Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ular yang diam melingkar atau kucing yang tampak akrab dengan pemiliknya sering membuat orang menganggap hewan peliharaan sudah benar-benar jinak.
Humas Komunitas Reptil Bandung, Abhilawa Tri Nur Fil-Ardh atau yang akrab disapa Opay,
mengingatkan masyarakat agar tidak terlena dengan anggapan bahwa hewan peliharaan akan menjadi jinak sepenuhnya.
"Mindset yang ingin kami sampaikan adalah tidak ada hewan yang benar-benar jinak. Semua hewan bisa terbiasa dengan manusia, tetapi insting alaminya tetap ada," kata Opay, saat ditemui Tribun Jabar, Sabtu (1/8/2026).
Menurut dia, anggapan bahwa hewan peliharaan sudah sepenuhnya jinak justru dapat membuat pemilik lengah.
Baik ular, iguana, maupun satwa lainnya tetap dapat bereaksi ketika merasa terancam.
Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya melihat perilaku hewan yang tampak tenang, tetapi juga memahami karakter dan kebiasaan setiap spesies sebelum memutuskan untuk memeliharanya.
"Kalau mau memelihara reptil, pelajari dulu hewannya, pahami dulu karakternya. Setelah benar-benar paham, baru dipelihara," ujarnya.
Opay mengaku belajar dari pengalaman pribadinya. Saat pertama kali memelihara reptil, warga asal Kopo ini hanya berbekal rasa penasaran tanpa mempelajari cara perawatan yang benar.
Akibatnya, reptil yang dipeliharanya tidak mendapatkan penanganan yang maksimal hingga akhirnya mati.
"Saya dulu langsung pelihara, tidak belajar dulu. Akhirnya banyak masalah, cara merawatnya tidak maksimal dan akhirnya mati. Pengalaman itu yang membuat saya sekarang selalu mengajak orang belajar dulu sebelum memelihara," katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut masih sering terjadi. Banyak orang membeli reptil karena sedang penasaran atau mengikuti tren di media sosial. Namun ketika merasa bosan, hewan tersebut dijual kembali atau bahkan ditelantarkan.
"Nanti kalau cuma penasaran, setelah dipelihara merasa biasa saja, akhirnya dijual atau dibuang. Itu yang kami ingin kurangi," ujarnya.
Karena itu, Komunitas Reptil Bandung membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin mengenal reptil lebih dulu tanpa harus langsung memiliki hewan tersebut.
Opay mengatakan di dalam komunitas terdapat anggota yang memiliki keahlian pada berbagai jenis reptil. Ada yang mendalami ular kobra, ular berbisa penghuni pepohonan, ular tanah hingga sanca batik.
Sementara dirinya memilih fokus mempelajari sanca batik atau reticulated python. Menurutnya, memelihara reptil bukan hanya soal memberi makan, tetapi juga memahami berbagai fase kehidupan satwa tersebut.
"Kita belajar cara menangani kalau sakit, cara makan, sampai proses ganti kulit. Jadi memang terus belajar," katanya.
Selain memberikan edukasi mengenai perawatan, pihaknya juga berupaya meluruskan sejumlah informasi yang masih keliru di masyarakat.
Salah satunya mengenai praktik memotong taring atau mengeluarkan bisa ular agar dianggap aman saat digunakan untuk atraksi.
Menurut Opay, tindakan tersebut justru dapat membahayakan satwa karena menimbulkan stres yang berat.
"Kalau bagian tubuh ular dipotong, seperti taringnya atau bisanya dikeluarkan, itu bisa membuat ular stres. Bahkan ada yang mati beberapa jam atau beberapa hari setelahnya," ujarnya.
Ia menjelaskan, bagi ular, kemampuan menggigit maupun melilit merupakan bagian dari mekanisme bertahan hidup. Ketika salah satunya dihilangkan, ular kehilangan cara alami untuk mempertahankan diri.
"Kalau ular berbisa, pertahanannya ada di gigitan. Kalau jenis sanca, pertahanannya di lilitan. Ketika itu dihilangkan, hewan bisa mengalami stres," katanya.
Komunitas Reptil Bandung juga berupaya meluruskan pemahaman masyarakat mengenai penyebutan jenis ular.
Selama ini banyak orang menyebut semua ular yang ditemukan di area persawahan sebagai "ular sawah".
Padahal, menurut Opay, istilah tersebut hanya merujuk pada lokasi ditemukannya ular, bukan spesiesnya.
"Sanca batik bisa ditemukan di sawah, kobra juga bisa, sawo kopi juga bisa. Orang sering menyebut semuanya ular sawah, padahal jenisnya berbeda-beda," ujarnya.
Berbagai pengetahuan itu rutin dibagikan dalam kegiatan edukasi komunitas. Setelah sesi pengenalan materi selesai, peserta diajak berinteraksi langsung dengan reptil yang memang sudah terbiasa berada di dekat manusia.
Menurut Opay, hewan yang dibawa bukan dipilih karena paling jinak, melainkan karena memiliki karakter yang lebih tenang sehingga cocok digunakan untuk edukasi, terutama bagi anak-anak.
"Anak-anak biasanya takut karena gerakan reptil yang tiba-tiba. Makanya kami membawa ular, iguana atau kadal yang lebih banyak diam. Mereka memang sudah terbiasa ikut kegiatan edukasi," katanya.
Saat ini Komunitas Reptil Bandung juga membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin bergabung. Tidak ada syarat harus memiliki reptil.
Masyarakat yang tertarik cukup mengikuti kegiatan gathering yang diumumkan melalui akun Instagram komunitas, kemudian datang dan belajar bersama. (*)