TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Musim kemarau yang berkepanjangan tidak selalu membawa dampak buruk bagi sekelompok masyarakat.
Di tengah ancaman kekeringan yang mulai dirasakan sektor pertanian, para perajin batu bata di Kabupaten Pangandaran malah menikmati peningkatan produktivitas berkat proses pengeringan yang berlangsung lebih cepat.
Kondisi tersebut terlihat di kawasan Jalan Tobong Batu, Dusun Neglasari, Desa Paledah, Kecamatan Padaherang.
Sejumlah pekerja tampak sibuk mengoperasikan mesin pencetak batu bata, sementara ribuan batu bata hasil produksi disusun rapi untuk menjalani proses pengeringan sebelum dibakar.
Seorang perajin batu bata, Cahwan, mengatakan musim kemarau merupakan periode paling ideal untuk menjalankan usaha karena panas matahari mempercepat proses penguapan kadar air pada batu bata.
"Kalau musim hujan proses pengeringan bisa sampai 15 sampai 20 hari. Sekarang musim kemarau sekitar 10 hari sudah kering," ujar Cahwan kepada sejumlah wartawan saat ditemui di lokasi produksi, Sabtu (1/8/2026) sore.
Menurutnya, waktu pengeringan yang lebih singkat membuat siklus produksi menjadi lebih efisien. Batu bata yang sudah kering dapat segera dibakar dan dipasarkan sehingga tidak terlalu lama menumpuk di area penyimpanan.
"Kalau hujan lama keringnya, jadi barang menumpuk. Sekarang lebih cepat jadi, lebih cepat juga bisa dijual," katanya.
Dalam kondisi normal, Cahwan bersama tiga orang pekerjanya mampu memproduksi sekitar 5.000 batu bata setiap dua hari sekali.
Sebelum dicetak, bahan baku tanah terlebih dahulu dikumpulkan selama satu hari, kemudian diolah menjadi adonan, dipres menggunakan mesin, dicetak sesuai ukuran, lalu disusun untuk proses pengeringan.
Tahapan pengeringan menjadi satu faktor penentu kualitas batu bata. Batu bata hasil cetakan disusun maksimal 15 lapis agar tetap memperoleh sirkulasi udara dan paparan sinar matahari secara merata.
Pada musim kemarau, proses tersebut hanya memerlukan waktu sekitar 10 hari, sedangkan saat musim hujan dapat mencapai hampir tiga pekan.
Peningkatan produktivitas tersebut turut mendorong penjualan. Batu bata hasil produksi Cahwan tidak hanya dipasarkan di wilayah Pangandaran, tapi juga dikirim ke sejumlah daerah di Jawa Tengah yang menjadi pasar tetap usahanya.
Namun, di balik keuntungan yang diperoleh dari cuaca cerah, para perajin masih menghadapi kendala lain, yakni sulitnya mendapatkan bahan baku tanah liat.
Kondisi tanah yang mengering membuat proses penggalian menjadi jauh lebih berat.
"Kalau kemarau tanahnya keras. Nyangkulnya berat, apalagi di tebing. Biasanya harus dibantu alat seperti garpu supaya tanahnya bisa lepas," ucap Cahwan.
Memang, penggunaan ekskavator sebenarnya menjadi solusi paling efektif untuk mempercepat penggalian bahan baku.
Namun, biaya sewa alat berat tersebut masih terlalu mahal bagi sebagian besar perajin batu bata skala kecil.
Biaya sewa ekskavator mencapai sekitar Rp 650 ribu per jam. Durasi pengerjaan di satu lokasi dapat berlangsung antara tiga hingga sepuluh jam, tergantung luas area yang digali.
"Kalau satu jam saja sebenarnya bahan bakunya bisa dipakai sampai tiga bulan. Kalau lima jam bisa cukup untuk produksi sekitar satu tahun. Tapi modal sewanya besar. Kalau sepuluh jam bisa sekitar Rp 7 juta, itu baru biaya alat dan operatornya," ujarnya.