Mari dukung pembangunan pertanian sebagai upaya menjaga ketahanan pangan bangsa
Lombok Utara (ANTARA) - Menteri Hukum Republik Indonesia Supratman Andi Agtas mengajak seluruh mahasiswa untuk terus memperkuat kolaborasi lintas organisasi sebagai bentuk kontribusi nyata dalam mendukung pembangunan nasional.
"Mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat, termasuk dalam upaya mengurangi kesenjangan ekonomi," kata Supratman saat membuka Kongres XIII Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) yang dipusatkan di halaman Kantor Bupati Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis.
Ia mengatakan, kejarlah ilmu setinggi-tingginya, tetapi entrepreneurship harus menjadi bagian dari kehidupan, karena negara maju pun mulai kembali memperkuat sektor pertanian.
"Karena itu, mari dukung pembangunan pertanian sebagai upaya menjaga ketahanan pangan bangsa," katanya.
Penyelenggaraan kongres di Kabupaten Lombok Utara ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai persatuan dan toleransi, serta mempererat kolaborasi generasi muda dalam mendukung terwujudnya Indonesia yang maju, harmonis, dan berdaya saing.
"Mari tingkatkan kolaborasi untuk kemajuan pembangunan da kesejahteraan masyarakat," katanya.
Sementara itu, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan bahwa dipilihnya Kabupaten Lombok Utara sebagai lokasi penyelenggaraan kongres merupakan cerminan tingginya nilai toleransi yang hidup di tengah masyarakat.
"NTB, khususnya Lombok Utara, menjadi contoh harmonisasi kehidupan antar umat beragama yang telah terbangun sejak lama," katanya
Ia mengatakan pemilihan Lombok Utara sebagai lokasi kongres ini merupakan pilihan yang sangat tepat. Daerah ini menjadi contoh nyata kehidupan masyarakat yang hidup rukun dalam keberagaman.
"Di NTB terdapat Islam, Hindu, Buddha, dan Kristen yang tumbuh berdampingan. Kita tidak pernah memandang perbedaan sebagai pemisah, melainkan sebagai kekuatan untuk membangun daerah dan bangsa," katanya.
Masyarakat Sasak di Pulau Lombok memiliki sejarah panjang dalam menjaga nilai-nilai toleransi. Masyarakat Sasak tidak hanya beragama Islam, tetapi juga terdapat komunitas sasak yang memeluk agama Hindu maupun Buddha yang telah hidup berdampingan selama berabad-abad, terutama di wilayah Lombok Utara.
"Saya bangga, memilih NTB sebagai tempat penyelenggaraan kongres. Ini menjadi bukti bahwa semangat persatuan dan cita-cita para pendiri bangsa untuk membangun kehidupan antar umat beragama yang setara, damai, dan saling menghormati terus terjaga hingga hari ini," katanya.





