membuka Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) 1448 H di Unit Percetakan Al Quran (UPQ) Kementerian Agama di Bogor, Kamis.
Wamenag mengatakan salah satu indikator keberhasilan sebuah program adalah kemampuannya menarik minat anak-anak. Karena itu, ia mengapresiasi berbagai kegiatan yang melibatkan anak, seperti lomba mewarnai dan aktivitas edukatif lainnya pada ajang Milfest 2026.
Menurut dia, pendekatan yang berorientasi pada anak akan menjadikan gerakan literasi tidak sekadar kegiatan seremonial, tetapi tumbuh menjadi budaya sejak usia dini.
Untuk memperkaya kegiatan literasi, Wamenag mengusulkan agar Milfest menghadirkan lebih banyak lomba kreatif yang memadukan ilmu pengetahuan dan seni. Salah satunya melalui lomba menciptakan lagu bertema sains yang mudah dipahami anak-anak.
“Saya kira perlu juga perlombaan lagu-lagu ilmu pengetahuan. Misalnya lagu tentang flora dan fauna, bagaimana tumbuhan hidup dan bernapas. Hal-hal seperti ini bisa dijadikan lagu,” katanya.
Selain lomba lagu, ia juga mendorong pengembangan kegiatan literasi melalui berbagai bentuk kreativitas anak agar proses belajar menjadi lebih menyenangkan sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan.
Wamenag menjelaskan orientasi terhadap anak sejalan dengan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (GERNAS RANA) yang bertujuan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak di rumah, sekolah, ruang publik, maupun ruang digital.
Menurut dia, anak-anak memerlukan ruang tumbuh yang sehat agar terhindar dari berbagai pengaruh negatif di era digital. Karena itu, Kementerian Agama tengah menyiapkan penguatan materi pendidikan yang berorientasi pada perlindungan dan pembinaan karakter anak.
“Kawan-kawan di Kementerian Agama sedang menyusun kurikulum yang akan di-insert ke dalam kurikulum yang berjalan. Lagi-lagi untuk anak-anak. Karena cerita masa depan itu cerita anak-anak, bukan cerita kita,” kata dia.
Semangat tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk karakter yang kuat.
Menurut Romo, keluarga, sekolah, dan madrasah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak, sehingga pendidikan yang humanis dan berpihak pada anak akan melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, dan berkarakter.





