WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, terus melanjutkan safari silaturahmi ke berbagai daerah. Kegiatan tersebut, menurutnya, merupakan bentuk pelaksanaan amanah dari guru sekaligus sesepuh NU, KH Nurul Huda Djazuli.
Hal itu disampaikan Gus Salam saat menghadiri silaturahmi bersama jajaran PWNU dan PCNU se-Nusa Tenggara Barat (NTB) di Hotel Illira, Lombok Tengah. Di hadapan para pengurus NU, ia menegaskan bahwa ikhtiar yang dijalankannya menjelang muktamar bukan dilandasi kepentingan pribadi, melainkan sebagai bentuk kepatuhan terhadap arahan sang guru.
KH Nurul Huda Djazuli atau Mbah Yai Da' merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, sekaligus salah satu sesepuh NU.
Pada periode 2021-2026, ia menjabat sebagai Mustasyar PBNU dan dikenal berperan dalam proses ishlah atau rekonsiliasi berbagai dinamika internal PBNU, termasuk yang melibatkan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Tebuireng Jombang, dan Lirboyo Kediri pada akhir 2025.
“Masa kamu membiarkan NU konflik seperti ini. Saya (Mbah Yai Da’) prihatin, maka kamu harus ikhtiar di muktamar untuk jadi pemimpin di NU,” ujar Gus Salam menirukan dawuh sang gurunya, dikutip, Minggu (2/8/2026).
“Karenanya, saya adalah santri, sendiko dawuh mengikuti arahan, perintah dan nasehat guru-kyai serta masyayikh NU dan pesantren. Ketika saya diperintah untuk ikhtiar menjadi Ketua Umum PBNU melalui muktamar ke35, nanti, saya tetap sam’an wa tho’atan,” sambung Gus Salam.
Baca juga: Siswi SMP asal Depok Tampil di IFW 2026, Bidik Panggung Internasional
Ia mengungkapkan, rangkaian safari silaturahmi yang dijalankannya hingga kini telah menjangkau 27 provinsi.
Selain mempererat hubungan dengan warga NU, kunjungan tersebut juga dimanfaatkan untuk berdialog, menyerap aspirasi, serta membangun kepercayaan bersama jajaran PWNU, PCNU, fungsionaris, dan para tokoh NU di berbagai daerah.
Menurut Gus Salam, apabila nantinya mendapat amanah memimpin PBNU, ia tidak ingin diposisikan sebagai seorang pemimpin, melainkan sebagai santri yang mengabdi dan melayani organisasi.
Baginya, teladan kepemimpinan NU tetap merujuk kepada para pendiri dan ulama terdahulu seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, serta para masyayikh NU lainnya.
“Kesimpulannya, karena ini dawuhnya kiyai, kita berusaha semaksimal mungkin,” ungkapnya pada silaturrohim yang di hadiri wakil Rais PWNU NTB, TGH. Munajib Khalil dan PCNU se-NTB di Aula Mandalika hotel Illira Lombok Tengah.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Salam juga menyoroti pentingnya penguatan peran NU sesuai potensi daerah. Di NTB, menurutnya, sektor pariwisata memiliki peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi warga NU.
“NU harus mendorong, bahkan memfasilitasi keberdayaan ekonomi warga NU di sektor pariwisata. Wisata halal tentunya, namun berkualitas dan inklusif. Karena potensi ekonomi pariwisata di NTB sangat besar,” ujar Gus Salam.
Ia menilai kemandirian ekonomi umat menjadi bagian penting dalam menjaga tegaknya ajaran agama. Karena itu, jam'iyah Nahdlatul Ulama harus mampu mendorong umat agar mandiri secara ekonomi sehingga dapat menopang berbagai upaya memperkuat kehidupan beragama.
Sementara itu, Wakil Katib PWNU Jawa Timur periode 2018-2023, KH Syamsuddin, menyebut Gus Salam secara konsisten membawa visi dan misi yang sejalan dengan arahan para masyayikh dan sesepuh NU, yakni mengembalikan jati diri NU sebagai organisasi yang berlandaskan semangat perjuangan, tradisi pesantren, dan pengabdian bagi kesejahteraan umat.
Menurutnya, semangat tersebut diwujudkan melalui penguatan pendidikan keagamaan, pembinaan akhlak, persaudaraan, pemberdayaan ekonomi umat, hingga menyiapkan generasi NU yang mampu menghadapi tantangan zaman.
Sebelum menghadiri pertemuan bersama jajaran PWNU dan PCNU se-NTB, Gus Salam bersama sejumlah kiai juga bersilaturahmi dengan sesepuh NU Lombok, TGH Ma'arif Makmun Diranse.
Dalam pertemuan itu, TGH Ma'arif berpesan agar para pengurus NU menjadikan organisasi sebagai tempat mengabdi, bukan sebagai sarana mencari penghidupan. (m27)