Motif Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya Terungkap, Diculik Suruhan sang Ibu yang Tak Setujui Hubungan dengan Pacarnya
Puput Akad Ningtyas Pratiwi August 01, 2026 01:34 PM

Grid.ID – Teka-teka mengenai dalang dan motif penculikan atlet golf Jesslyn Wijaya akhirnya diungkap polisi. Benarkah ada andil sang ibu yang taksetujuhubungan Jesslyn dengan pacarnya?

Ungkap motif penculikan atlet golf tersebut, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra, menyebut lima pria berbadan besar yang menjemput paksa Jesslyn Wijaya ternyata merupakan orang suruhan dari ibu kandungnya sendiri.

"Iya, itu dari hasil (penyelidikan) orang-orang yang disuruh ibunya," ucap Roby saat dikonfirmasi melalui panggilan telepon, dikutip dari Kompas.com pada Jumat (31/7/2026).

Lima orang itu mengeksekusi penjemputan paksa Jesslyn Wijaya di Restoran Saung Kita, Mangga Besar pada 13 Juli 2026. Setelah itu, lima orang tersebut membawa Jesslyn ke Bandara Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, untuk diterbangkan ke luar negeri.

"Iya, kurang lebih seperti itu, dia mengantar sampai ke Semarang lalu terbang ke Malaysia," kata Roby.

Akan tetapi, saat ditanya apakah sang ibu turut menunggu langsung di bandara bersama kelima orang suruhan tersebut untuk membawa Jesslyn terbang, Roby enggan merinci lebih jauh karena proses penyelidikan masih berjalan.

Meskipun membenarkan Jesslyn dibawa oleh orang suruhan dan kini berada di luar negeri bersama keluarganya, polisi belum bisa menetapkan insiden ini merupakan tindak pidana penculikan atau tidak. Roby menjelaskan, status kasus ini masih dalam tahap penyelidikan dan belum dinaikkan ke tahap penyidikan.

"Belum bisa kami putuskan, makanya namanya penyelidikan. Kalau sudah ada unsur pidananya namanya penyidikan," tutur Roby.

Ia mengatakan, penentuan ada tidaknya unsur pidana dalam peristiwa tersebut sangat bergantung pada kesaksian langsung dari korban. Polisi perlu memastikan apakah Jesslyn dibawa dalam keadaan terpaksa dan merasa keberatan, atau justru sebaliknya.

"Belum, makanya masih penyelidikan karena masih dugaan. Tergantung Jesslyn-nya ini keberatan atau tidak dibawa ke sana. Tergantung dari keterangan Jesslyn, kita harus dapat keterangan dulu," ujar Roby.

Sementara, untuk mendapatkan keterangan yang dibutuhkan, penyidik Satreskrim Polres Metro Jakarta Pusat masih terus berupaya membuka jalur komunikasi. Roby memastikan bahwa Jesslyn saat ini masih terlacak berada di Bangkok, Thailand, dan telah menerima sebuah video.

"Masih, masih (di Bangkok). Kita sudah dikirimi video Jesslyn, video dia testimoni. Nanti kita akan coba bicara melalui video call atau Zoom untuk bisa berkomunikasi dengan Jesslyn di luar negeri," tutur Roby.

Polisi menduga motif penculikan atlet golf Jesslyn Wijaya itu dipicu penolakan keluarga terhadap hubungan asmara dengan calon suaminya, Evan. Akibatnya, Jesslyn diduga dibawa ke luar negeri agar tidak dapat melangsungkan pernikahan.

"Ya, dugaan sementara karena ada masalah internal keluarga, ketidaksetujuan atas hubungan Jesslyn dengan pacarnya," ujar Roby.

Pernyataan polisi ini senada dengan pengakuan calon suami Jesslyn, Evan, yang menyebut persiapan pernikahan mereka sejatinya sudah hampir rampung dan akan dilaksanakan. Namun, ia enggan mengungkap waktu pastinya.

"Saya sebagai calon suaminya Jesslyn dan seharusnya memang kami melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat, kami sudah membeli gaun dan mendaftarkan pernikahan ke gereja," ucap Evan dikutip dari Surya.co.id pada Sabtu (1/8/2026).

Konflik Jesslyn dengan ibunya ternyata bukan baru terjadi kali ini. Evan mengungkapkan, pada April hingga Oktober 2025, Jesslyn pernah diisolasi di rumah ibunya sehingga tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun.

"Jadi laporan itu waktu Jesslyn ada di rumah ibunya. Handphone-nya dirampas, laptopnya disita oleh ibunya, sehingga Jesslyn tidak punya alat komunikasi apa pun untuk berhubungan dengan saya ataupun dengan teman-temannya. iPad juga dirampas, kemudian Jesslyn tidak boleh keluar sendiri tanpa didampingi oleh ibunya," jelas Evan di Kantor Komnas Perempuan, Jumat.

Menurut Evan, tekanan tersebut membuat Jesslyn kehilangan pekerjaan dan mengalami tekanan psikologis berat.

"Sehingga dia depresi sekali dan sudah tiga kali melakukan percobaan bunuh diri karena sudah tidak kuat dengan perlakuan ibunya. Sehingga Jesslyn memutuskan untuk keluar dari rumah dan hidup mandiri (pada Oktober 2025)," tutur Evan.

Pada saat itu, Jesslyn didampingi Evan dan kuasa hukumnya melaporkan dugaan kekerasan yang dialaminya ke Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DKI Jakarta serta Komnas Perempuan. Namun, menurut Evan, laporan tersebut tidak berlanjut dan Jesslyn hanya memperoleh layanan konsultasi psikologis.

"Saya hanya memperjuangkan hak asasi manusia atas Jesslyn, dan hak Jesslyn sebagai perempuan dewasa yang sudah berumur 32 tahun, agar Jesslyn ini bisa hidup seperti layaknya manusia normal, manusia dewasa hidup di negara Indonesia," harap Evan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.