TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sejumlah warga di Kalidadap 1, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, tampak silih berganti mendatangi Sendang Wonosari pada Kamis (30/7/2026) siang.
Berdasarkan pantauan Tribunjogja.com, beberapa warga setempat sudah menunggu di Sendang Wonosari selepas salat dzuhur. Saat musim kemarau tiba, Sendang Wonosari menjadi salah satu sumber air yang debitnya relatif bertahan.
Mereka sengaja datang ke lokasi itu untuk melihat ketinggian debit air sebelum akhirnya dapat mengairi rumah maupun sawah mereka. Maka dari itu ketika debit air dirasa cukup banyak dan mampu menyuplai kebutuhan, baru diperbolehkan mengambil air untuk kebutuhan rumah tangga mereka.
Samiyem (70), warga RT 5, Kalidadap 1, menyampaikan, kondisi itu sudah terjadi sekitar sebulan terakhir. Sebab, musim kemarau yang terjadi membuat debit air di sumurnya menurun dan tidak dapat menyuplai kebutuhan.
"Sumur itu kalau musim hujan, kedalaman beberapa meter mungkin sudah ada airnya. Tapi, kalau kemarau gini ya cukup susah. Mungkin sumurnya harus lebih dalam lagi baru bisa dapat air," ucapnya, saat ditemui di Sendang Wonosari.
Kondisi tersebut membuatnya semakin bergantung pada Sendang Wonosari untuk mencukupi kebutuhan harian berupa memasak, mencuci, hingga menyiram tanaman pertanian.
Setidaknya, dibutuhkan selang sekitar 10 gulung atau setara 500 meter untuk mengairi air dari Sendang Wonosari ke rumahnya. Walau bercampur dengan selang milik warga lainnya, namun Samiyem mengaku tidak pusing.
"Ya kan sudah biasa kayak gini. Jadi ya endak nganu, endak pusing. Sini tu sudah hafal dengan selangnya masing-masing. Jadi ya enggak pada bingung," tuturnya.
Sekitar pukul 13.21 WIB, Samiyem dan warga lainnya mulai meletakkan ujung selang ke dalam Sendang Wonosari. Kemudian, sisi seberang ujung selang tersebut ia sedot manual yakni hanya menggunakan mulut.
Selanjutnya, apabila air sudah mengalir pada bagian ujung selang itu akan disambung dengan selang selanjutnya sampai benar-benar sampai ke rumahnya.
Ia pun berkali-kali mengecek beberapa titik sambungan selang tersebut untuk memastikan bahwa air benar-benar mengalir.
"Kan takutnya di bagian tengah-tengah mati. Airnya enggak jalan. Jadi, ya kadang di cek. Nanti kalau enggak ngalir airnya disedot lagi pakai mulut," ujar Samiyem.
Dikarenakan lokasi sedang berada di daratan atas dan rumah Samiyem di daratan rendah, maka proses penyedotannya dilakukan manual tanpa menggunakan mesin pompa air.
Kata Samiyem, tiga kali dalam sehari harus kembali melakukan hal yang sama dengan pembagian waktu pagi, siang, dan sore. Di mana, waktu itu pengambilan air itu sudah menjadi kesepakatan bersama.
"Tapi, ada juga yang malam sekitar jam 03.00 itu yang nyedot untuk keperluan sawah. Kalau saya, sehari tiga kali saja," tutur dia.
Kendati begitu, air yang didapatkan tidaklah banyak. Jumlahnya hanya mampu mencukupi kebutuhan tertentu, sehingga tidak bisa menyetok dalam jumlah yang banyak.
"Wah kalau dapat, ya paling cuma beberapa ember mandi biasa. Ya enggak bisa nyetok. Ya air yang didapat tergantung dengan debit air dari sendang sini," paparnya.
Senada, Tarni (35), warga RT 6, Kalidadap 1, juga merasakan hal yang sama. Dia harus menunggu di Sendang Wonosari sejak pukul 12.50 WIB sampai debit air cukup menyuplai kebutuhan.
"Ya saya ambil air di sendang ini untuk rumah sama sawah. Kalau musim kemaru ya kayak gini," tuturnya.(nei)